Anjing Itu Bernama Cinta dan Puisi Lainnya

Malza Nurzaini

2 min read

Anjing Itu Bernama Cinta

Aku ingin menyudahi kemampuan
memilin-milin kesunyian
menjadi kata-kata.

kau tahu?
kemampuan yang demikian sia-sia
& tak berguna ini,
membawaku pada sebuah ngarai.

sejak aku meninggalkanmu,
kata-kata serupa iblis
yang menggodaku untuk mencumbuinya,
menjebloskanku
ke jurang-jurang tak berujung pangkal.

dan kulihat tawamu bunga anyelir
melambung tinggi sampai ke langit,
menampakkan kegembiraan yang syahdu—
menghempaskanku pada
kebolehjadian yang agak ngeri.

kulihat matamu yang keemasan
mengingatkanku pada kepelikan angan-angan
yang hanya angin lalu,
& rindu-rindu yang takmau lagi kau tengok
barang sebentar.

sedang aku ingin merindukanmu
lebih legit.
lebih meledak-ledak.
lebih sinting.

tak peduli seberapa genting
& kacau-balaunya kita.
aku ingin terus merindukanmu,
seperti Pablo Neruda
merindukan anjingnya yang mati.

O kepolosan terakhir itu
yang memancar-mancar dari matamu
tidur di tenggorokanku.
memporak-porandakan segala
lambung. ginjal. paru.
hingga ke tulang ekor.

dan burung-burung beterbangan di dadaku
mengerubungi anjing dari neraka
yang kau tinggalkan di dalam diriku.

O anjing-anjing itu
meneriakan namamu.
namamu.

Kau Tak Akan Memercayainya

kita masih saling berbicara
tanpa melibatkan kata-kata.
& kau menangkap
basah puisi-puisiku,
kau lah desainer kemurungan
yang kupahat jadi puisi.
kuukir setiap sudutnya,
mewarnainya menjadi imajinasi,
harapan, & keputusasaan.

kita masih berpelukan
tanpa tanganmu melingkar di tubuhku
kebodohan pun tahu, pipimu buah delima
tanpa ulat bulu. tatapan malu itu
menyembunyikan sesuatu
tentang petang berwarna jingga,
kebiru-biruan, lalu abu-abu.
warna kemurungan mengelilingi
percikan kita yang pernah tak tertandingi.

kita masih jatuh
tanpa kecemasanku
& kecemasanmu sebagai penopangnya.
aku tahu, kau punya cukup nyali
untuk menerjang segala batas
kesedihan & gelak tawa. kau tahu,
duniaku perlu sedikit kesintinganmu.
barangkali aku akan pikun,
& kau juga.
lalu kita bahagia.

kita masih saling
tanpa upaya genting
yang takperlu
hey, lihat, ada sedikit keceriaan
menampar wajahku
aku meninggalkanmu &
aku mencintaimu.
kau tak akan memercayainya.

Orang-Orang Membenci Terakhir Kali

orang-orang membenci terakhir kali
tapi kulihat semua hal-ihwal
dipenuhi ketidakmungkinan
menjadi abadi.

dan hawa muram menyelimuti bumi ini,
memecut kaum fana
untuk murung lebih getol & getir—
dipaksa melihat alam
layu berguguran.

aku menerka-nerka
apa yang hendak disampaikan
hujan kepada bumi.
pohon tumbang
kepada hutan yang digunduli.
& banjir bandang
kepada para tirani.

saat tiba waktunya
aku mungkin sudah kenyang
dengan kata-kata,
& diksi adalah air yang mengalir
dari hulu ke hilir:
menyerah pada segala.

demikian pula aku
diam-diam membenci terakhir kali
dengan keyakinan setengah mampus
besok akan mati—
tanpa meninggalkan warisan & keturunan,
tanpa meninggalkan bocah riang
yang menari
dalam guyuran hujan asam.

lihat, sayangku,
segalanya sedang menuju kehancuran.
aku akan membusuk
sama seperti semua orang.

dan semua bising
akan hening;
dan semua basah
akan kering;
dan semua keruh
akan bening.

alam sekali lagi ngamuk
& aku dibikin sibuk
membayangkan keindahan alam
tanpa kehadiran makhluk—
seperti kita.

Saat Itu di Festival Musik

aku melihat diriku di dalam semua orang.
aku adalah mereka yang merasa bukan semua orang.

dan orang-orang menyanyikan kebahagiaan.
orang-orang menciptakan keindahan.
orang-orang tenggelam dalam nyeri yang legit.
orang-orang ditampar sunyi yang epik.
orang-orang melihat kesia-siaan dari kekeraskepalaannya sendiri.
orang-orang menatap langit dengan mata yang berbinar-binar.
orang-orang menyeret dirinya ke pusaran hasrat yang mabuk.
orang-orang menemukan tuhan dalam entah berapa kaleng bir.
orang-orang menjeritkan lirik pada kesialan hidupnya yang ambyar.
orang-orang menangisi lagu-lagu yang membuatnya enggan bunuh diri.

dan orang-orang dijajah
oleh lampu sorot.
oleh tarian orang mabuk.
oleh asam lambung yang putar-balik ke kerongkongan.
oleh semerbak bau anggur dari nyanyian-nyanyian putus asa.
oleh dentuman kick drum yang menghajar gema kosong di dada.

lihat,
aku menghidupi kegembiraan yang singkat
sebelum akhirnya menyisakan kosong yang lebih pekat.

kuharap Dionysius & Baudelaire benar—
sebab aku ingin mabuk,
untuk menghentikan waktu
yang tak henti-hentinya
membungkukkan punggung,
meringkihkan tubuh,
& menyeret sembarang siapa
ke ketiadaan—
menuju maut.

Menenteng Nostalgia

belakangan,
kulihat diriku sering meratapi
sepuntung rindu & sebersit nostalgia,
diselingi melankolia murahan.

buncah oleh itu kata-kata
menyergapi sekujur tubuh,
menjalar ke seluruh kulit,
sedikit tercekat di kerongkongan,
mengejawantah menjadi pertanyaan
& sesekali kesimpulan.

lihat,
bahkan aku menulis puisi pukul tiga pagi,
sungguh memalukan!

sebab puisi adalah tempat perasaan terakhir—
seperti ampas kopi yang diseduh lagi:
tempat di mana filosof enggan berpikir,
kritikus malas berkomentar,
& musisi ogah main gitar.

di sanalah tersisa puisi—
ampas dari segala kekeraskepalaan.

maukah kau memungut sisa-sisa itu
dari kata-kataku?

kau bisa memungutnya
di jalan yang merentang
antara mega kuningan
& mampang prapatan,
di sela-sela jam kerja yang bajingan,
di kantin-kantin kantor
yang dipenuhi celotehan misoginis,

atau
di mataku.

sudikah kau?

******

Editor: Moch Aldy MA

Malza Nurzaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email