“Ngik… Ngik… Ngik… Ngik.”
Suara itu muncul dari pintu yang engselnya sudah menjadi gundukan karat. Logam itu sudah sangat lama tidak menyentuh tetesan minyak goreng atau sisa oli bekas. Pemilik rumah membiarkan besi itu mengikis dirinya sendiri. Karat itu tumbuh menebal, berwarna cokelat tua yang kasar, serupa dengan kondisi rumah yang secara keseluruhan dibiarkan melapuk oleh waktu. Pintu itu bergerak maju dan mundur dalam jarak yang pendek. Gerakan itu berasal dari dorongan kaki kanan seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di sisi kusen pintu. Punggungnya menempel pada kayu yang sudah mulai dimakan rayap.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, terselip sebatang rokok. Panjangnya tinggal sedikit. Bara apinya sudah mendekati jari, menyisakan sekitar tiga hisapan lagi sebelum api itu mencapai filter dan padam dengan sendirinya. Lelaki itu tidak segera mematikan rokoknya. Ia justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Di dalam kepalanya, ia sedang melakukan perhitungan matematis yang berulang-ulang. Ia menjumlahkan gaji yang ia terima, lalu menguranginya dengan angka-angka hutang yang tercatat di berbagai tempat. Hasil dari perhitungan itu selalu menunjukkan angka minus. Gaji itu habis untuk menutupi pinjaman masa lalu sebelum ia sempat membeli kebutuhan pokok untuk hari ini.
Bayangan wajah seorang perempuan muncul di tengah lamunannya. Wajah itu adalah wajah yang sama dengan yang beberapa waktu lalu menemuinya. Perempuan itu berbicara tentang masa depan dan meminta agar mereka segera melangsungkan pernikahan. Ingatan itu membuat beban di kepalanya terasa semakin berat. Tangan kirinya terangkat ke atas. Ia meremas rambutnya yang mulai tumbuh panjang, kusam, dan berminyak. Ia mencengkeram helai-helai rambut itu dengan kuat. Ia merasa seolah-olah harus memegang kepalanya dengan kencang agar bagian tubuh itu tetap berada di tempatnya dan tidak terlepas begitu saja dari lehernya karena tekanan pikiran.
Seekor kucing hitam melintas di depannya. Kucing itu memiliki corak putih kecil tepat di bagian tengah dahi, di antara kedua matanya. Hewan itu berjalan dengan langkah yang sangat tenang. Ia melewati sang lelaki tanpa menoleh. Kucing itu masuk ke dalam rumah melalui celah pintu yang terbuka, berjalan dengan penuh keyakinan seolah ia adalah penghuni lama di sana.
Pada saat yang sama, perut lelaki itu mengeluarkan suara. Itu adalah suara keroncongan yang berasal dari lambung yang kosong. Suara itu terdengar cukup keras di kesunyian sore itu. Ia memerhatikan kucing hitam yang terus berjalan masuk. Ia merasa bahwa kucing itu memiliki tujuan yang sama dengannya, yaitu mencari sesuatu untuk meredakan rasa lapar yang mendesak.
Lelaki itu memutuskan untuk bangkit. Ia ingin melihat apa yang dilakukan kucing itu di dalam rumahnya. Kucing itu berjalan lurus menuju ruang tidur. Langkah kakinya sangat ringan di atas lantai semen yang retak-retak. Lelaki itu bermaksud untuk mengusir kucing itu karena ia tidak ingin ada hewan liar yang mengotori area pribadinya. Namun, tubuhnya terasa sangat berat untuk digerakkan. Setiap sendinya terasa kaku. Niat untuk berdiri tegak dan melangkah dengan cepat terhalang oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia harus mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menyeret kaki menuju pintu kamar.
Kucing itu melompat ke atas ranjang. Kasur di atas ranjang itu tertutup oleh kain yang sudah sangat dekil. Hewan itu mulai menggerakkan kaki depannya, mencakar-cakar permukaan kasur dengan kuku-kukunya yang tajam. Suara cakaran itu terdengar jelas: srak, srak, srak. Lelaki itu berpikir bahwa kucing itu mungkin akan membuang kotoran di sana. Ia berusaha mempercepat langkahnya agar bisa segera meraih tengkuk kucing itu dan melemparnya keluar.
Ketika ia sudah berada di ambang pintu kamar dan melangkah mendekati sisi ranjang, napasnya tertahan. Ia melihat sesuatu yang tidak lazim. Kucing hitam itu sedang menundukkan kepala dan menggerakkan mulutnya dengan cepat. Hewan itu sedang memakan sesuatu yang ada di atas kasur tersebut. Suara kunyahan yang basah dan suara retakan kecil terdengar memenuhi ruangan yang pengap itu.
Lelaki itu mendekat lagi untuk memastikan apa yang sedang menjadi santapan si kucing. Di bawah cahaya yang sangat minim dari celah genteng, ia melihat pemandangan itu secara utuh. Ada gumpalan daging yang sudah berubah warna menjadi gelap dan mengeluarkan aroma yang sangat menyengat. Ada helaian rambut manusia yang berserakan di sekitar gumpalan daging itu. Ada bagian-bagian tulang yang mulai terlihat karena jaringan kulit di atasnya sudah hancur.
Ia melihat wajah dari jasad yang sedang terbaring di sana. Jasad itu adalah dirinya sendiri. Tubuh itu sudah kaku, membusuk, dan tampak sudah berada di sana selama berhari-hari. Pakaian yang dikenakan oleh jasad itu persis sama dengan pakaian yang ia rasakan melekat di tubuhnya saat ini. Ia berdiri mematung di samping ranjang, menatap tubuhnya sendiri yang kini sedang menjadi sumber makanan bagi kucing hitam yang lapar itu.
Kesadaran menyelimuti pikirannya secara perlahan. Keheningan di dalam kamar itu menjadi semakin pekat. Ia menyadari bahwa rasa lapar yang ia rasakan sejak tadi bukan lagi berasal dari perut yang membutuhkan makanan, melainkan sisa-sisa ingatan dari saat-saat terakhir hidupnya sebelum ia menyerah pada keadaan. Ia melihat tangannya sendiri yang tadi memegang rokok, namun kini tangan itu tampak samar dan tidak memiliki beban.
Di atas ranjang, kucing hitam itu berhenti mengunyah sejenak. Hewan itu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah tempat lelaki itu berdiri. Mulut kucing itu basah oleh sisa-sisa cairan tubuh. Setelah menatap selama beberapa detik dengan mata yang dingin, kucing itu kembali menundukkan kepala dan melanjutkan aktivitasnya. Ia terus merobek bagian-bagian daging dari jasad yang sudah tidak bernyawa itu.
Lelaki itu kini hanya bisa berdiri diam. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengusir kucing itu. Juga, ia seperti merasakan sedikit kelegaan karena tidak lagi memiliki kebutuhan untuk memikirkan hutang-hutang yang menumpuk atau janji pernikahan yang belum terpenuhi. Semua beban pikiran itu kini tertinggal pada jasad yang sedang hancur di depan matanya. Di luar, angin berembus cukup kuat untuk menggerakkan pintu depan yang engselnya berkarat itu.
“Ngik… Ngik… Ngik… Ngik.”
Suara engsel itu tetap berbunyi, mengisi seluruh sudut rumah yang kini hanya berisi sisa-sisa kehidupan penghuninya yang sudah berakhir. Pintu itu terus bergerak, menandakan bahwa rumah itu masih ada, meskipun penghuninya sudah menjadi bagian dari proses alam yang sedang berlangsung di atas ranjang. Lelaki itu melihat ke arah jendela. Cahaya matahari mulai menghilang, meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan yang lebih dalam. Kucing hitam itu terus makan dengan tenang di dalam kegelapan, memastikan bahwa tidak ada bagian dari jasad itu yang terbuang percuma di tengah rasa laparnya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
