Pengembaraan Solaris: Sejauh Mana Pengetahuan Manusia Memiliki Batas

Muhammad Tajul Asrori

3 min read

“Betapa banyak pun peradaban cerdas mirip manusia yang akan kita temui dalam penjelajahan alam semesta nanti, Solaris akan tetap menjadi sebuah tantangan abadi bagi umat manusia.”

Saat kecil, saya pernah menonton film dan mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan: mengapa manusia memiliki fisik yang fana seperti tangan, kaki, dan kepala? Mengapa tubuh manusia tidak seperti makhluk yang di film yang hidup dengan tubuh non-biologis namun tetap memiliki kesadaran? Pertanyaan sederhana itu mengendap di kepala saya beberapa tahun terakhir. Hingga beberapa minggu lalu, novel Solaris memberi wawasan baru bagi pertanyaan saya. 

Jika dalam film sebelumnya saya menemukan makhluk non-biologis berbentuk kotak, maka Solaris menyajikan entitas menyerupai “laut” yang tidak berbentuk. Sebenarnya, definisi laut sendiri tidak sepenuhnya memuaskan. Sebab Stanisław Lem, penulis Solaris, sendiri menolak penggambaran Solaris dengan kosakata bumi. Solaris adalah sesuatu yang berbeda. Ia adalah entitas lain yang berdiri tegak melampaui segenap struktur bahasa yang dikuasai manusia.

Baca juga:

Selama ratusan tahun, para ilmuwan datang dari bumi untuk meneliti apa sebenarnya yang terjadi di planet yang dipenuhi lautan itu. Mulanya, ilmuwan bumi menemukan sesuatu yang aneh dari Solaris: bagaimana sebuah planet bisa mengorbit dua matahari sekaligus? Dari data itu, mereka kemudian mengirimkan beberapa awaknya untuk meneliti bagaimana Solaris bekerja. Dan selama ratusan tahun sesudahnya, Solaris masih menjadi misteri besar bagi kemajuan pengetahuan manusia. 

Kris Kelvin, seorang peneliti dan psikolog, datang sebagai generasi kesekian sejak pendaratan awal manusia di Solaris. Ia datang membawa semangat besar seorang ilmuwan untuk membuktikan bahwa kekuatan sebesar Solaris tetap bisa direduksi dalam rumus-rumus ilmiah. Namun sesampainya di Solaris, Kris sadar. Ia dan segala hasrat keilmuannya hanyalah angin lalu bagi sebuah samudera luas yang sadar akan kehebatan dirinya. Kris tunduk atas segala kuasa yang ditunjukkan oleh Solaris. Ia mencoba memahaminya, tapi tidak melalui rumus-rumus ilmiah yang menjadikan laut tidak mau bereaksi. Ia ingin merabanya dengan saksama—seolah-olah ingin menyatu dan menjadi bagian kecil dari keakbaran Solaris yang membuatnya takjub.

Sejauh Pengetahuan Menjangkau

Setelah penelitian berlangsung selama ratusan tahun, perpustakaan luar angkasa Solaris dipenuhi arsip-arsip pengamatan. Selama ratusan tahun pula, arsip-arsip itu menjadi bukti atas penjelajahan Solaris yang tidak menghasilkan apapun sebab terlalu banyak keanehan yang ditemukan. Bahkan penjelajahan tersebut membuat banyak nyawa terenggut—dalam beberapa kasus, penyebab kematian itu tidak bisa dijelaskan.

Kejadian-kejadian aneh tersebut juga menimpa Kris saat tiba di Solaris. Ia, bersama Snaut dan Sartorius yang telah di ada di sana sebelum Kris, didatangi oleh “tamu” yang mereka sangka mewujud dari energi yang diciptakan oleh laut. Mereka menduga bahwa tamu itu juga yang menyebabkan kematian Gibarian sehari sebelum Kris datang. Uniknya, setiap tamu yang datang pada masing-masing mereka merefleksikan ingatan yang mereka kunci di sudut terdalam otak mereka. Dan hebatnya lagi, tamu-tamu ini tidak bisa mati. Bahkan ketika diterbangkan dengan roket untuk menjauh, tamu-tamu ini akan kembali, dengan ingatan yang baru.

Sejujurnya, tamu itu membuat perasaan mereka bertiga campur aduk: takut, heran, sekaligus rindu sebab bisa kembali melihat ingatan yang sebelumnya mereka lupakan dalam bentuk yang benar-benar asli. Bayangkan mereka harus memecahkan sebuah misteri besar dengan keadaan hati yang berkecamuk!

Meski begitu, penelitian masih harus tetap berlanjut. Kris menghabiskan banyak waktunya untuk membaca arsip-arsip penelitian di perpustakaan—tentu dengan ditemani tamunya. Dengan itu, ia banyak mengetahui penelitian yang sebelumnya telah dilakukan: penelitian sebelumnya sudah berusaha untuk menjalin komunikasi dengan laut, tapi tidak ada reaksi sama sekali darinya. Catatan itu membuat Kris berpikir, dari begitu banyak penelitian yang dilakukan, apakah tidak ada satupun harapan mengenai Solaris? 

Di beberapa waktu, mereka bertiga menjadwalkan waktu untuk bertemu dan saling bertukar pikiran. Namun, hasilnya nihil. Kris menjumpai persamaan atas kemandekan penelitian dengan para pendahulunya. Karena merasa depresi, Kris berencana meninggalkan Solaris bersama dengan tamu yang sebenarnya adalah kekasihnya dulu. Ia merasa bahwa Solaris terlalu akbar untuk bisa ia taklukkan dengan rumus-rumus. Bentuk-bentuk mimoid, simetriad, juga asimetriad membuatnya tidak pernah mafhum atas fenomena yang terjadi.

Namun, Harey, kekasih Kris, yang menyadari bahwa dirinya tidaklah asli (melainkan diciptakan oleh laut), terlebih dahulu mengakhiri hidupnya dengan sinar pemusnah neutrino yang baru diciptakan Sartorius. Ia tidak mau berlama-lama meruang dalam diri yang tidak ia kehendaki. Menghadapi itu, Kris merasa kehilangan. Kematian Harey kali ini semacam kematian eksistensial yang dihadapi oleh Kris. Ia seolah dihantam badai kerapuhan yang mengurai ketidakberdayaannya dalam upaya menjelaskan dunia.

Tuhan “Bayi”  yang Tidak Sempurna

Di tengah hampanya semesta luar, menjumpai ingatan yang otentik dalam bentuk yang benar-benar ada adalah keganjilan yang mengoyak hati. Laut berhasil menelanjangi keangkuhan manusia dalam usaha menaklukkan dunia tanpa melakukan sesuatu yang harus membuat kekacauan besar. Laut seolah ingin menyadarkan manusia bahwa antroposentris hanyalah ilusi yang mereka ciptakan belaka. Manusia tak lebih dari sebutir jagung di pojok luasnya ladang yang bernama semesta.

Baca juga:

Kris tidak masygul atas kekalahannya dengan Solaris. Sebaliknya, ia membentuk sebuah penerimaan atas kekuatan akbar milik Solaris dan kelemahan pikiran manusia. Tapi bagaimanapun, Kris masih ilmuwan. Dalam percakapannya dengan Snaut, Ia merefleksikan semua pengalamannya dan menyusun sebuah hipotesis tentang “sifat ketuhanan” Solaris. Dan dalam nuansa ateisme—Stanisław Lem memang seorang ateis—Kris membayangkan eksistensi Tuhan tidak sempurna yang sedang bertumbuh menjajaki masa bayinya.

Tuhan dalam pikiran Kris bukanlah Tuhan tradisional dalam agama-agama di bumi yang sempurna dan jauh dari kesalahan. Ia membayangkan sifat ketidaksempurnaan Tuhan bukanlah sesuatu yang terpisah bagi Tuhan sendiri. “Ini adalah… Tuhan yang cacat, yang selalu menginginkan lebih daripada yang la miliki, tapi tidak menyadarinya. Ia adalah Tuhan yang menciptakan jam, tapi bukan menciptakan waktu,” ucap Kris. 

Sepintas, pernyataan Kris tentang Tuhan mengarah pada konsepsi mengenai manusia. Namun, Kris menyangkalnya sebab terdapat beberapa perbedaan mengenai definisinya. Seorang manusia, menurut Kris, meski tampak seperti itu, tidak menciptakan tujuannya sendiri. Waktulah yang memaksanya. la bisa tunduk, atau memberontak terhadapnya. Untuk bisa dengan bebas menentukan tujuannya sendiri, manusia harus sendirian, dan itu mustahil, karena manusia yang tidak dibesarkan di tengah manusia lain tidak bisa menjadi manusia. 

Dan pada akhirnya, semua definisi yang disampaikan oleh Kris merujuk pada sebuah entitas raksasa di hadapannya sekarang. Uniknya, Kris merasa entitas itulah satu-satunya Tuhan yang dapat ia imani: yang keberadaan dirinya tidak memiliki tujuan untuk berbuat apapun, melainkan hanya menjadi (apapun). Solaris, bagi Kris adalah sebuah awal bibit Ilahi yang putus asa, yang masa kecilnya yang penuh antusiasme jauh di atas pemahaman kita, dan seluruh katalog Solaristika hanyalah berisi gerak refleks masa bayinya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Muhammad Tajul Asrori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email