Eksistensi bersifat opsional

Seorang Perempuan Menarik Bayang dan Puisi Lainnya

Sofia Mahdi

1 min read

Kamarku — Menghadap Taman

kamarku menghadap taman
pagi hari cahaya masuk
lebih dulu daripada orang rumah

ibuku bilang itu baik
tanaman perlu dilihat
agar tak tumbuh sembarangan

di dinding ada poster perempuan
dengan perut rata
kutempel miring
supaya setiap bangun tidur
ia tampak seperti mau jatuh

ranjang tak pernah kupindah jauh
hanya kugeser sejengkal
waktu seprai terlalu rapi
untuk tubuh yang gelisah

jika aku menangis
jendela tetap kubiarkan terbuka
siapa tahu bau tanah basah
lebih dulu mengering
daripada suaraku

Seorang Perempuan Menarik Bayang

seorang perempuan
menarik bayang
dari jubah nenek yang lusuh
dan luka-luka lama
yang tak bisa disembuhkan
oleh senyum ibu

perempuan itu menimbang waktu
dari deru hujan
yang tak pernah ditunggu

ayah menutup pintu
dengan suara serendah debu

perempuan menakar hidup
dari sisa-sisa janji yang gugur

trauma melompat
dari tubuh ke tubuh
menarik namanya
di atas dunia
yang tak menyediakan tanah
untuk pijakan pertama

Pulang Bisa Jadi Bentuk Takdir

setiap aku pulang dari kota lain
kakakku menatapku
dengan senyum yang tertahan
di ujungnya

aku turun dari bus
membawa koper kecil

ruang tamu sudah lebih dulu menungguku
dengan sisa-sisa
yang tak pernah berangkat

kata selamat datang
melintas, lalu terjatuh
di sela pintu dan lantai

pintu tetap terbuka
tapi tidak benar-benar memberi jalan

sementara aku masih berdiri
di antara datang
dan tiba

Timeline

semua orang berteriak
dengan huruf kapital

kebenaran dipotong
menjadi ukuran
yang muat di saku

kami membagikan ketakutan
lebih cepat
daripada membagikan roti

dan setiap hari
aku merasa sedikit lebih kecil
di antara
opini yang tak habis

Manual Menjadi Realistis

Selamat datang
di kelas lanjutan bernama Realitas

di sini kami belajar
bahwa janji hanyalah konsep awal
yang fleksibel seperti kertas basah

bahwa keberpihakan adalah barang musiman
bahwa sejarah bisa diedit
selama grafik ekonomi tetap naik

langkah pertama:
ganti kata “solidaritas”
dengan “kepentingan strategis”
dan simpan solidaritas di rak berdebu

langkah kedua:
sebut kritik
sebagai ketidakdewasaan
dan lihat senyum ironis di cermin

langkah ketiga:
tersenyumlah di depan kamera
katakan: ini demi bangsa
rasakan setiap gerakan sebagai beban nyata

jika nurani terasa berat
ulang mantra:
politik tidak sesederhana itu
rasakan setiap idealisme
menjadi arsip di lemari masa lalu

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sofia Mahdi
Sofia Mahdi Eksistensi bersifat opsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email