Tawa Tanpa Makna dan Matinya Kebenaran

Hanif Nurrahman

4 min read

George Orwell menulis Ninety Eighty-Four Sebagai peringatan bahwa suatu hari, kebenaran tak lagi dapat ditemukan. Ia dikonstruksi, disuapkan ke depan mulut kita. Hari ini, bayangan itu tak lagi jadi fiksi — ia hidup, diam-diam diantara kita.

hari ini kita tak lagi hidup dalam kebenaran, melainkan validasi hampa tanpa makna. Di media sosial yang viral dianggap benar, yang ramai dianggap penting, bukan karena ia benar, tapi karena algoritma menyukainya. selamat datang di era post-truth society.

Di tengah kekeringan kebenaran, muncul suatu fenomena yang menjadi kegelisahan namun ia tak meledak, tak mengguncang, melainkan menggerogoti kita secara perlahan, kita menyebutnya Brainrot.

Brainrot lahir dari gurauan, tentang otak yang “busuk” karena terlalu lama menyerap konten tanpa substansi. Tapi dibalik kelucuannya, ia sudah menjadi kegelisahan yang begitu dalam. Kita menonton video absurd berulang-ulang, mendengar suara aneh yang diputar terus menerus, atau menyerap potongan meme dan trend TikTok yang hilang arah. bukan karena kita bodoh, tapi kita saja yang lelah.

Baca juga:

Brainrot bukan hanya gurauan internet belaka; ia adalah respons terhadap dunia yang penuh riuh dan tekanan. Di tengah cepatnya arus informasi dan tuntutan yang semakin tidak wajar, kita mencari suaka. Maka kita melepaskan otak kita tegenang oleh hal-hal yang tidak menuntut apa-apa. Hanya butuh tertawa tanpa menggunakan pikiran, tersenyum tanpa sadar.

Kita punya Skibidi Toilet — serial absurd tentang kepala manusia dari toilet yang berperang melawan kepala kamera; kita punya efek suara “gyatt” dipakai untuk klip random; kita punya tren-tren seperti “NPC Live” yang isinya hanya orang bertingkah aneh untuk dapat gift, atau italian brainrot yang menggabungkan gambar dan suara Artificial Intellegence (AI) yang aneh. Semua ini menunjukkan bahwa konten hari ini tak lagi tentang isi, tapi tentang sensasi: semakin aneh, semakin catchy, semakin viral.

Brainrot semacam ini hidup di mana-mana. Kita mungkin menertawakannya sambil berkata “gajelas banget”, tapi tetap menontonnya sampai habis. Itulah brainrot: ketika kita sadar ini tidak masuk akal, tapi tetap memilih tenggelam di dalamnya—bukan karena kita bodoh, tapi karena realitas di luar layar terasa jauh lebih melelahkan.

Namun, brainrot tak berdiri sendiri, ia hanyalah gejala kecil dari penyakit yang lebih kronik, yang menjangkiti cara kita melihat kenyataan hari ini. Di balik hiburan yang tampak ringan dan lucu itu, ada pergeseran fondasi dalam cara kita memahami apa yang benar, apa yang penting, serta apa yang layak dipercayai. Inilah titik di mana brainrot dan post-truth saling menjalin–ketika kebenaran tak jadi makanan, cukup digantikan dengan ‘vitamin’ bernama sensasi dan keterikatan emosional.

Semua kegelisahan itu, ledakan kebisingan penuh kekosongan itu, bersarang di satu tempat yang sama– “internet”. Ia kini tak lagi jadi alat, tapi arsitek baru dari cara kita berpikir, merasa dan mempercayai sesuatu.

Internet hari ini dianggap sebagai surga pengetahuan. Sebuah tempat di mana semua orang punya akses tak terbatas terhadap informasi. Tapi hari ini, ia tak lagi menjadi perpustakaan digital, melainkan lautan ombak yang menggulung kita dalam kebisingan. Tom Nichols menyajikannya dengan baik: “We live in a world where we have access to more information than ever before, yet we learn less and less.”

Informasi datang sebagai serpihan ledakan, tak lagi menjadi aliran. Kita dibanjiri opini, potongan fakta, narasi tak jadi, dan ironisnya, kita percaya diri dalam kegelapan. Otoritas dan para ahli tak lagi dihormati, karena “semua tinggal googling”. kita lebih percaya pada thread di media sosial dibandingkan hasil riset ilmiah. kita tak lagi belajar untuk memahami, hanya mencari untuk membenarkan. Maka yang viral bukan yang akurat, tapi yang paling emosional, yang paling mengundang click, yang paling mudah membuat kita merasa “ahli”, walau dari satu video pendek berdurasi 30 detik.

Semua ini bukan kebetulan. Internet tak lagi hanya tempat berbagi, ia telah menjadi ladang perburuan perhatian. Kita hidup dalam kapitalisme atensi—sebuah sistem di mana atensi manusia adalah komoditas paling mahal. Semakin lama kita menatap layar, semakin banyak uang yang mengalir. Maka platform dirancang bukan untuk memberi pemahaman, tapi untuk mempertahankan keterpakuan.

Algoritma tidak peduli pada kebenaran, hanya pada keterlibatan. Ia memberi kita bukan apa yang baik untuk kita, tapi apa yang membuat kita tetap tinggal: konten yang membuat kita marah, iri, tertawa, takut, atau terhibur secara instan. Semakin emosional, semakin viral. Semakin pendek, semakin diklik. Maka kita tenggelam dalam konten-konten cepat cerna yang menumpuk, bukan memperkaya. Kebenaran dikalahkan oleh kecepatan, pemahaman dikalahkan oleh performa. Kita tidak sedang dipandu untuk berpikir, kita sedang dipelihara untuk terikat.

Dalam sistem ini, kita tak pernah benar-benar menjadi pengguna. Kita adalah produk. Produk yang baik adalah yang bisa terus diperbarui, terus di-refresh, terus scroll. Maka tak heran jika brainrot tumbuh subur. Bukan karena kita bodoh, tapi karena kita dipelihara dalam ruang yang memang tak menghendaki kedalaman.

Di tengah derasnya konten, cepatnya viralitas, dan kaburnya batas antara yang nyata dan yang dipertontonkan, kita bisa memilih untuk tidak hanyut sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk tidak menjadi mesin scroll, tidak menjadi makhluk yang hanya hidup dari apa yang sedang ramai.

Kita bisa mulai dari hal sederhana. Mengembalikan waktu hening dalam hidup kita. Membaca bukan untuk menang debat, tapi untuk memahami. Menghindari godaan komentar yang mengadu emosi, dan mulai bertanya, “Siapa yang diuntungkan dari ini semua?”

Kita perlu merawat skeptisisme. Bukan untuk sinis, tapi agar tidak mudah diseret. Kita perlu menunda reaksi, agar bisa benar-benar memproses. Kita perlu menanamkan bahwa tak semua yang viral itu penting, dan tak semua yang penting itu akan viral.

Brainrot dan post-truth society adalah realitas kita hari ini. Tapi sadar akan keduanya adalah langkah awal untuk tidak ditelan olehnya. Dalam dunia yang terlalu bising, berpikir adalah tindakan radikal. Diam untuk mencerna adalah bentuk perlawanan paling sunyi, tapi juga paling berani. 

Baca juga:

Akhirnya, mungkin kita tak bisa melawan semuanya. Tapi kita bisa memilih: memilih untuk hadir secara utuh dalam hidup kita, memilih untuk menaruh perhatian pada yang sunyi, memilih untuk menghidupkan kembali percakapan yang pelan tapi dalam, memilih untuk merasa, berpikir, dan mencinta tanpa tuntutan untuk selalu viral. Karena di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin yang paling revolusioner adalah mereka yang berani berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada kita?

Sebab viralitas tak pernah mengetuk dulu sebelum datang. Ia bisa muncul tiba-tiba, mengangkat kita ke sorotan dalam sekejap—mungkin karena satu unggahan, satu komentar, atau satu video yang tak pernah kita sangka. Saat itu terjadi, apa yang akan kita bawa? Apa yang akan kita sampaikan ketika mata dunia menatap? Kita tak bisa mengendalikan kapan viralitas datang, tapi kita bisa menyiapkan diri untuk tetap utuh saat ia terjadi.

Maka hari ini, kita perlu menyiapkan isi sebelum sorot lampu tiba. Menumbuhkan ketenangan sebelum keramaian datang. Menajamkan isi kepala sebelum jadi buah bibir. Menjadi manusia yang tak hanya cepat merespons, tapi juga dalam memahami. Karena ketika panggung tiba-tiba disodorkan ke hadapan kita, bukan seberapa keras kita bicara yang penting—melainkan seberapa jernih isi yang kita punya.

Dalam dunia yang terlalu bising, berpikir adalah tindakan radikal. Dan diam untuk mencerna, adalah bentuk perlawanan paling sunyi—namun juga paling berani. Kita tak tahu kapan giliran kita diseret ke pusaran viralitas. Tapi saat itu datang, semoga kita bukan hanya siap tampil, melainkan juga siap bertanggung jawab. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki 

Hanif Nurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email