I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Tulang Punggung yang Patah

Rizal Nurhadiansyah

7 min read

Kepala Asep rasanya seperti baru saja dijadikan bantalan tinju oleh Mike Tyson di masa jayanya. Berdenyut. Panas. Pandangannya berkunang-kunang dengan filter sepia, seolah dia sedang hidup di dalam flashback film dokumenter zaman penjajahan. Suhu tubuhnya menyentuh angka 39 derajat celsius. Angka yang cantik untuk mengerami telur ayam, tapi sangat buruk untuk mengendarai motor di jalanan Jakarta.

Dia duduk di tepi kasur busa yang sudah kempis di tengah, menatap menu sarapannya pagi ini: dua butir parasetamol kedaluwarsa dan satu saset minuman energi rasa anggur kimiawi. Lambungnya yang kosong melilit perih. Bakteri Salmonella typhi di ususnya sedang menggelar pesta rakyat, menuntut asupan gizi.

Asep merobek sachet minuman energi itu dengan gigi. Dia menenggak bubuk kuning neon itu langsung ke mulut, lalu menyusulnya dengan dua butir obat. Tanpa air. Dia mengunyahnya. Pahit kapur obat beradu hantam dengan manis biang gula di lidahnya. Rasanya seperti menelan baterai bocor (ya, Asep pernah menelannya sewaktu kecil). Asep bergidik ngeri. Energinya naik drastis, atau mungkin itu hanya detak jantungnya yang mulai aritmia.

Tepat saat dia menelan ludah terakhir yang terasa sepat, ponsel pintar cina dengan layar retak miliknya bergetar hebat. Layar menyala terang, menampilkan notifikasi dari aplikasi Ojek Kilat.

“SELAMAT PAGI MITRA JUARA! LANGIT MENDUNG, REJEKI MENGGUNUNG! KEJAR INSENTIF HUJAN. SELESAIKAN 20 ORDER, DAPATKAN BONUS TUNAI 200 RIBU RUPIAH! AYO GASPOLL!”

Dua ratus ribu. Mata Asep yang sayu langsung membelalak. Dua ratus ribu adalah angka sakral. Itu harga minimal untuk memperpanjang napas ekonomi keluarga ini selama tiga hari ke depan.

“Sep! Asep!”

Suara teriakan Ibu menembus dinding triplek kamar sempit itu. Melengking tinggi, mengalahkan suara token listrik yang sudah berbunyi tit-tit-tit sejak subuh tadi.

“Iya, Bu,” jawab Asep lemas. Suaranya serak, terdengar seperti gesekan amplas kasar.

“Nanti pulang beliin obat darah tinggi Ibu! Jangan sampai salah kayak kemarin, Ibu mual! Beli yang paten di apotek depan!”

Asep memejamkan mata. Kepalanya kembali dihantam palu godam tak kasat mata. Ibunya butuh obat untuk darah tinggi. Sementara Asep mengobati tifus stadium lanjut dengan obat kedaluwarsa, sugesti dan minuman saset seribuan. Prioritas di rumah ini memang ajaib.

Belum sempat dia menarik napas, ponselnya bergetar lagi. WhatsApp masuk. Kali ini dari Dodi, adiknya.

Foto terlampir: Surat Peringatan Tunggakan UKT dari Rektorat.

Di bawahnya ada pesan singkat: 

“Bang, portal akademik ditutup besok jam 12 siang. Kalo belom lunas, Dodi cuti paksa. Malu sama pacar kalo nggak lulus taun ini.” Disusul stiker kucing menangis memegang mangkuk kosong.

Asep menatap layar itu datar. Dia mengetik balasan singkat: 

“Y.”

Dia bangkit berdiri. Lututnya gemetar hebat. Dunia di sekitarnya bergoyang miring ke kiri. Asep berpegangan pada lemari plastik agar tidak ambruk. Dia mengambil jaket hijau kebanggaannya dari gantungan paku di balik pintu. Jaket itu bau apek, campuran aroma keringat kering, asap knalpot Metro Mini, dan daki perjuangan.

Dia menyarungkan jaket itu ke tubuhnya yang menggigil. Hawa panas dari badannya terperangkap di dalam jaket sintetis itu, menciptakan efek sauna pribadi yang menyiksa. Dia meraih helm. Busa helm yang lembap langsung menempel di pipinya yang demam. Rasanya lengket dan menjijikkan.

Asep menyeret langkahnya keluar kamar, melewati ibunya yang sedang asyik menonton acara infotainment di ponselnya dengan volume maksimal. Dia menuntun motor metik cicilan ke-22 itu keluar dari teras sempit. Langit Jakarta di atas sana berwarna abu-abu busuk, menggumpal tebal, siap memuntahkan air bah.

Angin kencang menerpa wajah pucatnya. Asep menyalakan mesin motor. Suara knalpot batuk-batuk sejenak sebelum menderu kasar.

“Insentif dua ratus ribu,” gumam Asep pada spion motor yang kaca kirinya sudah pecah.

Dia menarik gas. Motor melaju membelah gerimis, membawa tubuh demam itu menuju jalanan ibu kota yang siap menelannya bulat-bulat.

***

Langit Jakarta tidak lagi menahan diri. Awan hitam di atas sana robek, menumpahkan air bah yang menghantam aspal dengan kekerasan level tawuran pelajar. Butiran airnya besar dan padat, terasa seperti kerikil es yang dilemparkan setan ke wajah Asep. Visor helmnya sudah berembun total. Dia menyetir dengan insting, meraba jalanan lewat getaran ban motor yang menghajar lubang.

Orderan pertama adalah sebuah barang yang dikemas rapi dalam kardus kecil. Tujuan pengantaran: Cluster Pondok Indah. Barang yang diantar: serum anti-penuaan dini seharga dua setengah juta rupiah.

Asep memegang paket itu dengan tangan gemetar. Uang senilai tiga bulan cicilan motornya ada di dalam genggaman, terbungkus bubble wrap tebal. Dia sendiri menua sepuluh tahun dalam satu jam terakhir. Tubuhnya menggigil hebat di balik jas hujan plastik seharga sepuluh ribu perak yang mulai sobek di bagian ketiak. Keringat panas merembes dari pori-porinya, terperangkap, lalu mendingin dihajar suhu luar. Rasanya seperti dibungkus kain kafan basah.

Sampai di gerbang cluster, satpam dengan seragam putih rapi menatapnya jijik. Asep menyerahkan KTP-nya yang sudah luntur dan melengkung karena sering kehujanan. Dia masuk, mencari nomor rumah yang pagarnya lebih tinggi dari harapan hidupnya.

Pemilik rumah keluar. Seorang wanita paruh baya dengan kulit yang kencang. Dia mengambil paket itu tanpa menatap wajah Asep, lalu menyemprotkan hand sanitizer ke bungkusan paket itu. Juga ke arah wajah dan tangan Asep.

“Makasih, ya. Walaupun agak lama nih sampainya,” gumam wanita itu ketus, lalu gerbang otomatis menutup perlahan di depan hidung Asep.

Asep hanya mengangguk kaku sambil nyengir seadanya. Dia kembali ke motornya. Gigi gerahamnya beradu keras. Tak-tak-tak-tak. Bunyinya nyaring di dalam helm, mirip suara dua logam yang diadu. Tubuhnya mendadak kejang karena kedinginan, atau mungkin karena sistem sarafnya mulai korslet.

Ponselnya berbunyi lagi. Ting-nong!

“Orderan Baru: Gofood. Seblak Jeletot Mampus Level 5. Jarak jemput 2km. Jarak antar 8km.”

Asep menatap layar dengan pandangan kabur. Level 5. Orang ini memesan makanan pencabut nyawa di tengah badai. Asep menekan tombol terima. Jari jempolnya terasa baal, tapi dia butuh poin. Dia butuh 200 ribu itu.

Perjalanan menuju warung seblak adalah sebuah tantangan. Jalanan mulai tergenang. Air cokelat setinggi betis melahap trotoar. Knalpot motor di depannya mengepulkan asap putih tebal. Asep nekat menerobos genangan. Kakinya yang terbungkus sepatu converse palsu itu langsung basah kuyup. Air got dingin menyusup masuk, membelai jari-jari kakinya yang sudah keriput.

Di warung seblak, uap cabai mengepul ganas. Baunya menusuk hidung, membuat perut Asep yang kosong bergejolak ingin muntah. Penjual seblak menyodorkan kantong plastik panas.

“Hati-hati, Bang. Kuahnya penuh. Jangan tumpah, nanti diamuk pelanggan,” kata si penjual sambil sibuk mengulek kencur dan cabai.

Asep mengikat kantong itu di gantungan motor. Lalu ponselnya kembali berdering. 

“Halo?” suara Asep bergetar hebat, terdengar seperti robot rusak.

“Mas, ini kok diem aja di peta? Gerak dong! Saya laper nih, keburu maag saya kambuh! Mas mau tanggung jawab?” suara perempuan muda melengking di ujung sana.

Asep ingin tertawa, tapi yang keluar hanya batuk kering yang merobek tenggorokan. Pelanggan ini takut maag-nya kambuh karena telat makan seblak pedas, sementara Asep sedang mempertaruhkan nyawa dengan usus yang mungkin sudah bolong digerogoti bakteri.

“S-s-siap, Kak. I-i-ini b-b-banjir,” jawab Asep terbata-bata. Giginya kembali saling beradu.

“Alesan aja! Banjir kan cuma semata kaki! Mas kan laki, masa gitu aja ngeluh? Buruan ya, awas kalo dingin saya kasih bintang satu!”

Sambungan putus.

Asep menatap nanar ke depan. Jalanan di depannya bukan lagi aspal, melainkan sungai cokelat yang mengalir deras membawa sampah styrofoam dan popok bayi bekas. Lampu lalu lintas di perempatan menyala merah, tapi di mata Asep, cahaya itu melebar, berpendar indah, seolah menjadi lorong cahaya yang memanggilnya pulang.

Dia menggelengkan kepala kuat-kuat. Belum waktunya pulang ke rahmatullah, pikirnya. Dia harus pulang ke rumah kontrakan membawa uang.

“Bintang satu…” gumam Asep lirih. “Jangan sampe bintang satu. Nanti akun anyep.”

Dia memutar gas. Motor metiknya mengerang, roda berputar membelah arus banjir yang semakin tinggi, membawa Asep dan seblak level 5 menuju takdir yang basah.

***

Air banjir itu punya kepribadian. Dia dingin, bau, dan tidak punya tata krama. Di kawasan Kemang yang elit itu, air cokelat pekat naik pangkat dengan cepat. Tadi hanya sebatas betis, sekarang sudah menjilat pinggang. Mobil-mobil sedan mewah mengapung pasrah seperti mainan bebek karet di bak mandi raksasa.

Motor Asep terbatuk keras. Grogok-grogok. Suara mesin tua itu terdengar seperti orang yang tercekik dahak. Knalpot di bagian bawah sudah sepenuhnya tenggelam, meminum air comberan Jakarta dengan rakus.

Sesaat kemudian, hening.

Mesin mati total. Getaran yang menemani bokong Asep selama dua tahun terakhir hilang seketika. Hanya ada suara hujan yang menghantam helm dan gemuruh air bah.

Jantung Asep mencelos jatuh ke lambung. Matanya melotot horor menatap panel spidometer yang jarum bensinnya menunjuk huruf E—Empty, atau mungkin End.

“Jangan mati… jangan mati, Sayang… plis,” bisik Asep pada motornya. Dia menepuk-nepuk stang motor itu selayaknya menepuk pipi kekasih yang pingsan.

Dia mencoba menekan tombol starter. Ctek-ctek. Kosong.

Dia menggenjot kick starter dengan sisa tenaga di betisnya yang gemetar. Sret. Sret. Sia-sia. Kompresi hilang. Ruang bakar sudah menjadi akuarium.

Dua kata horor melintas di benak Asep, lebih menakutkan dari diagnosa dokter manapun: Turun Mesin.

Bayangan biaya servis menari-nari di pelupuk matanya. Tujuh ratus ribu. Satu juta. Ganti seher. Ganti oli. Kuras tangki. Angka-angka itu berputar, bercampur dengan wajah debt collector dari leasing yang punya kumis setebal sapu ijuk.

“Aset gue…” Asep merintih. “Harapan gue…”

Dia turun dari motor. Kakinya langsung disambut dinginnya air banjir yang menusuk tulang sumsum. Celana jinsnya memberat, menyerap air kotor seberat dosa. Sepatu converse palsunya terbenam dalam lumpur tak terlihat di dasar jalan.

Asep mencengkeram stang motor. Dia mulai mendorong.

Berat.

Motor metik itu terasa seberat tank baja. Tanpa bantuan tenaga mesin, benda itu hanyalah tumpukan besi rongsok seberat seratus kilogram yang menolak diajak kerjasama. Arus air menabrak tubuh kurus Asep dari depan, mendorongnya mundur.

Asep menggeram. Dia memiringkan tubuh, melawan arus. Otot bahunya menjerit bersamaan dengan urat lehernya menonjol. Di dalam tubuhnya, bakteri tifus bersorak kegirangan merayakan kebodohan inangnya. Demamnya melonjak naik. Kulit luarnya membeku kedinginan, organ dalamnya mendidih kepanasan.

Setiap langkah Asep adalah penyiksaan.

Satu langkah.

Asep ingat wajah adiknya yang minta uang semesteran.

Dua langkah.

Asep ingat ibunya yang butuh obat.

Tiga langkah.

Asep ingat insentif 200 ribu.

“Demi dua ratus ribu… demi dua ratus ribu…” mantra itu dia rapalkan berulang-ulang, bersaing dengan suara guntur.

Di gantungan motor, plastik Seblak Level 5 terombang-ambing dihajar ombak banjir. Kuah merah pedas itu mulai rembes, menetes keluar, mencemari banjir Jakarta dengan bumbu micin yang mematikan. Asep melihatnya sekilas. Bintang satu sudah di depan mata. Penangguhan akun menanti.

Pandangan Asep mulai berubah. Lampu jalanan yang temaram terlihat seperti mata yang menatapnya sinis. Sampah kasur yang hanyut di sebelahnya terlihat seperti permadani terbang. Dia mulai berhalusinasi.

Dia merasa motor yang didorongnya bukan lagi benda mati. Motor itu seolah hidup. Ia itu menyedot nyawanya lewat stang, menjadikannya bahan bakar pengganti bensin. Asep adalah bensinnya. Tubuhnya dibakar perlahan untuk menjaga roda ekonomi keluarga tetap berputar satu milimeter lagi.

“Dikit lagi, Sep. Dikit lagi ada bengkel,” dia membohongi dirinya sendiri. “Kalo motor ini rusak, keluarga lo makan batu.”

Asep terus mendorong meski kakinya kram, kaku seperti kayu. Napasnya terengah-engah, mengeluarkan uap putih. Dia menyeret “aset”-nya yang sudah mogok itu membelah lautan air keruh. 

Di kejauhan, trotoar terlihat sedikit lebih tinggi. Tempat yang aman. Asep memfokuskan sisa kesadarannya ke titik itu.

***

Trotoar itu terlihat seperti tanah suci. Semennya retak-retak dan sedikit menyembul di atas permukaan air keruh. Bagi Asep, itu adalah satu-satunya tempat kering di dunia. Dia memfokuskan tatapannya ke sana. Tinggal dua meter lagi. Dua meter menuju keselamatan mesin motor dan dengkulnya yang sudah mau copot.

Namun, dia tidak tahu bahwa trotoar itu menyimpan kejutan.

Tepat di jalur langkah kaki Asep, ada sebuah lubang persegi empat yang menganga lebar. Gelap dan diam. Permukaan air banjir yang tenang menyembunyikan mulut beton itu dengan sempurna.

Penutup besi gorong-gorong itu sudah hilang sejak semalam. Seorang pemulung yang rajin telah mencungkilnya dengan linggis, membawanya pergi dengan gerobak, dan menukarnya di lapak besi tua seharga lima belas ribu rupiah. Lima belas ribu untuk besi penutup, nyawa Asep dijual seharga dua bungkus rokok kretek. Ekonomi jalanan bekerja dengan efisiensi yang brutal.

Asep mengambil langkah terakhir.

Kaki kanannya mendarat di aspal. Aman.

Kaki kirinya melangkah maju, mencari pijakan. Dan…

Blos.

Tubuh Asep, yang sudah lemas karena tifus dan kedinginan, langsung kehilangan keseimbangan. Dia terhuyung ke depan. Tangannya secara refleks melepaskan stang motor.

“Anj—”

Hanya itu kata terakhir yang sempat dia ucapkan. Barangkali, itu ucapan yang merangkum riwayat hidupnya. Anjing, memang.

Motor metik cicilan itu jatuh ke samping, menimbulkan bunyi gedebum tumpul yang teredam air. Plastik Seblak Level 5 pecah, menumpahkan kuah merah berminyak yang langsung berbaur dengan air banjir.

Tubuh Asep meluncur mulus masuk ke dalam lubang itu.

Byur.

Dunia mendadak berubah vertikal. Air keruh dingin menyambutnya. Asep tersedot masuk ke dalam perut bumi Jakarta.

Arus di bawah sana jauh lebih kuat daripada di permukaan. Saluran drainase ini tak bisa dilawan. Airnya deras, pekat, dan membawa segala macam dosa peradaban. Asep tergulung-gulung. Dia menabrak dinding beton yang berlendir. Kepalanya membentur pipa PVC.

Gelap total. Hanya ada bau.

Bau itu menerjang masuk ke hidung dan mulut Asep yang megap-megap. Aroma telur busuk, kotoran manusia, bangkai tikus, dan limbah deterjen bercampur menjadi parfum kematian yang orisinil.

Asep mencoba menggapai-gapai. Jarinya menyentuh sesuatu yang lunak dan berbulu—mungkin bangkai kucing, mungkin gumpalan rambut dari salon. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin naik. Instingnya ingin berteriak minta udara. Tapi tubuhnya menolak perintah otak. Otot-ototnya yang kram akibat mendorong motor kini mogok total. Demam tingginya bertemu dengan air selokan bersuhu dingin, menciptakan syok.

Kesadarannya mulai memudar dan rasa sakit di kepalanya hilang. Rasa perih di lambungnya pun lenyap.

Di dalam kegelapan pipa beton berdiameter satu meter itu, Asep merasa lebih ringan. Tidak ada beban motor, beban obat ibu, atau pun beban UKT adik.

Dia melayang mengikuti arus. Tubuhnya hanyalah objek pasif sekarang. 

Pikiran terakhirnya, sebelum otaknya berhenti bekerja, sangat sederhana dan sangat Asep:

Sayang banget itu seblaknya tumpah.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizal Nurhadiansyah
Rizal Nurhadiansyah I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email