Radang Serviks: Mendengar Tubuh Perempuan di Tengah Minimnya Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

Riska Widiyanti

3 min read

Tulisan ini berangkat dari pengalamanku mengidap radang serviks atau servisitis. Menurut World Health Organization (WHO), serviks adalah bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina, sementara radang serviks merupakan kondisi peradangan pada bagian tersebut yang umumnya disebabkan oleh infeksi. Bagiku, hal ini bukan persoalan diagnosis medis yang sederhana. Di balik diagnosis itu, sebelumnya aku bahkan belum benar-benar memahami apa itu serviks, di mana posisinya, dan seperti apa fungsinya. Bagiku, kebingungan ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan dari minimnya pendidikan kesehatan reproduksi yang selama ini aku terima.

Seorang perempuan yang mengidap radang serviks umumnya merasakan perubahan pada tubuhnya: nyeri di area panggul, keputihan yang tidak biasa, hingga perdarahan di luar siklus menstruasi. Respons awal yang muncul sering kali bukan hanya takut, melainkan keraguan terhadap diri sendiri. Rasa ragu ini muncul dari kesadaran bahwa ternyata selama ini pengetahuanku tentang tubuhku sangat terbatas. Serviks sebagai bagian penting dari organ reproduksi jarang dibicarakan secara terbuka, baik dalam pendidikan formal maupun dalam ruang sosial sehari-hari. Minimnya pendidikan kesehatan reproduksi membuat aku dan banyak perempuan tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengenali tanda-tanda gangguan organ reproduksi sejak dini.

Selama ini, kondisi seperti keputihan atau infeksi pada organ reproduksi masih sering dikaitkan dengan kebersihan pribadi atau perilaku seksual individu. Cara pandang ini menyederhanakan persoalan sekaligus membebankan stigma pada perempuan. Akibatnya, perempuan yang mengalami radang serviks tidak hanya berhadapan dengan rasa sakit fisik, tetapi juga tekanan sosial yang membuat mereka merasa malu untuk mendiskusikannya secara terbuka.

Baca juga:

Maka, dalam konteks ini menjadi penting bagiku untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana menghadapi persoalan kesehatan reproduksi yang kompleks. Minimnya pendidikan kesehatan reproduksi bukan hanya mencerminkan ketimpangan distribusi pengetahuan, tetapi juga memengaruhi peluang perempuan untuk mengakses hak atas kesehatan reproduksinya.

Di dalam institusi pendidikan formal, informasi tentang tubuh perempuan dan pendidikan seks tidak diberikan secara bertahap, utuh, dan komprehensif. Pendidikan seks yang aku terima di sekolah hanya terbatas pada aspek biologis yang kaku, tanpa ruang untuk memahami pengalaman tubuh secara lebih luas—termasuk bagaimana mengenali gejala dan menyuarakan kebutuhan kesehatan. Kondisi ini membuat perempuan rentan berada dalam posisi yang kurang berdaya dalam mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri.

Di tengah ketakutan dan keterbatasan pengetahuanku, muncul dorongan untuk mulai berani belajar. Diagnosis dokter menjadi titik balik  bukan hanya sebagai penjelasan medis, tetapi sebagai pemicu untuk merebut kembali pemahaman atas tubuhku. Tentu, proses ini tidak sederhana, menguras tenaga dan emosi demi memunculkan keberanian untuk menjalani serangkaian pemeriksaan, operasi dan pengobatan.

Dalam proses tersebut, dokter juga memperkenalkan vaksin HPV—sebuah istilah yang terasa sama asingnya dengan “serviks” yang sebelumnya pun belum benar-benar kupahami. Pengalaman ini kemudian mendorongku untuk membuka percakapan dengan beberapa teman perempuan. Dari sana aku menyadari bahwa ketidaktahuanku bukan pengalaman yang tunggal. Banyak perempuan di sekitarku juga belum benar-benar memahami cara kerja tubuhnya sendiri, apalagi mengetahui cara melindunginya. Bagaimana mungkin hal ini menjadi situasi sosial yang dianggap normal?

Padahal, menurut dokter, vaksin HPV merupakan salah satu bentuk perlindungan dini yang seharusnya menjadi pengetahuan dasar bagi semua orang, baik perempuan maupun laki-laki. Centers for Disease Control and Prevention mencatat bahwa sekitar 85% laki-laki dan perempuan berisiko terinfeksi HPV setidaknya sekali dalam hidup mereka. Artinya, HPV adalah infeksi yang sangat umum. Namun dampaknya tidak dirasakan secara setara. Perempuan menghadapi risiko yang lebih besar karena infeksi HPV dapat menyebabkan perubahan sel pada serviks yang berpotensi berkembang menjadi kanker serviks jika tidak terdeteksi sejak dini. WHO juga menegaskan bahwa sebagian besar beban penyakit akibat HPV ditanggung oleh perempuan, terutama dalam bentuk kanker serviks yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di banyak negara berkembang.

Sayangnya, pendekatan preventif ini justru belum menjadi pengetahuan yang merata. Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi seharusnya hadir sebagai fondasi, bukan sebagai informasi tambahan yang datang terlambat setelah seseorang mengalami gangguan kesehatan.

Situasi ini menegaskan bahwa minimnya pendidikan kesehatan reproduksi bukan persoalan sepele. Dampaknya langsung pada cara perempuan memahami tubuhnya, mengambil keputusan, dan mengakses perlindungan yang menjadi haknya. Tanpa pengetahuan yang memadai, tubuh perempuan terus ditempatkan dalam posisi reaktif, hanya menunggu sakit untuk kemudian ditangani.

Oleh karena itu, pendekatan terhadap kesehatan reproduksi perlu bergeser menjadi lebih holistik dan inklusif. Perempuan perlu didukung untuk lebih mengenali tubuhnya, memahami perubahan yang terjadi, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan keluhan tanpa rasa takut atau malu.

Dari apa yang aku alami, aku mulai memahami bahwa kepemilikan dan pengetahuan atas tubuh perempuan selama ini tidak datang dengan mudah. Harus berani dipelajari, dicari, bahkan diperjuangkan.Terlebih di negara yang masih timpang dan minim pendidikan kesehatan reproduksi seperti Indonesia. Apa yang dialami oleh satu perempuan sering kali mencerminkan pengalaman kolektif yang lebih luas, yang selama ini tidak terlihat dan jarang dibicarakan. Karena itu, membuka ruang percakapan tentang kesehatan reproduksi dari sudut pandang pengalaman perempuan menjadi langkah penting untuk memperluas pengetahuan.

Baca juga:

Selama pendidikan seks dan kesehatan reproduksi tidak diberikan secara utuh, perempuan akan terus belajar memahami tubuhnya hanya melalui rasa sakit. Maka, kesehatan reproduksi tidak dapat lagi dipandang semata sebagai isu medis, melainkan sebagai bagian dari perjuangan keadilan gender yang mendesak.

Akses terhadap pengetahuan yang utuh dan akurat perlu diberikan sejak dini dan merupakan hak bagi setiap individu. Ketika informasi tentang tubuh terbatas dan disederhanakan, yang terjadi bukan hanya persoalan ketidaktahuan, tetapi juga ketimpangan kuasa atas tubuh itu sendiri. Oleh karena itu, memperjuangkan kesehatan reproduksi berarti juga memperjuangkan hak untuk memahami, merawat, dan mengambil alih keputusan atas tubuh kita sendiri. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Riska Widiyanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email