UWRF 2025: Sastra sebagai Ruang Kesadaran Kolektif

Mina Megawati

3 min read

Matahari belum terlalu tinggi, tapi udara sudah cukup terik untuk membuat dahi berkeringat. Di lobi sebuah hotel, wartawan, pegiat literasi, dan perwakilan komunitas datang satu per satu. Pagi itu (Sabtu, 15 November 2025) Sanur menjadi titik kumpul untuk siaran pers menjelang Ubud Writers & Readers Festival 2025 ajang tahunan yang mempertemukan penulis, pembaca, dan seniman dari berbagai negara di Bali.

Tahun ini, festival tahunan terbesar di Asia Tenggara itu kembali hadir untuk edisi ke-22 pada 29 Oktober hingga 2 November 2025, mengusung tema “Aham Brahmasmi: I am the Universe.”Di tengah dunia yang makin riuh, cepat, dan terpolarisasi, tema ini terasa seperti ajakan untuk menunduk sejenak, menengok ke dalam diri.

Baca juga:

Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, I Ketut Suardana, membuka acara dengan nada yang antusias tapi reflektif. Pria yang dikenal selalu menjadi penggagas tema tahunan UWRF itu menyebut tiga hal yang mengilhami lahirnya tema kali ini: globalisasi, konspirasi, dan polarisasi.

Tiga hal itu seperti pusaran yang membuat manusia lupa bahwa dirinya bagian dari semesta,” ujarnya.

Latar belakang pendidikannya di filsafat tercermin dalam setiap kalimatnya. Suardana berbicara tentang bagaimana festival ini selalu berusaha menjadi cermin zaman. Dan tahun ini, cerminnya adalah kesadaran itu sendiri: kesadaran untuk berhenti sejenak, menyadari arah hidup, dan mengenali keterhubungan manusia dengan semesta yang lebih luas.

Lebih dari 70 penulis, seniman, aktivis, dan akademisi dari berbagai negara akan bergabung di Ubud. Mereka akan tampil dalam lebih dari 250 sesi diskusi dan program publik, membicarakan berbagai topik mulai dari sastra, seni, hingga kebudayaan dan spiritualitas Bali.

Tema tahun ini, yang bersumber dari konsep Sanskerta dalam Brihadaranyaka Upanishad, mengingatkan pada hubungan tak terpisahkan antara manusia dan alam semesta. Di tengah kemajuan teknologi yang kian masif, festival ini ingin mengajak kita menemukan kembali keseimbangan kosmik.

Dari Cerita Anak hingga Kosmologi Bali

Salah satu wajah feminin di festival ini adalah Ni Nyoman Ayu Suciartini, penulis dan pengajar asal Bali. Ia menegaskan bahwa UWRF telah menjadi ruang penting bagi perkembangan sastra Bali kontemporer. “Tahun ini saya akan meluncurkan buku Tutur Tantri di UWRF. Ceritanya lahir dari keresahan karena kisah-kisah lokal kian jarang terdengar di kalangan anak-anak,” ujarnya.

Dia berharap dengan alih wahana ke media buku maka anak-anak dapat tumbuh dengan mengenali kisah-kisah dari tanah mereka sendiri.

Omang Uci, begitu panggilan akrabnya akan tampil di sesi The Spirits Among Us: Demystifying Indonesia’s Everyday Supernatural, membahas keyakinan dan kebijaksanaan spiritual Nusantara dalam bingkai modernitas.

Ruang reflektif lain hadir lewat Jero Penyarikan Duuran Batur, akademisi asal Bangli yang memadukan studi kosmologi Bali dan pelestarian alam. Dalam program bertajuk The Living Universe: Ritual, Nature, and Art in Balinese Cosmology, ia membahas bagaimana hubungan antara tubuh, alam, dan kosmos dapat dibaca ulang melalui seni dan praktik ritual Bali.

Jero juga dijadwalkan tampil di panel Water Rituals serta memimpin program Climate Day di Bumi Kinar. “Ritual-ritual Bali selalu bicara tentang keseimbangan. Ketika kita bicara tentang iklim, itu juga soal menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas,” tuturnya.

Baca juga:

Gagasan Jero tentang alam dan kesadaran beririsan dengan sesi Okky Madasari, yang membahas ekologi dan kekayaan lokal lewat seri buku anak Mata. Melalui tokoh Matara, Okky mengajak pembaca muda menjelajahi berbagai lanskap dan budaya Indonesia, menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian. Dalam klub buku khusus di Taman Dedari, 30 Oktober, Okky mengajak peserta memasuki dunia Mata dan merenungkan kekuatan cerita sebagai sarana belajar mencintai bumi.

Ritual, Seni, dan Ingatan Kolektif

Makna serupa diangkat oleh Wayan Karja, seniman Bali yang juga mantan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar. Baginya, ritual bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan cara orang Bali menjaga keterhubungan dengan yang sakral. “Pertanyaannya, apakah ritual hari ini masih bisa menjaga kedekatan itu?” katanya.

Ketika ditanya “apa warna Bali hari ini?”, pelukis Wayan Karja menjawab singkat: “Brumbun.”
Dalam budaya Bali, brumbun berarti beraneka warna perpaduan dari banyak unsur yang hidup berdampingan. Dalam upacara mecaru, ayam brumbun melambangkan keseimbangan kosmis.
Bali saat ini juga seperti itu,” ujarnya.

Dari Karja kita belajar: kesadaran tak tunggal. Ia lahir dari campuran pengalaman, bahasa, dan tafsir. Di sanalah letak kekayaan manusia pada keberagaman yang saling menerangi.

Ruang Kolektif: Festival sebagai Tubuh Kesadaran

Tahun ini, festival secara khusus membuat program Climate Day di Bumi Kinar Ubud pada 2 November 2025 yang menyoroti kesadaran ekologis dalam konteks kebudayaan Bali.

Pendiri sekaligus Direktur UWRF, Janet DeNeefe, menekankan pentingnya festival sebagai ruang inklusif yang terbuka untuk siapa saja. “Melalui program ini, kita bersama-sama menjaga bumi lewat aksi lokal. Perlindungan iklim bukan milik segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama generasi kini dan mendatang,” ujarnya.

Di sesi Nothing is Waste, kita diajak menelisik krisis pengelolaan sampah di Bali. Hal ini sangat memengaruhi manusia, alam, dan ekonomi. Dalam diskusi bersama Youthophia untuk mengatasi dilema ini, akan diprioritaskan strategi pengelolaan seperti pengelolaan ulang sampah, penggunaan energi terbarukan, dan berbagai alternatif lainnya.

UWRF: Dari Ubud ke Dunia

Tahun ini, lebih dari 200 program akan berlangsung selama lima hari di UWRF. Nama-nama besar dari Bali seperti Gus Dark, Made Bayak, Tan Lioe Ie, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Juli Sastrawan, I Made Julio Saputra, Wulan Dewi Saraswati, Cokorda Ngurah Rupini, Bagus Ari Maruta, hingga Anak Agung Bagus Wirawan turut meramaikan panggung-panggung diskusi dan pertunjukan.

Dari ruang-ruang diskusi UWRF 2025 berupaya menjahit kembali benang merah antara kearifan lokal dan percakapan global.

Seperti tema yang diusungnya, “Aham Brahmasmi: I Am the Universe”, UWRF 2025 menjadi pengingat bahwa sastra, seni, dan kebudayaan adalah sarana membangun kesadaran kolektif kesadaran bahwa manusia dan semesta tidak terpisah, melainkan saling mencerminkan.

 

Omong-Omong Media – Media Partner UWRF 2025 (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email