Tubuh Bu Haji hampir terjengkang tatkala menahan suaminya yang seperti hendak meledak dipenuhi hasrat untuk menggorok. Golok berlumur darah kambing diacung-acungkannya ke udara. Pelataran masjid jadi tempat mencekam, semua mundur, bersembunyi di balik pohon, kalang kabut mengunci diri di dalam rumah warga terdekat, bahkan ada yang tak sengaja terperosok kemudian harus berdiam sembunyi di dalam parit untuk beberapa saat.
Siapa yang tidak marah dituduh korupsi daging kurban?
Ketulusan Pak Haji untuk menuntun kambing-kambing yang bau apak semenjak subuh seakan sia-sia. Ucapan pemuda buruk rupa yang tak diketahui asal maupun namanya itu benar-benar membuat geger. Pemuda yang kini lari terbirit-birit. Takut jadi daging kurban.
Pak Haji kurang tidur akibat takbiran sepanjang malam. Pagi harinya mesti menyiapkan masjid buat warga berkumpul melakukan salat tahunan, siang sedikit harus menyembelih seekor sapi dan lima kambing, mencuci jeroan berisi tahi di sungai dengan jalan berkelok penuh bebatuan licin.
Mungkin orang-orang bisa memahami mengapa ia bisa begitu marah. Rasa lelah—mengiris daging, menimbang, hingga membagikannya dari pintu ke pintu—bercampur kecewa dan kurang tidur pasti telah menyulap hatinya jadi mercon yang ganas. Mercon yang membuat penyulutnya takut sendiri lalu kabur tak kelihatan lagi batang hidungnya.
Membawa timbangan di pelukannya. Bersama sang istri ia mendatangi rumah warga satu per satu. Menimbang ulang daging kurban yang telah dibagikan. Memastikan semuanya sama rata, adil dan tidak ada kecurangan. Jadwal terapinya ke dr. Krea menjadi tertunda tapi semua ini demi harga diri. Fitnah harus dilawan meski sudah menyebar. Beberapa rumah sudah mengolah daging itu menjadi sate, gulai, hingga tongseng yang aromanya begitu menggoda perut-perut yang keroncongan.
Mereka memilih percaya pada Pak Haji. Menampik berita korupsi yang masih hangat. Toh selama ini Pak Haji adalah tokoh yang dermawan. Meskipun tubuhnya gempal, ia bukanlah orang yang serakah, ia rajin berbagi kepada kanan kiri.
****
“Alhamdulillah…” Suara sepasang haji itu menggema di ruang praktik dr. Krea.
Lembar berisi hasil pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula darah sudah tidak lagi berisi angka berwarna merah. Bagaikan bulan Syawal yang menghapus letupan mercon di bulan Ramadan, selembar kertas hasil pemeriksaan itu terasa seperti hadiah indah bin melegakan setelah hari yang cukup menguras kesabaran saat menghadapi fitnah murahan.
Memang akhir-akhir ini Pak Haji secara tidak langsung jadi rajin berolahraga. Keliling kampung untuk memastikan Idul Adha tahun ini berlangsung dengan lancar dan penuh berkah, ditambah lagi dengan adegan heroiknya menimbang ulang daging kurban. Mungkin itulah alasan dari hasil pemeriksaan yang jauh membaik. Setelah berkeliling kampung sambil membopong timbangan, tidurnya pada malam hari pun jadi lebih nyenyak. Mungkin begadang memang tidak baik bagi kesehatan seseorang di umur beliau.
Pak Haji dan Bu Haji pulang. Sumringah seperti pengantin baru. Sementara dr. Krea memberi kode kepada pemuda buruk rupa yang hampir digorok lehernya itu untuk keluar dari persembunyiannya di ruang sebelah. “Terima kasih sudah membuat pasienku jadi lebih banyak bergerak!” Sembari memberikan salam tempel. Pemuda buruk rupa tentunya senang. Hanya modal memancing emosi ia bisa dapat uang.
Dengan langkah yang agak berlompatan girang, pemuda itu meninggalkan klinik bertuliskan: Praktik dr. KreaTif, Sp.PD.
*****
