I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Orang-Orang yang Menjahit Mulut

Rizal Nurhadiansyah

6 min read

“Satu kata saja. ‘Bajingan’ juga boleh. Asal ada suaranya.”

Aku menyodorkan moncong tape recorder itu nyaris menabrak hidungnya, namun laki-laki itu tidak bergeming. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang lelah—jenis kelelahan purba yang seolah sudah mengendap di sana sejak kota ini pertama kali dibangun. Hujan semakin deras, memukul-mukul payung hitam yang menaungi kami, menciptakan suara gaduh yang ironis di tengah kebungkaman ini.

Laki-laki itu menghela napas, uap putih keluar dari hidungnya, tapi bibirnya tetap terkunci. Bukan. Bukan karena ia menahannya, tapi karena bibir itu memang tidak bisa dibuka secara harfiah.

Di bawah temaram lampu jalan yang kekuningan dan dikerubuti laron, aku melihatnya jelas. Benang emas itu berkilau basah tertimpa bias cahaya, dijahitkan dengan pola silang yang rapi menyatukan bibir atas dan bawahnya. Daging di sekitar jahitan itu tampak kering dan menyatu, seolah benang emas itu adalah bagian alami dari anatomi wajahnya. 

“Pak, redaktur saya butuh kutipan,” suaraku mulai parau, kalah telak oleh deru hujan. “Kalau Bapak diam, mereka akan menulis yang tidak-tidak. Atau, tulislah sesuatu untuk saya. Bapak mau dianggap menyerah?”

Laki-laki itu menggeleng pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah dadanya sendiri, lalu menunjuk ke arah mulutnya yang terpasung logam mulia itu. Ia lalu berdiri, merapatkan kerah jaket kumalnya, dan berbalik pergi menembus hujan.

Aku berdiri mematung. Di tanganku, kaset dalam tape recorder terus berputar, merekam kekosongan. Hanya ada suara gemuruh air yang jatuh ke aspal. Aku mematikan alat itu dengan kasar. 

Sambil merogoh saku mencari rokok, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling halte. Di sudut sana, seorang tukang sapu sedang membersihkan sampah. Bibirnya juga berkilau emas. Di seberang jalan, seorang polisi lalu lintas meniup peluit, tapi suara itu keluar dari celah gigi yang terkatup rapat oleh benang yang sama.

Kota ini sangat aneh. Ia bergerak, bernapas, dan sibuk, tapi ia telah kehilangan suaranya. Asap rokokku mengepul, satu-satunya hal yang bebas keluar dari mulut di tempat ini. Bau tembakau bercampur dengan bau tanah basah dan bau selokan yang meluap.

“Gila,” desisku pelan.

***

Aku meninggalkan halte itu, membiarkan diriku ditelan oleh perut kota yang basah. Pusat kota ini sama sekali tidak berisik. Biasanya, jam segini adalah waktunya para kuli panggul berteriak minggir, pedagang sayur memaki pembeli yang menawar sadis, dan calo tiket berebut mangsa. Kini, yang tersisa hanya bunyi cipat-cipit sandal jepit menampar becekan dan gesekan roda gerobak yang karatan.

Seorang ibu menunjuk seikat kangkung. Si pedagang mengangguk, memasukkannya ke kantong kresek hitam, lalu mengangkat tiga jari. Tiga ribu. Si ibu menyerahkan uang lecek. Transaksi selesai tanpa “mahal amat, Bang”.

Semua orang di pasar ini memiliki kilatan yang sama di wajah mereka. Di bawah lampu neon 5 watt yang berayun-ayun ditiup angin, benang-benang emas di mulut mereka berpendar. Pemandangan ini indah sekaligus mengerikan. Seolah-olah mereka semua adalah anggota sekte rahasia yang telah menemukan kedamaian dengan cara membunuh bahasa lisan.

Aku mempercepat langkah menuju sebuah warung kopi di pojok tikungan. Targetku ada di sana.

Dia duduk di bangku panjang kayu jati yang sudah lapuk, menghadap gelas kopi yang uapnya tak lagi mengepul. Namanya—ah, sebut saja dia Bung. Dulu, suaranya adalah teror bagi siapa pun yang duduk di kursi empuk istana. Ia pernah membuat mikrofon menjerit ngilu karena teriakannya tentang keadilan. Dan ia juga pernah membuat ribuan mahasiswa merinding hanya dengan sebuah orasi. Sekarang, Bung duduk menekur seperti orang kalah judi.

Aku mengempaskan pantat di hadapannya. Kursi berderit nyaring, satu-satunya protes yang terdengar di ruangan itu.

“Bung,” sapaku.

Dia mengangkat wajah. Keriput di dahinya makin dalam. Dan di sana, di tempat di mana dulu kata-kata api disemburkan, kini terjalin benang emas yang tebal. Lebih tebal dari orang kebanyakan. Mungkin dia menjahitnya dua lapis, atau tiga.

“Kau juga?” tanyaku, nada suaraku terdengar menuduh. “Kau yang dulu bilang ‘Diam adalah Pengkhianatan’? Sekarang kau malah menjahit mulutmu sendiri dengan emas?”

Bung tidak bereaksi. Ia hanya menatapku dengan mata yang redup. Ia mendorong gelas kopinya sedikit ke samping. Di atas meja kayu yang dilapisi perlak plastik basah oleh embun gelas, jari telunjuknya mulai bergerak. Ia menulis dengan air tumpahan kopi yang dingin.

Aku mencondongkan badan, melihat jari telunjuknya yang kasar menari perlahan. Huruf demi huruf terbentuk dari cairan hitam pekat itu.

K-A-T-A.

Ia berhenti sejenak. Menatapku. Lalu melanjutkan.

S-U-D-A-H.

B-A-N-G-K-R-U-T.

Jantungku berdegup ganjil. Bau minyak goreng bekas dari wajan di dapur menyengat hidungku. Suara hujan di atap seng terdengar seperti ribuan kerikil dijatuhkan dari langit.

“Bangkrut?” tanyaku lirih. “Jadi kita harus diam? Membiarkan mereka menang?”

Bung tersenyum. Senyum yang menyedihkan karena hanya melibatkan mata dan pipi. Ia menghapus tulisan kopi itu dengan sekali usap telapak tangan, mengubah kata-kata itu menjadi noda hitam yang abstrak dan kotor.

Ia lalu menunjuk telinganya. Kemudian menunjuk langit-langit warung yang penuh sarang laba-laba. Ia menyuruhku mendengar apa yang terjadi ketika manusia berhenti bicara omong kosong: suara dunia yang sebenarnya. Setidaknya, itu tafsirku.

Di kejauhan, sirine mobil patroli melolong. Bung mengambil rokok kretek dari sakunya, mematahkannya jadi dua, lalu meletakkannya di atas piring kecil layaknya sesajen.

***

Aku keluar dari warung itu dengan perasaan seperti ada batu kali yang mengganjal di ulu hati. Hujan sedikit mereda, menyisakan gerimis halus yang turun seperti tirai tipis.

Kakiku melangkah tanpa tujuan pasti, menyeret sepatu bot kulit yang berat oleh lumpur, hingga mataku menangkap cahaya terang di seberang jalan. Sebuah ruko tua dengan pintu rolling door terbuka setengah. Cahaya neon putih yang menyakitkan mata tumpah ke trotoar. Ada antrean di sana. Panjang, mengular hingga ke pinggir selokan yang airnya hitam pekat. Mereka berdiri sabar, berimpitan di bawah payung-payung warna-warni, tapi tak ada suara keluhan.

Aku menyeberang jalan, nyaris tertabrak bajaj yang melaju kencang tanpa membunyikan klakson.

Di etalase toko itu, tidak ada beras, tidak ada gula, tidak ada obat sakit kepala. Rak-rak kacanya kosong melompong, kecuali satu kotak kayu berlapis beludru merah di meja kasir.

Kemudian, seorang pria gemuk dengan kaus singlet dan handuk kecil di leher melayani pembeli dengan gerakan cepat. Tangannya lincah, matanya berbinar-binar menghitung lembaran uang.

“Dua puluh ribu. Pas. Terima kasih. Selanjutnya!” teriak si penjaga toko. Suaranya cempreng dan meledak-ledak, satu-satunya polusi suara di radius seratus meter. Ia adalah anomali. Mulutnya merah, basah, dan bebas bergerak.

Aku menyusup ke samping antrean, memerhatikan transaksi itu.

Seorang gadis muda, mungkin mahasiswi, maju ke depan. Wajahnya pucat, matanya bengkak seperti habis menangis semalaman. Ia meletakkan selembar uang dua puluh ribu yang lecek di meja kaca. Si penjaga toko tidak bertanya apa-apa. Ia langsung mengambil sebuah benda kecil dari kotak beludru itu. Sebuah gulungan benang.

Benang itu berkilau tajam di bawah lampu neon. Emas murni. Tipis, kuat, dan tajam. Di samping gulungan itu, terselip sebuah jarum lengkung yang biasa dipakai dokter bedah untuk menjahit luka robek. Gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar. Ia mendekap gulungan benang itu ke dada seolah itu adalah jimat keselamatan, lalu buru-buru pergi menembus malam.

“Selanjutnya!” teriak si gemuk lagi.

Aku menerobos antrean, mengabaikan tatapan-tatapan tajam dari mereka yang menunggu. Tatapan itu menusuk, seolah berkata: Antre, bajingan! 

“Bang,” kataku, memotong seorang bapak tua yang hendak menyerahkan uang. “Saya wartawan. Bisa bicara sebentar?”

Si penjaga toko berhenti menghitung uang. Ia menatapku dari atas ke bawah, lalu tertawa. Tawanya berderai-derai, mengguncang perut buncitnya.

“Wartawan?” tanyanya, nada suaranya mengejek. “Masih laku koran zaman sekarang, Mas? Orang sudah malas baca kekacauan yang kalian tulis. Orang maunya hidup tenang.”

Ia mengambil satu gulungan benang emas, melemparkannya ke udara, lalu menangkapnya lagi.

“Ini yang laku sekarang, Mas,” katanya sambil menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning karena nikotin. “Emas 24 karat. Impor. Anti karat, anti infeksi. Sekali jahit, dijamin rapat seumur hidup. Nggak perlu repot klarifikasi, atau minta maaf di TV.”

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, bau keringat masam menguar darinya.

“Mau coba, Mas? Buat wartawan diskon deh. Lima belas ribu saja. Supaya hidup Mas tenang.”

Aku menatap gulungan benang di tangannya. Di belakangku, antrean semakin panjang. Wajah-wajah lelah itu menatap punggungku, menunggu giliran untuk membeli kebungkaman mereka sendiri dengan harga dua puluh ribu rupiah. Tiba-tiba aku merasa mual, karena sadar betapa murahnya harga sebuah keputusasaan di kota ini.

***

Aspal di bawah kakiku bergetar hebat. Deru iring-iringan truk militer membelah hujan, diikuti decit ban yang menyayat telinga saat jip paling depan berhenti mendadak. Lampu sorot menyapu kerumunan orang-orang bisu di depan toko benang, menciptakan siluet-siluet panjang yang menakutkan.

Seorang pria berseragam turun dari jip. Medali di dadanya gemerincing. Ia mengangkat megaphone merah menyala ke mulutnya.

“Bubar!” Teriakannya pecah dan cempreng lewat pengeras suara. “Dilarang berkumpul! Kalian harus bicara! Diam adalah makar!”

Kerumunan itu tetap di tempat. Ratusan kepala menoleh serentak. Mata mereka menatap si pejabat dengan dingin. Kilatan benang emas di bibir mereka memantulkan cahaya lampu truk, membentuk barisan pagar kawat yang menyilaukan. Si pejabat tampak gugup. Ia butuh suara “Siap!” atau “Ampun!” untuk merasa berkuasa. Di sini, teriakannya seperti menabrak tembok karet.

“Saya perintahkan kalian bicara! Teriakkan yel-yel kebangsaan! Sekarang!”

Namun mereka tetap hening, dan hujan turun semakin deras.

Wajah si pejabat memerah. Ia mencabut pistol dari pinggang, mengarahkannya ke langit, dan menarik pelatuk.

DOR!

Suara letusan merobek malam. Seekor kucing liar lari terbirit-birit di selokan. Namun manusia-manusia itu tidak bergeming. Tidak ada yang berkedip, dan tidak ada yang menjerit. Ledakan mesiu itu lenyap begitu saja, ditelan oleh kebisuan yang nyaring.

Tangan si pejabat gemetar saat menurunkan pistolnya. Ia menghadapi musuh yang kebal peluru karena sudah mematikan rasa takut mereka sendiri. Ia mundur perlahan, kembali masuk ke jip, dan memerintahkan sopirnya tancap gas. Iring-iringan itu pergi tergesa-gesa, melarikan diri dari teror kesunyian.

Aku berdiri di antara asap knalpot yang tertinggal. Aku satu-satunya orang yang masih bisa berteriak di sini, tapi rasanya justru akulah yang paling tidak berdaya.

***

Aku kembali ke kantor berita pukul tiga pagi. Ruangan redaksi gelap. Layar komputer yang mati memantulkan wajahku yang kusut dan basah. Duduk di meja, aku menatap kursor yang berkedip di layar monitor.

Aku mencoba mengetik. “Malam ini, kota kehilangan suaranya…”

Hapus. Kalimat itu palsu.

“Aksi diam warga melumpuhkan…”

Hapus lagi. Terlalu berisik.

Setiap kata yang kutulis terasa seperti sampah. Bunyi ketikan kibor terdengar kasar. Bahasa sudah bangkrut. Jurnalistik sudah pailit.

Aku merogoh saku jaket mencari rokok, namun jari-jariku menyentuh logam dingin. Kutarik keluar benda itu. Sebuah jarum bedah melengkung dan gulungan benang emas. Entah kapan aku mengambilnya, atau mungkin benda ini muncul begitu saja di saku setiap orang yang sadar bahwa bicara adalah pekerjaan sia-sia.

Aku menatap pantulan wajahku di cermin kecil di partisi meja. Bibirku gemetar. Ada berita yang harus kusampaikan, tapi dunia sudah menutup telinga.

Perlahan, aku menekan tombol record pada tape recorder. Pita kaset berputar.

“Ini laporan terakhir,” bisikku. “Berita paling jujur.”

Aku mengambil jarum itu. Ujungnya berkilau tajam di bawah lampu neon. Aku membiarkan tape recorder merekam. Kutusukkan jarum itu ke bibir bawahku. Rasa sakit meledak, tajam dan panas. Darah segar menetes menimpa naskah kosong di meja. Aku menarik benang emas menembus daging, lalu menusukkannya ke bibir atas.

Suara benang ditarik menembus kulit terdengar basah dan ngilu. Tusukan kedua. Tusukan ketiga.

Air mata bercampur darah mengalir ke dagu. Hatiku terasa lega. Rasa cemas mengejar deadline hilang. Rasa muak pada kebohongan lenyap. Selesai jahitan terakhir, aku mengikat simpul mati yang rapi.

Ruangan itu kini sunyi total. Aku menekan tombol stop.

Esok pagi, redakturku tidak akan menemukan naskah berita. Ia hanya akan menemukan kaset ini. Saat memutarnya, ia akan mendengar suara napas tersengal, bunyi basah jarum menembus daging, dan gesekan benang yang ditarik perlahan—sebuah simfoni sunyi berdurasi tiga puluh menit.

Itulah berita utamanya. Satu-satunya kebenaran yang tersisa. Aku menyandarkan punggung di kursi, memejamkan mata, menikmati keheningan yang sempurna.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizal Nurhadiansyah
Rizal Nurhadiansyah I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email