Bercakap tentang Baobab
Sering kali
Dari dalam diri
Mencuat sesi monolog-dialogis
Ketika tajam rindu mulai mengiris
Kadang kugenggam tangkai curiga
Yang kupetik dari ranting kecemasanku sendiri
Atau kadang kubayangkan kita bercakap
Tentang azab yang menimpa pohon baobab
Aku bahkan sudah tertawa
Di hadapanmu yang imajiner
Saat bercerita kejengkelan dewa-dewa
Terhadap baobab yang tak berpuas diri
Sehingga ia dicabut dan ditanam terbalik
Pada tanah Afrika yang kuyakini
Mengering-gersangkan kesombongannya
Tak lupa kuceritakan pula
Pengalamanku di Hutan Raya
Masih di hadapanmu yang imajiner
Saat aku melihat baobab dari kejauhan
Namun, tak kudekati ia barang sejengkal
Yang kemudian kusesalkan
Ah, jangan mengira pikiranku sakit
Kau tahu kau adalah
Emotional contagion, human medicine
Begitulah kau bagiku …
Selalu bagiku …
(K, 11 November 2024)
–
Renungan Dua Lima
Seperempat abad usia
Hanya aku dan punggungku yang tua
Kelakar dalam kepala
Kapan cinta tidak sekadar kata-kata?
Lingkaran makin mengerdil
Hanya aku dan pikiran yang menggigil
Kemelut di dalam diri
Kapan cinta tidak sekadar imaji?
Seperempat abad usia
Lingkaran makin mengerdil
Bagaimana bisa kutuntut cinta wujud nyata?
Sedang terhadap diri, aku masih belajar adil
(K, 2024-2025)
–
Pertanda
Ketika di media sosial
Sebuah tren baru viral
“Jika dia bukan jodohku, Tuhan,
tunjukkanlah ini, tunjukkanlah itu …”
Aku pun tergoda, ingin mencoba
Di gerbong kereta siang
Aku membatin pelan
“Jika dia jodohku, Tuhan,
semoga bisa kulihat ia berkemeja biru,
warna yang setidaknya persis sama dengan
warna pakaian yang akan kukenakan
saat lusa kami akan bertemu”
Di luar kereta
Tampak dari jendela
Seekor burung berwarna biru
Warnanya nyaris persis sama
dengan warna pakaian
yang aku ingin seseorang kenakan
Dan tiba-tiba aku tersipu sekaligus terkesan
Tetapi, kemudian ingat: itu burung
Yang kulihat hanya warna biru pada burung
Yang hinggap pada dahan pepohonan
Bukan warna pakaian yang kuharap
dikenakan seseorang
Tapi, tapi, bisakah ini menjadi pertanda kecil, Tuhan?
Karena aku sendiri masih sulit percaya
Ada burung dengan warna sedemikian biru
Biru yang nyaris persis sama
Dengan warna pakaianku
(K, 2024-2026)
–
Koper dan Pelaminan
Aku kondangan
Ke perkawinan seorang kawan
Sedang kusantap kudapan
Ketika koper digeret melintas depan pelaminan
Sandang hidup milik pengantin perempuan
Berpindah kediaman
(K, 08 Maret 2025)
–
Sebelum Hari dan Tanggal Baik Ditetapkan
perempuan harus mengukur lingkar pinggang,
mengurangi porsi makan, meneguk jejamuan,
makin rutin perawatan, bahkan kadang masih
pula dipertanyakan: apakah masih perawan?
jikalau boleh bertanya pada lelaki tanpa harus
muluk-muluk dan basa-basi: apakah lelaki juga
diuji kekuatan tulang punggungnya dan dengan
cara apa perempuan bisa percaya ia akan setia?
(K, 25 Agustus 2025)
–
Ikanku Berbentuk Bulan
lempar kail
dan
tunggu
minggu
demi
minggu
lapar
mendesis
terdengar lirih
jerit lambungku
kabar tetiba datang
kailku disambar ikan
ikan yang besar
namanya dikenal orang
girang menerjang
hatiku berlari-lari
ikanku berbentuk bulan
bukan bulan di langit
tapi bulan akhir tahun
yang suka berbasah-basah itu
kepalanya, tidak bisa kugigit
renyah kriuknya ternyata bukan untukku
tubuhnya, tidak bisa kucuil
empuk dagingnya masih bukan untukku
ekornya yang seperti keripik
penghujung santapan—yang anehnya kusukai—baru milikku
aku menggelepar
kekenyangan
dari ufuk rasa puas
angan-anganku terbit melintasi langit
kuharap kabar ikanku tersebar
hingga kekasihku di kota yang jauh turut mendengar
meski …
meski ini …
sama sekali bukan tentang ikan
ikan yang berbentuk bulan
(K, 2024-2025)
–
