Hujan Turun Sore-Sore
Mimpi menguap di atas
langit-langit
kasur, bantal & selimut tebal
tak cukup memeluk gelisah
yang bersarang di antara
tulang-tulangku.
Di luar jendela, langit sedang
menangis
Matahari sudah lama
berkemas
aku sendiri, tak mampu
berbicara & tertawa
melihat uap-uap mimpi
di udara.
–
Cirebon—Purwakarta
Hujan deras membikin
potret buram di jendela
dingin membungkus tubuh
Mobil-mobil berlari,
saling berpapasan,
tetapi tidak saling sapa
seperti orang-orang asing
di persimpangan
Kantukku datang
meminta mimpi segera
bekerja
pikiran & ingatan
tercecer di mana-mana
Bahkan selepas perjalanan
jauh dan menyenangkan
kita akan selalu merindukan pulang
& kampung halaman.
–
Satu Hari di Bulan November
Suatu hari di awal November
aku dan kekasihku
terjatuh
lutut kami berdarah, nyeri, dan linu
itu sama menyakitkan
seperti ketika dosen pembimbingku mengabaikan pesan
Aku dan kekasihku tidak
bertengkar
meributkan siapa salah di antara kita menyebabkan motor terjatuh
sedang aku terus mengutuki si dosen
Itulah bedanya cinta dan benci: apakah dirimu bisa berkompromi dengan kesalahan seseorang.
–
Kipas Angin
Kipas angin berputar sepanjang hari
sedikit menyejukkan ketika aku disengat matahari
Tetapi, terpikir olehku
siapa yang menyejukkan kipas angin
ketika hari-harinya gerah
dan melelahkan?
–
Untuk Dosen Pembimbing
Aku diajari menulis puisi
untuk menyingkap sesuatu
tetapi, bagaimana cara menyingkap sesuatu sekaligus menyembunyikan maksudnya?
kadang ingin kutulis puisi
lugas saja, penuh caci maki dan kata kasar
ketika dosen pembimbingku tiba-tiba
hilang dan mengabaikan
pesan
Maaf, tabiat buruk tidak bisa
dipuisikan
*****
Editor: Moch Aldy MA
