Manusia Takut Bodoh

Ketika Hidup Bukan Sekadar Rutinitas

M. Ferdi ansyah

2 min read

Hidup pada mulanya tampak sederhana: kita bangun, bergerak, bekerja, lalu kembali tidur. Namun semakin jauh kita melangkah, semakin terasa bahwa hidup bukan sekadar rangkaian rutinitas yang berulang. Pertanyaan-pertanyaan pelan-pelan muncul: untuk apa semua ini dijalani, ke mana langkah ini menuju, dan mengapa hati kita terus mencari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat. Pada titik inilah hidup berubah menjadi sebuah perjalanan bukan hanya perjalanan tubuh, melainkan perjalanan pikiran dan jiwa untuk menemukan makna di tengah keseharian yang terus berjalan.

Salah seorang penulis sekaligus dosen di Universitas Nurul Jadid, Ahmad Sahidah, melalui karyanya Falsafah Harian, mengajak kita melihat hidup dari sudut yang sederhana. Buku ini berisi refleksi filosofis yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Dengan pendekatan filsafat, ia mengurai hal-hal yang tampak biasa lalu menunjukkan kedalaman makna di baliknya. Menurutnya, hidup tidak selalu menuntut jawaban besar. Sering kali ia hanya meminta kita berhenti sejenak, memperhatikan yang sederhana, lalu belajar darinya. Sebagaimana sering ia tegaskan: hidup adalah keseharian setiap kejadian kecil adalah pintu menuju pemahaman tentang siapa kita, mengapa kita bertindak, dan apa arti hadirnya kita di dunia. Di sinilah filsafat bekerja: bukan menjauh dari kehidupan, melainkan menyelaminya agar kita lebih sadar saat menjalaninya.

Baca juga:

Karena itu, keseharian bukan sekadar bangun, belajar, bekerja, lalu tidur kembali. Setiap momen kecil menyimpan pelajaran, hanya saja sering kita lewatkan. Kita tidak hanya perlu mengagumi gagasan “hidup adalah keseharian”, tetapi juga mengujinya, mempertanyakannya, dan membenturkannya dengan realitas. Sebab keseharian yang kita jalani kerap terdiri dari pekerjaan kecil dan rutinitas sederhana. Lalu muncul pertanyaan penting: apakah semua keseharian benar-benar mengajarkan makna, atau justru membuat kita berjalan tanpa arah?

Di sinilah kita berjumpa dengan kritik yang penting. Rutinitas tidak boleh membuat kita berhenti bertanya. Setiap aktivitas perlu kita sadari tujuannya agar tidak berujung pada kesia-siaan. Rutinitas tanpa kesadaran adalah kekosongan. Viktor Frankl, seorang psikolog sekaligus filsuf modern, menulis: “Yang dibutuhkan manusia bukanlah keadaan tanpa ketegangan, tetapi perjuangan untuk menemukan makna.” Makna tidak hadir begitu saja; ia menuntut kesadaran, pilihan, dan keberanian.

Jika hidup hanya dimaknai sebagai menerima keseharian apa adanya, ada risiko kita menjadi terlalu pasrah. Apakah ini membuat kita berhenti bermimpi? Bagaimana dengan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita? Apakah hanya perlu kita terima begitu saja? Albert Camus mengingatkan: “Pemberontakan dimulai dari kesadaran bahwa sesuatu tidak seharusnya seperti ini.” Kesadaran itulah yang menjaga kita dari kepasrahan buta dan menjadikan kita manusia yang bertanggung jawab.

Pada titik ini, gagasan Martin Heidegger memberi cahaya tambahan. Bagi Heidegger, manusia adalah Dasein makhluk yang “hadir-di-dunia” dan sadar bahwa hidupnya terbatas. Banyak orang terjebak dalam apa yang disebutnya sebagai kehidupan “sehari-hari yang jatuh” (fallenness), yaitu ketika kita larut dalam kesibukan, mengikuti arus, dan hidup menurut standar orang lain. Kita bekerja, beraktivitas, berbicara, tetapi lupa bertanya siapa sebenarnya diri kita.

Heidegger menyebut keadaan ini sebagai hidup yang “tidak otentik”. Kita sekadar “ada”, bukan benar-benar “mengada”. Makna baru muncul ketika manusia berani berhenti, melihat dirinya sendiri, menyadari keterbatasan waktu, lalu memilih hidup secara sadar. Kesadaran akan kematian, kata Heidegger, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan: bahwa hidup ini tidak bisa disia-siakan. Dengan begitu, keseharian tidak lagi menjadi penjara, tetapi ruang untuk menjadi diri yang otentik.

Dalam perspektif Islam, gagasan ini menemukan gema yang menarik. Islam mengajarkan bahwa keseharian memiliki makna tetapi tidak berdiri sendiri. Ia diarahkan pada ibadah, amanah, dan tanggung jawab moral. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan sia-sia. Niat yang benar menjadikan aktivitas biasa bernilai ibadah. Imam al-Ghazali mengingatkan:

Setiap amal tergantung niatnya; dengan niat, yang biasa menjadi bernilai, dan tanpa niat, yang besar bisa menjadi kosong.” Begitu pula Jalaluddin Rumi menulis: “Apa pun yang kau lakukan, lakukanlah dengan hati, karena di sanalah Tuhan menguji tujuanmu.”

Dengan begitu, apa yang disebut Heidegger sebagai hidup otentik bertemu dengan pesan Islam tentang keikhlasan dan kesadaran. Hidup yang bermakna bukan berarti lari dari dunia, tetapi hadir sepenuhnya di dalamnya dengan tanggung jawab, ketulusan, dan kesadaran akan tujuan akhir.

Baca juga:

Maka, keseharian bukan tempat kita bersembunyi dari tanggung jawab, melainkan ruang untuk membentuk diri, menegakkan kejujuran, melawan ketidakadilan, dan mendekat kepada Allah. Hidup bukan sekadar rutinitas yang diterima apa adanya, tetapi proses sadar untuk memberi makna pada setiap langkah sekecil apa pun itu. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

M. Ferdi ansyah
M. Ferdi ansyah Manusia Takut Bodoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email