Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Upacara dalam Diri dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

Hari Pahlawan
: 10 november

udara dilipat dua.
setengah untuk upacara,
setengah untuk roh yang belum diundang.

pengeras suara mendengung:
“hening cipta dimulai…”
suara itu menggigil
seperti kabel listrik yang dipaksa berdoa.

di halaman istana
marsinah berjalan pelan,
menyapu jejak pabrik dari sepatunya.

di seberang sana
soeharto memegang buket bunga,
kelopaknya terbuat dari arsip rahasia.

keduanya berdiri di bawah bendera yang sama,
tapi warna merahnya tak berhenti menetes.

kamera berputar.
anak-anak sekolah menulis catatan:
kepahlawanan adalah sistem pengarsipan kematian.

tiang bendera menunduk,
presiden tersenyum lembut
(ada sedikit darah di ujung kalimatnya).

tahun depan
akan ditambah beberapa nama lagi,
kata juru acara,
tubuh-tubuh yang baru saja ditemukan
di antara tumpukan sejarah.

hening cipta selesai.
tepuk tangan.
semua orang pulang.
hanya angin yang tahu
siapa yang sebenarnya sedang diheningkan.

Hening Cipta

10 : 00
udara dilipat
waktu diluruskan
kepala ditundukkan

hening cipta dimulai,”
kata pengeras suara
yang sebenarnya cuma tulang besi
belajar jadi doa.

marsinah muncul dari mikrofon
suara gemerisiknya jadi debu.

soeharto muncul dari layar besar
tersenyum lembut,
pakaian bersih, sejarahnya tidak.

di luar upacara
burung-burung menolak diam
karena mereka tidak mengenal kata “pahlawan.”

hening cipta
terjadi seperti padamnya listrik nasional:
semua berhenti
tanpa benar-benar tahu kenapa.

dan saat doa ditutup,
seseorang di belakang membisik:
“tahun depan,
akan lebih ramai lagi.”

Foto Bersama

mereka disuruh berdiri berjejer.
soeharto, gus dur, marsinah,
dan tujuh nama lain yang diambil dari berbagai bab luka.

kamera bergetar,
karena fotografernya gemetar juga.
mungkin bukan karena takut,
tapi karena sejarah sedang menyatukan yang tak bisa disatukan.

klik.
foto itu jadi abadi.
tapi bayangannya retak di bagian tengah:
antara yang memerintah dan yang diperintah,
antara yang dibungkam dan yang diberi panggung.

Surat kepada Pahlawan yang Tidak Dikenal

aku ingin menulis surat
kepada semua yang tidak punya alamat.

kepada perempuan yang memeluk anaknya
di bawah jembatan layang,
yang menolak menyerah pada dingin
dan tidak tahu bahwa ia sedang menulis bab baru
dalam sejarah kesetiaan.

kepada satpam yang menahan lapar,
agar malam tetap terasa aman bagi yang tidur.

dan kepada kamu, yang masih berani jatuh cinta
di negeri yang mencurigai segala bentuk ketulusan.

Upacara di Dalam Diri

kami berdiri tegak di dalam dada masing-masing,
menyanyikan lagu kebangsaan tanpa suara.

tiap denyut jantung adalah tiang bendera,
tiap napas adalah hormat senyap
bagi mereka yang gugur tanpa peringatan.

di sini, hening cipta bukan satu menit,
melainkan seumur hidup
karena tak ada lagu penutup
untuk perjuangan yang tidak selesai.

Draf Sumpah Tanpa Tanah Air

kami, yang berdiri di antara wifi dan doa,
bersumpah setia kepada yang tak pernah disebut:
kepada tukang parkir,
kepada pengirim paket,
kepada ibu yang masih menanak nasi tanpa listrik.

kami tidak menjanjikan kemerdekaan,
kami hanya ingin upah yang layak.
kami tidak membawa senjata,
kami membawa bukti transfer yang ditunda.

dan dari celah layar ponsel
keluar satu kalimat yang terus berdenyut:
negeri ini berdiri di atas saldo minimum.”

(Yogyakarta, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email