Lebih banyak membaca dan merenung.

Suluh Penerang

Boiman Manik

4 min read

Masyarakat Desa Mejaya, seperti mayoritas orang desa lainnya, hidup selaras mengikuti alam. Orang-orang menikmati saat menunggu tanaman tumbuh, berkembang, hingga dipanen. Semuanya terasa tenang, cukup, dan bersahaja. Sampai pada saat Desa Mejaya meraih kemakmurannya dengan cepat. Sebelum mencapai situasi yang demikian nikmat, masyarakat kehadiran orang-orang yang membawa teknologi dan pengetahuan baru. Hidup yang bersahaja serta merta berganti menjadi berfokus pada keuntungan. Pada titik kenikmatan tersebut, masyarakat desa mulai lupa pada alam yang bersahaja.

Cahyo akan mengenang Desa Mejaya sebagai tempat paling memilukan hati dalam hidupnya. Bagaimana ia dan keluarganya terancam oleh orang-orang yang dianggap dekat. Malam itu sekumpulan orang membawa obor, cangkul, dan arit di depan rumahnya. Pintu rumah Cahyo digedor-gedor. Sekumpulan orang itu memanggil-manggil nama Cahyo dengan suara yang beringas. Dengan segenap ketakutan yang membuncah, ia melompat dari ranjang.

Anak dan istrinya yang ikut terbangun kemudian merasa ketakutan. Cahyo menyuruh mereka untuk pergi lewat pintu belakang rumah dan pergi ke tempat ibunya di kampung sebelah. Sementara dia akan menghadapi orang-orang marah itu sambil mengulur waktu. Cahyo menghela napas sejenak, mengambil segelas air, lalu mengosongkannya. Dengan langkah gamam Cahyo membuka pintu.

Teriakan demi teriakan semakin menjadi-jadi kala mereka melihat Cahyo kemudian. Dilanda kebingungan yang amat dahsyat, tubuh Cahyo tertancap ke tanah seolah tak mampu bergerak. Keringatnya mengalir deras hingga masuk ke dalam mulut. Kelopak matanya memandang sekeliling, dia mencoba menerka situasi. Melihat mata semua orang yang penuh amarah, Cahyo semakin ketakutan.

“Kau telah menipu kami!” Seru seorang dari mereka. Dengan kebingungan Cahyo bertemu mata dengan orang yang berteriak tadi. Selanjutnya, suara-suara menuding terdengar dari mana-mana. Aku ingin pergi dari sini, Cahyo memikirkan cara untuk kabur. Kaki kanannya mundur satu langkah.

Kepala Desa kemudian memegang pundak Cahyo. Tangannya yang besar, wajahnya berbentuk kotak, rambutnya yang cepak, dan tubuhnya yang menjulang tinggi dibalut baju berwarna coklat dan celana berbahan kain. Dengan tekanan yang kuat Cahyo sadar bahwa dengan peri yang demikian dia harus tetap di sana, tidak ada kesempatan untuk kabur. Cahyo menurut, sementara Kepala Desa menenangkan warganya yang semakin beringas.

“Apa yang kau janjikan dua bulan lalu tidak berhasil,” dengan suara pelan Kepala Desa mengarahkan mulutnya ke kuping Cahyo.

“Bukankah sudah kubilang itu mustahil!” Suara Cahyo meninggi tetapi tetap pelan, kemudian ia menghela napas dan melanjutkan, “tetapi kalian tetap memaksa dan hasilnya seperti yang sudah kuperkirakan.”

“Kami butuh makan, bukan harapan.”

“Oleh karena itu aku katakan itu tidak mungkin, kalian masih saja memaksa.”

“Kau harus ganti rugi!”

“Aku tidak punya uang sebanyak itu.”

Kepala Desa dengan wajah kecewa menghampiri kerumunan. Meminta mereka untuk bubar dan menyerahkan urusan itu kepadanya. Semua orang mulai pergi. Tertinggal di sana Toso, pria berbadan tegap dan besar, memegang celurit di tangan kanannya dan obor di tangan kirinya, lalu dengan pandangan mengancam mengarah pada Cahyo. Tatapannya menyalang tajam. Cahyo tahu dalam sekejap ia bisa terbunuh jika bergerak sedikit saja.

Pak Barno, kemudian memandang Toso, mengirimkan sebuah pikiran yang dikehendakinya, dan Toso kemudian menangkap maksud sang Kepala Desa. Sebelum pergi, Toso menudingkan telunjuknya ke arah Cahyo, setelah itu ia pergi menyusul kerumunan yang sudah bubar beberapa menit lalu. Bahunya bergidik ngeri seketika.

Cahyo mulai sedikit merasa tenang tatkala sebagian besar orang sudah mulai pergi. Beberapa masih tinggal karena tidak terima dengan hasil yang didapat. Mereka tetap ingin Cahyo bertanggung jawab. Namun, Kepala Desa, dengan wibawanya, dan dengan kehormatannya, memohon kepada mereka untuk pulang. Maka tinggal ia berdua saja dengan Cahyo.

Suasana sudah kembali hening. Hanya ada suara serangga dan gesekan daun dari angin malam saja. Ketakutan Cahyo masih tersisa, tetapi ia tetap membuatkan Kepala Desa segelas kopi. Sebatang rokok dinyalakan oleh Kepala Desa, Cahyo mengikuti kemudian untuk mengambil alih ketenangannya.

“Jawatanmu terlampau berat untuk orang sepertimu,” Kepala Desa menghela napas yang mengeluarkan asap rokok. Cahyo yang duduk di sebelahnya menenggak kopi panas, kemudian dengan bibir bergetar ingin bicara, tetapi gagal.

Cahyo sadar, bahwa kampung ini terlampau berat untuk pulih. Namun apa daya, hanya ini pekerjaan satu-satunya yang bisa dia terima. Hanya ini caranya untuk memberi makan istri dan anak-anaknya.

“Pak Barno, saya sangat menghormati bapak. Namun, saya tidak punya pilihan,” dengan keberanian yang sudah terkumpul Cahyo mulai mengambil langkah pembelaan.

“Seharusnya kau juga paham, orang-orang di sini cukup sulit untuk mengerti seseorang.”

“Aku tahu! Aku jelas sangat mengetahuinya. Namun, sekali lagi, aku tidak punya pilihan.”

“Penuhi saja apa yang mereka minta.”

“Bapak bisa melihat diriku bukan? Apakah aku terlihat seperti orang yang mampu membayar kerugian mereka semua?” Tanya Cahyo dengan menggebu-gebu.

“Besok malam dan besok malamnya, lalu hingga malam seterusnya mereka akan datang. Selama itu juga aku tidak bisa selalu melindungimu. Ada saatnya mereka akan kelepasan dan mengambil semua yang kau miliki.”

Cahyo kembali merasa ngeri mendengar ucapan Kepala Desa. Pikirannya mulai berputar-putar mencari jalan keluar. Sebatang rokok tidak mampu memberinya rasa tenang lagi. Cahyo berdiri di tepi jurang.

Apa gerangan yang membuat Cahyo mengambil pilihan ini? Jikalau dia sudah tahu ini akan gagal, kenapa dia masih bersikeras? Tentu demi jawatan yang dia pegang, risiko apa saja akan diambil oleh Cahyo. Gagal panen, ladang rusak, hasil panen tidak laku, semua sudah Cahyo perhitungkan. Risiko itu kemudian sudah memiliki jalan keluarnya sendiri di dalam pikiran Cahyo, yang tidak disangka adalah nyawanya terancam saat ini. Cahyo salah ambil kesimpulan.

“Aku tidak mengerti di mana letak kesalahanku, kukira semua baik-baik saja.”

“Tentu kau tidak akan gagal dengan rencanamu. Namun yang kau hadapi adalah manusia-manusia kelaparan.”

“Kalau begitu bisa saja mereka tidak perlu mendengar ucapanku!”

“Justru karena orang-orang seperti dirimu, yang datang silih berganti, adalah harapan bagi mereka untuk kembali ke masa jayanya dulu.”

“Aku hanya pembawa informasi, bukan pembawa rezeki seperti yang mereka pinta,” ada rasa putus asa dalam suara yang keluar dari mulut Cahyo.

“Apa yang bisa kau harapkan dari mereka yang dulunya sukses karena orang-orang sepertimu, kemudian berharap makmur kembali? Kedatanganmu adalah harapan bagi mereka!”

Desa Mejaya, sepuluh tahun lalu adalah lumbung padi negeri ini. Panennya selalu melimpah ruah. Banyak orang-orang pemerintah yang datang ke sini. Memberi segala macam bantuan yang dibutuhkan mereka. Hasil panen semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kedatangan para penyuluh dengan segala pengetahuan dan bantuan untuk petani, membuat desa ini mencapai puncak kesejahteraannya.

Lambat laun, karena faktor alam, hasil padi berkurang. Segala macam upaya dilakukan. Cara bertanam baru, teknologi canggih, dan kehadiran penyuluh tidak membuat hasil panen meningkat. Justru lahan semakin rusak dan tidak bisa ditumbuhi padi lagi. Kemudian Cahyo datang membawa segenap harapan dan inovasi baru, tetapi ia tidak menjanjikan akan berhasil dalam waktu singkat. Butuh waktu beberapa tahun untuk memulihkan kesuburan lahan desa ini.

Namun, Cahyo melakukan kesalahan yang tidak disadari. Suatu ketika ia berkata bahwa Desa Mejaya bisa swasembada beras lagi. Petani bisa makan enak sepuasnya, membangun rumah, membeli sawah, membeli mobil, bahkan berangkat haji. Barangkali terpengaruh oleh perasaan yang emosional, Cahyo lalai dan lupa mengatakan bahwa itu butuh waktu beberapa tahun lagi.

“Aku percaya dengan rencanamu, tetapi kami orang-orang miskin butuh makan segera.”

“Ini salahku,” ucapan itu melolos dari bibir Cahyo yang memutih akibat frustrasi.

Masyarakat yang tadinya bersahaja, mulai mengenal uang, menjadi tamak, hingga dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa alam tidak bisa mereka kendalikan. Maka, kejahatan demi kejahatan yang terjadi adalah kerinduan mereka akan kejayaan Desa Mejaya di masa lalu. Anak-anak muda menjadi berandal, pencuri mulai muncul di mana-mana, saling membunuh untuk mencaplok sawah sudah sering terjadi. Desa yang tadinya bersahaja tidak lagi menunjukkan martabatnya.

“Jika bantuan dari pemerintah tidak segera datang …,” Kepala Desa menghela napas, memandang langit yang penuh bintang. Asap rokok mereka berdua saling bersahut-sahutan, dari seberang jauh terdengar suara-suara teriakan yang bisa terdengar, disusul juga suara dengkuran ayam milik Cahyo. Kepala Desa lalu meminum kopinya lagi dan memandang ke arah Cahyo, “sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.”

Cahyo yang sedari termenung tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke kampung sebelah. Cahaya berwarna merah merayap-rayap dari rumah ke rumah. Seketika itu Cahyo panik, ia mengambil sepeda motornya dan melaju kencang. Cahyo sudah hilang dari pandangan saat Kepala Desa sedang menghabiskan kopinya.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Boiman Manik
Boiman Manik Lebih banyak membaca dan merenung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email