Dua puluh dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan semangat, terutama di dunia literasi yang sering kali bergerak di pinggiran arus utama. Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) menunjukkan bahwa konsistensi dan ketulusan bisa menjadi sumber daya paling langka sekaligus paling nyata.
Dalam konferensi pers yang digelar 1 Oktober lalu, UWRF kembali menunjukkan wajahnya yang bersahaja sebagai ruang yang menghimpun penulis, pembaca, dan penggiat budaya dari berbagai latar untuk berbagi cerita dan gagasan.
Salah satu momen yang paling bermakna tahun ini adalah penganugerahan Lifetime Achievement Award 2025 kepada Taufiq Ismail, penyair yang telah lebih dari setengah abad menyalakan kata dan kesadaran. Penghargaan ini terasa seperti penghormatan bagi seluruh perjalanan literasi Indonesia, bukan hanya bagi seorang individu.
Nama Taufiq Ismail tentu tidak asing. Sejak era 1960-an, ia dikenal sebagai penyair yang menjadikan kata-kata sebagai bentuk kesaksian atas zaman. Puisinya tidak hanya merekam sejarah, tapi juga menggugah kesadaran publik tentang nilai kemanusiaan dan moral di tengah perubahan sosial-politik. Penghargaan ini terasa tepat, bukan semata karena usianya yang telah melampaui sembilan dekade, melainkan karena ketekunannya menjaga bahasa sebagai ruang nurani sesuatu yang semakin langka di era serba cepat seperti sekarang.
Penganugerahan ini menjadi simbol penting dari semangat UWRF itu sendiri, yaitu merawat tradisi literasi yang hidup, mengakui perjalanan para penulis yang telah membuka jalan, dan memberi ruang bagi generasi baru untuk melanjutkannya. Dalam satu panggung, festival ini menyatukan yang senior dan yang baru, yang lokal dan yang global.
UWRF menjadi pengingat bahwa literasi bukan hanya urusan buku dan acara, melainkan urusan keberlanjutan tentang bagaimana gagasan, empati, dan imajinasi terus diwariskan.
Spirit yang Masih Berlanjut
Di balik keberlanjutan itu, ada dedikasi yang tak pernah padam dari Yayasan Mudra Swari Saraswati dan pendirinya, Janet DeNeefe. Sejak awal berdiri pasca-tragedi Bom Bali 2002, mereka konsisten menjadikan UWRF bukan sekadar festival sastra, tapi ruang penyembuhan dan pertemuan lintas batas.
Tahun ini, dengan tema Aham Brahmasmi – I Am the Universe, festival kembali mengajak kita meninjau ulang hubungan manusia, teknologi, dan semesta. Tema yang mungkin terdengar filosofis, tapi terasa relevan di tengah dunia yang semakin dikendalikan algoritma dan kehilangan arah empati.
Baca juga:
Lebih dari 200 program digelar tahun ini, dari diskusi panel, pertunjukan, hingga pertemuan informal antara penulis dan pembaca. Di antara nama-nama besar seperti Banu Mustaq, Jenny Erpenbeck, hingga David Van Reybrouck, hadir pula para penulis muda Indonesia yang tergabung dalam Emerging Writers Program.
Inilah wajah UWRF hari ini: lintas generasi, lintas bahasa, lintas pengalaman. Setiap tahun, festival ini terus mempertemukan suara-suara yang berbeda untuk berbagi satu hal yang sama keyakinan bahwa menulis dan membaca masih berarti.
Omong-Omong Media
Sebagai media partner, kami di Omong-Omong Media merasa bangga dapat turut berpartisipasi dalam perjalanan Ubud Writers & Readers Festival tahun ini, sebuah ruang di mana kata dan gagasan berpadu, menjadi jembatan antara pengalaman dan sudut pandang.
Bagi kami, keterlibatan ini bukan sekadar liputan, melainkan bagian dari upaya untuk terus merawat percakapan yang bermakna. Omong-Omong tumbuh dari keyakinan bahwa mendengar, menulis, dan berbagi cerita adalah cara untuk memahami dunia dan sesama manusia.
Dua Puluh Dua Tahun, Satu Pelajaran
Dua puluh dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menjaga nyala seperti ini. Tapi mungkin justru di situlah letak kekuatan UWRF: ketekunan dan cinta terhadap literasi yang tak pernah ada habisnya.
Dari Ubud, gagasan-gagasan ini mengalir ke banyak tempat ke ruang kelas, media, panggung diskusi, dan percakapan sehari-hari. Sebuah bukti bahwa festival ini bukan hanya tentang kata, tapi tentang bagaimana kata bisa menjadi ruang bersama untuk memahami dunia.
Dan di sanalah pelajarannya, bahwa menjaga literasi berarti menjaga percakapan tetap hidup. Bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara gagasan dan tindakan, antara mereka yang berpikir dan mereka yang peduli.
Seperti kata yang disemai penyair besar Taufiq Ismail, literasi adalah cara manusia menjaga martabatnya. Di tengah dunia yang serba cepat, UWRF mengingatkan kita untuk tak kehilangan jeda untuk mendengar, memahami, dan terus menulis, agar makna tak padam bersama waktu.
Editor: Prihandini N
