Ketika Manusia Lupa Caranya Jadi Manusia

dian ananda permata

2 min read

Perkembangan dunia digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Komunikasi menjadi lebih cepat, akses informasi semakin mudah, dan jarak seolah tidak lagi memiliki batas. Namun di balik kemajuan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam cara manusia memperlakukan sesamanya. Dunia digital tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara manusia memandang kemanusiaan itu sendiri.

Lingkungan kerja di dunia pelayanan sering kali menjadi ruang yang memperlihatkan wajah manusia secara paling jujur. Bukan semata tentang profesi atau tuntutan pekerjaan, melainkan tentang bagaimana manusia berbicara ketika merasa tidak sedang berhadapan langsung dengan sesamanya. Di balik sambungan telepon dan ruang digital, berbagai emosi datang silih berganti: ada keluhan yang disampaikan dengan tenang, ada pula kemarahan yang meluap tanpa batas.

Dalam situasi seperti itu, kata-kata kerap berubah menjadi sesuatu yang tajam. Nada bicara meninggi, kalimat dilontarkan tanpa pertimbangan, bahkan penghormatan dasar terhadap lawan bicara perlahan menghilang. Seolah-olah suara di seberang sambungan hanyalah sistem tanpa rasa, bukan manusia yang juga memiliki batas kesabaran dan perasaan.

Fenomena ini memperlihatkan ironi masyarakat digital hari ini. Semakin canggih teknologi komunikasi, semakin besar pula kemungkinan manusia kehilangan kesadaran akan nilai kemanusiaan dalam percakapan sehari-hari. Jarak yang diciptakan oleh layar dan sambungan telepon membuat sebagian orang merasa bebas meluapkan emosi tanpa perlu memikirkan dampaknya terhadap orang lain.

Ironisnya, di saat yang sama, masyarakat modern sering menampilkan diri sebagai generasi yang penuh empati. Media sosial dipenuhi respons emosional terhadap kisah-kisah pilu. Air mata mudah jatuh melihat penderitaan orang asing di internet. Namun empati yang begitu mudah muncul di ruang virtual tidak selalu hadir dalam interaksi nyata yang sederhana, termasuk dalam cara berbicara kepada sesama manusia.

Baca juga:

Manusia bisa merasa sangat tersentuh oleh video kehidupan malang seseorang di TikTok, tetapi lupa menjaga ucapan ketika berbicara dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Seolah empati hari ini lebih mudah ditunjukkan sebagai reaksi digital dibandingkan sebagai sikap nyata dalam perilaku sosial. Padahal kemanusiaan tidak hanya diukur dari kemampuan merasa iba, tetapi juga dari kemampuan menjaga adab, menghargai orang lain, dan mengendalikan kata-kata.

Sepertinya pembahasan mengenai dunia digital memang tidak akan pernah benar-benar selesai. Setiap hari selalu muncul kritik, kemarahan, perdebatan, hingga penghakiman yang bergerak begitu cepat dari satu layar ke layar lainnya. Ruang digital akhirnya menjadi tempat di mana manusia saling bereaksi tanpa jeda, tanpa kedalaman, dan sering kali tanpa pertimbangan yang utuh. Dalam kondisi seperti itu, muncul kesan bahwa masyarakat sedang berhadapan dengan krisis kemanusiaan yang terus berulang, tetapi perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Cara manusia bersikap di dunia digital telah berubah menjadi moralitas baru masyarakat modern. Sebab yang dulunya dianggap tidak pantas dalam percakapan langsung, kini justru menjadi hal lumrah ketika dilakukan melalui layar. Penghakiman massal, hinaan, kemarahan kolektif, hingga kritik yang kehilangan batas etika sering dipandang sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Akibatnya, sensitivitas terhadap perasaan manusia lain perlahan mengalami penurunan.

Namun persoalan dunia digital sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Di dalamnya selalu ada relasi kuasa yang bekerja melalui sistem. Algoritma, arus informasi, media sosial, hingga opini publik membentuk cara manusia berpikir, bereaksi, dan memandang sesuatu. Dalam pandangan Michel Foucault, kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk aturan yang memaksa secara langsung, tetapi bekerja melalui sistem yang membentuk kebiasaan, perilaku, bahkan kesadaran manusia.

Bacaa juga:

Dunia digital memperlihatkan bagaimana relasi kuasa itu bekerja secara halus. Apa yang viral dianggap penting, apa yang ramai dibenci ikut dibenci, dan apa yang terus diulang perlahan diterima sebagai kebenaran sosial. Manusia merasa bebas berbicara, padahal dalam banyak situasi mereka juga sedang digiring oleh pola sistem yang membentuk emosi kolektif. Kemarahan menjadi cepat menyebar, penghakiman menjadi hiburan, dan reaksi instan dianggap sebagai bentuk kepedulian sosial.

Karena itu, penentangan terhadap kebijakan, kritik terhadap keadaan, ataupun perbedaan pandangan memang akan selalu ada dalam masyarakat. Hal tersebut bukan sesuatu yang harus dilarang, sebab kritik merupakan bagian dari kehidupan sosial dan demokratis. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika kritik kehilangan substansi dan berubah menjadi pelampiasan emosi yang menghilangkan sisi kemanusiaan.

Pada titik inilah dunia digital memperlihatkan paradoksnya. Teknologi diciptakan untuk mendekatkan manusia, tetapi sistem di dalamnya justru mampu menciptakan jarak emosional antarmanusia. Orang semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit memahami. Semakin mudah bereaksi, tetapi semakin jarang merenung. Dan perlahan, masyarakat mulai terbiasa hidup dalam ruang yang bising oleh opini, namun miskin kepekaan.

Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern hari ini bukan kurangnya teknologi, melainkan menurunnya kesadaran bahwa di balik setiap akun, suara, komentar, dan sambungan telepon, selalu ada manusia yang tetap pantas dihargai sebagai manusia. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

dian ananda permata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email