Digitalisasi yang Melemahkan Daya Pikir

Adhitiya Prasta

4 min read

Bulan Agustus tiba, dan merah putih kembali berkibar di sudut-sudut kota. Dari atap gedung tinggi hingga warung kelontong di gang sempit. Tapi sementara bendera merayakan kemerdekaan yang telah diraih puluhan tahun lalu, kita patut bertanya, apakah pikiran pekerja hari ini sungguh merdeka dari jeratan algoritma dan notifikasi kantor?

Pagi belum lagi rampung membangunkan kota, tetapi ribuan pekerja sudah duduk terpaku di hadapan layar. Entah dari apartemen mungil di pinggir tol, warung kopi waralaba, atau bilik kantor yang remang, jemari mereka berlari cepat menekan tombol, sementara pikiran terombang-ambing di antara panggilan rapat daring, dokumen menumpuk, dan video pendek yang berkelebat ketika mencoba sejenak melepas penat.

Fenomena ini tak sekadar menampilkan kesibukan kota digital masa kini. Walakin, ia juga menyingkap lapisan realitas baru, pekerja modern yang terbenam dalam laju arus data, dipacu untuk bergerak cepat, tetapi perlahan kehilangan ketajaman memori, kesanggupan menganalisis, serta ruang batin untuk sekadar diam dalam kontemplasi.

Pertanyaannya, kini, di bulan yang biasa penuh pidato tentang kebebasan, apakah kita benar-benar lebih produktif, atau hanya semakin mahir bergerak tanpa kedalaman berpikir?

Istilah “brain rot” mula-mula hanya muncul dalam seloroh warganet yang menertawakan kebiasaan mereka menonton video receh berjam-jam. Namun pada 2025, frasa itu bukan lagi sekadar meme. Ia menjelma metafora populer tentang keletihan kognitif massal yang menandai zaman, sebuah ironi ketika otak manusia terhubung ke lebih banyak informasi ketimbang era mana pun dalam sejarah, tetapi justru makin rapuh.

Gejala ini turut mendapat perhatian dunia medis. Studi Loh & Kanai (2014) di jurnal PLOS ONE menunjukkan bahwa multitasking digital berlebih berkorelasi dengan penurunan materi abu-abu di korteks cingulate anterior, pusat kendali impuls dan atensi.

Tinjauan oleh Ding dkk., (2024) justru mencatat penurunan volume materi abu-abu di korteks orbitofrontal remaja akibat konsumsi konten digital yang kompulsif, seakan otak kita menyesuaikan diri dengan pola digital, tetapi tak selalu ke arah yang sehat. Beberapa area hiperaktif, lainnya merosot, memicu ketidakseimbangan yang justru vital bagi pekerjaan modern.

Situasi ini kian menegaskan bahwa “brain rot” adalah konsekuensi logis restrukturisasi otak manusia akibat pola konsumsi digital yang dangkal, repetitif, dan tak kunjung henti.

Baca juga:

Padahal dahulu, bangsa ini mengusir penindasan lewat persatuan dan gotong royong. Namun kini, pekerja justru menanggung beban digital sendirian, terjebak dalam lomba sunyi melawan keterbatasan daya pikir yang perlahan terkikis.

Dunia Kerja Digital yang Memenjarakan Perhatian

Pun, pola ini tak berhenti di layar hiburan. Ia menembus telak ke ranah kerja.

Kita mengenal istilah “Infinite Workday”, saat jam kerja utama pukul 09.00-11.00 dan 13.00-15.00 dijejali rapat virtual bertubi-tubi. Ruang untuk fokus mendalam mengecil drastis. Padahal otak memerlukan waktu hening agar dapat menyusun argumen, mengurai persoalan, atau sekadar menata simpul-simpul ingatan.

Laporan MIT Sloan pada 2021 menunjukkan, rapat daring membuat otak bekerja lebih keras dibanding tatap muka, ditandai dengan lonjakan gelombang teta dan alfa sebagai indikator kelelahan mental. Ia harus memproses sinyal visual yang terpecah, kontak mata buatan, hingga jeda suara digital yang ganjil. Sementara itu, algoritma media sosial mendorong dominasi video pendek (Ipsos, 2025), memanjakan rentang perhatian yang makin ringkas. Kita justru kian mahir mengingat “di mana menemukan informasi,” tetapi enggan benar-benar menyimpannya dalam memori jangka panjang.

Ironisnya, digitalisasi yang digadang-gadang mempercepat distribusi tugas, nyatanya sering menjerat pekerja dalam labirin notifikasi, aplikasi tak terintegrasi, serta tekanan untuk selalu online. Data Digital Workplace Group 2025 menyingkap bahwa pengalaman karyawan digital (DEX) yang buruk—terlalu banyak alat tanpa sinkronisasi, umpan balik minim, pelatihan seadanya—berkontribusi pada frustrasi, turunnya produktivitas, dan lonjakan turnover.

Maka, penurunan fokus, kreativitas, hingga motivasi tak lagi semata tanggung jawab personal. Ia lahir dari struktur kerja modern yang menuntut otak siaga nyaris 24 jam, tetapi jarang memberi ruang pulih yang sungguh.

Paul Virilio, filsuf Prancis yang getir membaca zaman, mengingatkan, “Kecepatan adalah bentuk kekerasan.” Dalam kerja digital, percepatan melahirkan kesan efisiensi, padahal kerap merampas kesempatan otak untuk mengolah reflektif. Kita melompat dari satu tab ke tab lain, dari micro-task ke micro-task berikutnya, merasa produktif, padahal sejatinya hanya mengunyah informasi mentah.

Sementara David Harvey menegaskan, kota, dan kini platform digital global, adalah panggung utama akumulasi kapital. Atensi kita dijadikan komoditas, diperjualbelikan dalam paket iklan yang merayapi layar kerja. Manuel Castells memperdalam kritik ini. Kota, baik fisik maupun maya, menjadi “ruang arus” (space of flows) yang menghubungkan modal, data, manusia. Namun, relasi itu timpang. Tenaga kerja rentan terperangkap pola kerja dangkal, konsentrasinya dipecah, lalu diukur hanya dari seberapa cepat merespons pesan.

Meski demikian, di titik inilah kita mesti jujur mengakui bahwa “brain rot” bukan semata perkara neurologi, melainkan juga sosiologi. Siapa yang sungguh diuntungkan dari percepatan ini? Platform teknologi, perusahaan multinasional, investor yang memanen produktivitas mikro, sementara pekerja perlahan kehilangan kemampuan menelaah sabar, memeriksa kompleksitas, atau bahkan menahan diri dalam sunyi.

Agar Kemerdekaan Tidak Berhenti Pada Bendera

Kerap kita dengar nasihat sederhana, “kurangi layar ponsel, biasakan membaca buku.” Tentu, kendali diri penting. Penelitian Dhana dkk. pada 2018 memperlihatkan aktivitas kognitif seperti membaca mampu memperlambat penurunan daya pikir. Walakin, tubuh tak dapat dipisahkan dari otak. Aktivitas fisik, sebagaimana diungkap Tomoto dkk., (2022), melancarkan aliran darah ke pusat saraf, merawat kebugaran otak yang saban hari dihajar banjir data.

Tetapi laporan SA Journal of Human Resource Management tahun 2025 menegaskan bahwa akar persoalan tak berhenti pada kebiasaan individu. Budaya kerja “always on,” tekanan rapat digital, sistem HR yang menuntut pembaruan realtime, hingga algoritma yang terus menyuntikkan info trivial, semua itu masalah struktural. Tanpa audit menyeluruh pada pengalaman karyawan digital, tanpa penataan ulang jam kerja, atau aturan pembatas notifikasi di luar kantor, “brain rot” hanya akan terus menjadi hantu produktivitas yang tak pernah dijinakkan.

Sementara Akal Imitasi (AI), ironisnya, dapat menjadi musuh sekaligus sekutu. Jika sekadar mempercepat tugas rutin tanpa menurunkan ekspektasi output, pekerja makin terhimpit beban mental. Namun bila dimanfaatkan untuk mengautomasi pekerjaan repetitif agar memberi ruang pikir strategis, teknologi justru dapat memulihkan keseimbangan otak.

Baca juga:

Di Indonesia, semangat gotong royong yang dulu memerdekakan republik ini semestinya dapat menjelma sebagai solidaritas digital. Pemerintah perlu merumuskan regulasi jam kerja daring yang manusiawi, perusahaan mesti jujur mengaudit DEX dan memberi ruang cuti mental health, sementara sekolah menanamkan literasi digital kritis sejak dini.

Pada Ujungnya, Soal Martabat Manusia

Otak manusia tak ubahnya otot. Tanpa latihan refleksi, ia akan mengeras hanya pada gerak tertentu, tetapi lemah bila diajak menempuh jarak pikir yang panjang. Pun pada akhirnya, “brain rot” menjadi potret getir kota digital yang bergerak terlalu cepat, menumbuhkan menara-menara kaca penangkap sinyal, tetapi merapuhkan fondasi paling hakiki manusia, yakni kemampuan memaknai, mengingat, menghubungkan benang merah kehidupan.

Di bulan kemerdekaan ini, pertanyaannya yang layak kita gumuli bersama bukan sekadar bagaimana otak pekerja tetap tajam demi memenuhi target korporasi. Lebih penting, bagaimana pembangunan kota—entah itu jalan tol, superblok, atau server cloud—tidak mengerdilkan martabat manusia menjadi sekadar “processor organik” yang patuh, cepat, namun dangkal?

Agustus ini, bendera mungkin kembali berkibar di banyak kantor. Namun, layakkah kita mengaku telah merdeka bila pikiran masih terpasung dalam tekanan platform, algoritma, dan micro-task yang menumpuk diam-diam?

Karena pada ujungnya, nilai semua modernitas ini tak terletak pada seberapa deras data mengalir, melainkan pada seberapa dalam kita sanggup memahami, dan seberapa luhur kita memelihara daya pikir—sebagai manusia yang sungguh merdeka. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Adhitiya Prasta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email