Pengamat twitter, bisa ditemui di Jakarta dan sekitarnya seperti azan magrib.

Tuhan, Ini Surga, Bukan?

Inas Pramoda

2 min read

Aku sungguh tidak begitu ingat apa yang terjadi. Seingatku, dari sore itu jalanan memang ramai. Kawanku bilang ada demo. Aku mau ikut demo, tapi sepertinya lebih banyak yang butuh tumpanganku ke tempat aksi, jadi aku memilih bolak-balik antar jemput penumpang. Semua penumpang baik-baik hari itu. Aku selalu diberi bintang lima, diberi tip, dan diucapkan hati-hati di jalan. Begitu sudah malam, aku bilang ke kawanku mau antar pesanan makanan di seberang jalan. Habis itu, aku mau menemaninya lagi. “Tunggu di sini, jangan ke mana-mana,” kataku. Motor kutitipkan di sebelah motornya. Aku harus berjalan kaki karena lebih cepat ketimbang naik motor.

Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah mengantar pesanan itu. Seingatku, orang-orang berlarian. Entah kenapa mereka lari-lari seperti kesetanan. Aku ingat tempatku memarkir motor, tapi aku lupa apakah masih ada kawanku. Aku menyeberang jalan mau ambil motorku buru-buru. Tadi kutaruh di sana. Kalau motor itu kenapa-kenapa, besok aku bakal bingung seharian. Karena cuman satu, motor itu jadi satu-satunya. Dan kalau yang satu itu hilang, aku tidak punya apa-apa lagi yang berharga.

Bulan lalu aku baru ulang tahun ke dua puluh satu. Umurku lebih tua dari motorku. Dan karena umurnya lebih muda, dia jadi lebih mahal dibanding aku sendiri. Jadi aku harus buru-buru menyeberang jalan biar memastikan motorku aman. Soalnya aku tidak tahu apakah kawanku masih menjaganya atau tidak.

Sejujurnya, aku lebih mahir menyeberang jalan naik motor daripada jalan kaki. Tukang ojek memang harus lebih pandai mengendarai motornya daripada kakinya sendiri. Dan sepatuku malam itu memang kurang pas di kaki, agak kebesaran. Di malam-malam lain sepatuku memang selalu kebesaran. Mau bagaimana lagi, sepatu seken cuman satu ukuran. Aku biasa mengakalinya pakai kaos kaki agak tebal, tapi kaos kakiku yang itu masih dicuci. Jadi malam itu aku terpaksa menyeberang jalan dengan sepatu agak kebesaran tanpa kaos kaki.

Aku benar-benar lupa bagaimana bisa terjatuh malam itu, entah menginjak tali sepatu yang lepas, tersandung batu, atau ketendang kaki sendiri. Yang benar-benar masih kuingat hanya lampu menyorot mataku. Aku tidak pernah melihat cahaya seterang itu, bahkan waktu lomba berlama-lama menatap matahari pas kecil sama anak tetanggaku.

Hari sudah bukan lagi malam saat aku membuka mata. Langit cerah. Aku masih pakai jaket ojol dan kontak motorku masih di saku celana. Sepatuku terasa pas di kaki. Aku sudah memakai kaos kaki tebal yang harusnya masih dijemur. Orang-orang sudah pergi. Demonya sudah selesai? Alhamdulillah motorku masih terparkir di tempatnya semula. Jakarta tidak pernah terasa sesepi ini. Aku harus pulang ke rumah. Di sini rasanya cuman ada aku seorang. Ada apa tadi malam? Ke mana orang-orang? Aku suka kota yang ramai dan gaduh. Aku harus pulang.

Dalam semalam, kota ini berubah total. Sejauh apa pun dan secepat apa pun motorku melaju, tidak pernah dia sampai ke rumah. Ini sudah berjam-jam. Aku bolak-balik kembali ke tempatku memarkir motor semalam. Hari yang aneh, kota yang asing. Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Hingga seorang ibu-ibu berjilbab pink muncul berjalan kaki sambil menenteng-nenteng bambu.

“Bu, ini di mana?”

“Mau ke mana lu?”

“Saya mau pulang, Bu.”

“Ayo Ibu anter.”

“Ibu mau antar ke mana?”

“Ya mau nganter lu pulang.”

Tiba-tiba ia naik ke motorku dan menyuruhku duduk di belakangnya. “Kuncinya mana?” Aku nurut saja karena hanya bisa mengandalkan ibu ini.

“Pakai helm, Bu.”

“Gak usah.”

“Nanti ditilang polisi.”

Spontan ia marah-marah sendiri. “Polisi bangsaaat, anjiing! Kemarin bawa ituan lu…” ia berhenti sejenak melirikku. “Ituan tuh… yang air-air itu loh.”

“Gas air mata?”

“Kemarin bawa gas air mata lu. Mata lu picek itu. Mata lu buta anjiing! Lu belain siapa lu anjiiing! Anak orang diituin lu! Anak orang digasin lu! Anak orang dilindes lu! Oooh awas lu! Mudah-mudahan lu perutnya pada busuk! Liatin lu ntar perutnya busuk semua!”

Sejujurnya aku belum siap mendengar ibu-ibu bilang anjing pagi-pagi. Berjilbab pink. Sandal jepit. “Ibu siapa?”

“Udah, naik lu.”

Aku nurut karena takut dikatain anjing dan didoain perutnya busuk. Ia menggeber motor lalu pergi. Awalnya tanganku pegangan ke behel belakang, tapi lama-lama kupindahkan ke lutut karena ternyata ia memboncengku pelan-pelan. Dari kaca spion, tampak banyak motor mengiringi di belakang. Begitu menoleh, aku melihat iring-iringan motor berjaket ojol tidak berujung.

“Bu, itu mau pada demo lagi?”

“HAH? APAAN?”

“ITU, DI BELAKANG, BANYAK MOTOR, MAU PADA DEMO LAGI?”

“DEMONYA NANTI, SEKARANG MAU NGANTERIN LU DULU.”

“NGANTER KE MANA?”

“NGANTER LU PULANG!”

Tidak ada setengah jam, aku sudah sampai rumah. Aku bilang terima kasih ke ibu-ibu berjilbab pink itu sambil menyalami tangannya. Ia peluk aku erat-erat sambil menepuk-nepuk punggungku lumayan keras. “Bu, sakit Bu.”

“Udah lu abis ini gak sakit lagi. Lu istirahat. Lu istirahat ya Affan.”

“Kok Ibu tau nama saya?”

“Semua orang juga tahu. Udah lu masuk. Istirahat.”

Hari yang aneh. Kota yang asing. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku ingat hanya cahaya menyorot mataku semalam, cahaya yang lebih terang dari matahari. Dan sekarang aku mengantuk. Aku lelah sekali. Aku mau tidur seharian dan matikan hp. Aku libur dulu mengantar siapa-siapa hari ini. Aku ngantuk. Aku mau tidur seharian…

“Tuhan, ini surga, bukan?”

(Jakarta, 29 Agustus 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Inas Pramoda
Inas Pramoda Pengamat twitter, bisa ditemui di Jakarta dan sekitarnya seperti azan magrib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email