Arti Cinta
Hingga anakmu bertanya,
Siapa yang kau benar-benar cintai.
Tapi kau, seorang ibu, seorang lesbian.
Di tengah-tengah surga.
Kau telentang mengambang.
Mengelupas neraka dari wajahmu.
Tapi kau jauh lebih permisif dengan neraka.
Karena kau
Mencintai perempuan berumur tiga puluh tahun itu.
Kau rindu berdansa dengannya.
Mengarang kisah akhir.
Kau senang mencium bibir perempuan itu.
Kau senang memegang tangan perempuan itu.
Kau senang melihat ia tersenyum.
Kau senang memandang parasnya.
Hingga anakmu kembali bertanya,
Siapa yang kau benar-benar cintai.
Tapi kau menjawab.
“Ibu tidak pernah merasakan cinta.”
Hingga anakmu kembali bertanya,
“Bagaimana dengan suami Ibu sekarang?”
Namun kau hanya melawan arah,
“Karena cinta selalu membohongi ibu.”
–
Aku Tetap Ingin Bersamamu
Tak ada ruang bagi kita bercumbu.
Menumbuh cinta yang terkutuk.
Di rimbunan pohon berbisa.
Aku mencintaimu secara perlahan.
Supaya tak menyala terlalu terang.
Tak ada ruang bagi kita menyampaikan surat cinta.
Bukan sebuah film berdurasi satu jam.
Cinta kita hanya bisa hidup untuk tujuh belas menit.
Sebab, begitu mereka melihat cinta kita yang luar biasa.
Yang berbisa.
Yang berbunyi.
Yang bernyanyi.
Yang mengikuti.
Yang menyala.
Tetapi cintaku kepadamu
Bukan narkoba.
Bukan dosa.
Bukan tumpukan sampah.
Bagiku.
–
Sebuah Harapan
Matahari terbit menuju kegelapan
Meninggalkan jingga yang tersebar
Aku menggenggam tanganmu yang dingin
Kita bisa berlari seperti laut.
Apa kau masih mencintaiku
Ketika wajahku berubah
Menjadi langit gelap
Dengan konstelasi yang tersebar di langit yang luas?
Tetapi, bahkan di malam hari
Ombak akan terus memeluk pantai
Mereka tidak akan pergi seperti kapal
Tak peduli malam atau siang
Namun matahari akan tetap terbit
Dan, kita bisa membuat rumah
Dari pasir,
Dari kayu apung
Apapun.
–
Seks Sebelum Pergi, Pergi Sebelum Seks
Namun tanganmu terus meraba tubuhku.
Wajahmu yang berumur lima belas tahun.
Telanjangku berumur empat belas tahun.
Talimu dan aku sama. Setara. Tidak adil tentunya.
Bibirmu yang melingkar seperti pekerjaan paruh waktu di musim panas.
Kau menata bagian-bagian tubuhku.
Mencuci.
Kulitmu berdesir, seperti melepuh ketika menyentuh kulitku.
Tanganmu yang terpaku oleh tanganku.
Kita tak dapat berkata apa-apa.
Tatapanmu yang hitam-merona.
Memencar dalam ribuan sembahyang.
Harapan cinta.
Sebelum kau pergi,
Kita hanya sepasang seks yang tak pernah selesai.
Tapi kau kini telah pergi.
Tapi kau kini telah pulang.
Menyangkal seks.
Membunuh seks.
“Kita bukan apa-apa,”
Maka bangsat untuk nafsumu.
*****
Editor: Moch Aldy MA
