Bukan penyair, hanya mengeluh dengan estetika. Sebab jujur dan terbuka, masih marginal.

Tulang di Punggung Ayah dan Puisi Lainnya

YH Harahap

1 min read

Tulang di Punggung Ayah

di punggung ayah
tulang-tulang selayak jalan menuju desa
menonjol setapak sebagai ruas penghidupan
bagi kaki-kaki yang dilupakan negara

di punggung ayah
tulang-tulang bagai tanah kerak sawah
menjalar berbelah menelan sisa-sisa
pada yang dihabisi paceklik dan manyar

di punggung ayah
tulang serupa pajak yang dipungut dari lapar
setiap geraknya adalah doa-doa sehela tenang
meski yang mulia menyembelih citanya
sembari joget murah meriah di istana

Wajah Baru

di kota saya
orang-orang berwajah baru lantang teriak maju
bukan pamer AI terlebih bicara kapitalisasi
yang pasti sering velocity dan count body

dengan logat emas tiga karat
bangga persembahkan otak berkarat
bonusnya, 
adab 

                                    sekarat

Komoditas Kebijakan

bila kau sempat datanglah ke desa kami
di mana cinta dan kehormatan tak dijual
di sini, kami sejahtera tanpa kapita
kami berbahagia tanpa stastistika

setidaknya itu yang dipahami
dari pintu ke ladang
MCK umum hingga talang
dan ke mana saja kami bertandang

hingga tahun politik datang
bersama baliho orang-orang terpelajar
begitu mereka diperkenalkan
—si cerdas yang mantranya sarjana,
magister kebijakan dan
doktoral disertasi bawah meja
terpampang artistik di sopo godang

kemiskinan harus dituntaskan
pilih saya menjadi yang tiada dua

mulai dari pendidikan gratis
makan gratis hingga menikah juga gratis
kepala kami adalah sampel gratis
nama yang didakwa tertinggal
hadir di kanal praktisi ke(melarat)sejahteraan. 

entah apa dipelajari pendidikan kurikulum
hingga kami langganan komoditas unggul
tak pernah alfa dilelang di pasar politikus

Cara Kerja Dunia terhadap Kecantikan

aku senang aku tak cantik
sebab konon lelaki di tempatku hidup
hanya membeli perempuan rupawan

ibu terlihat benci melihat rupaku
nasehat favorit ibu adalah;
berdandanlah yang benar
biar lelaki mau menikahimu! 

(kadang aku curiga ibu tak bisa
membedakan menikahi dan membeli)

aku seratus persen yakin demi nama dewa
jika aku cantik ibu sudah menjualku sejak lama

namun aku tumbuh menjadi apa adanya
—buruk rupa—dan dunia menyelamatkanku
dari perdagangan manusia

Menikah Itu Ibadah, Separuh Agama 

ibu sudah menikah tujuh kali
setiap kali aku bertanya kenapa
ibu katakan menunaikan perintah
menikah itu ibadah, separuh agama

aku perawan tiga puluh tahun ini
setiap kali ibu mulai mengintrogasi
apa sebab aku miskin ingin atau lesbi
aku menjawabnya dengan santai;

aku sudah lama tak beragama bu
menikah itu ibadah, separuh agama.

*****

Editor: Moch Aldy MA

YH Harahap
YH Harahap Bukan penyair, hanya mengeluh dengan estetika. Sebab jujur dan terbuka, masih marginal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email