Malam itu, usai latihan, seorang murid dengan malu-malu mendatangiku. Namanya Joe. Ia berasal dari Austria yang sengaja datang berlatih ke dojo milikku. Tiga hari yang lalu ia baru mendapatkan sabuk hitam pertamanya. Peluh masih mengucur di keningnya. Sementara karategi yang dikenakannya basah oleh keringat. Ia kemudian bertanya tentang bagaimana aku mulai latihan karate. Aku selalu senang ditanya seperti itu sebab aku bisa bercerita banyak hal tentang aku dan karate.
Sebelum menjawab pertanyaan murid tadi, kulayangkan pandang melalui jendela kaca. Ingatan terbang membawaku ke masa awal-awal aku mengenal karate. Ketika itu umurku limabelas tahun. Jika ditilik dari segi fisik, aku bukanlah anak bertubuh besar dan kuat. Dari delapan bersaudara, aku tergolong anak yang ceking, lemah dan sering sakit-sakitan. Bahkan ketika aku dilahirkan ke dunia orang-orang memprediksi usiaku tidak akan lebih dari lima tahun. Hanya ibuku yang berkeyakinan kuat bahwa aku akan tumbuh menjadi anak yang kuat kelak suatu hari nanti. “Anakku ini akan menjadi seorang yang kuat nantinya,” seru ibuku berkaca-kaca.
Tidak terasa tahun depan usiaku akan menginjak delapan puluh sembilan tahun. Usia yang tentu tidak muda lagi. Seingatku sebagian besar teman masa kecilku sudah tiada. Yang masih hidup hanya tinggal hitungan jari. Aku bersyukur sampai detik ini aku masih diberi Tuhan kesehatan. Pun aku bersyukur mengenal karate. Lebih dari separuh umur kuhabiskan untuk berlatih karate. Kendati demikian, aku masih harus terus belajar. Masih banyak hal yang belum kugali dari karate. Levelku masih sangat jauh di bawah para pendahulu seni bela diri ini.
Di sekolah, aku bukan murid yang menonjol. Nilai-nilaiku pun tidak sebagus teman-teman di kelas, kalau tidak mau dibilang jelek. Efeknya tentu saja kemarahan ibu yang sering kuterima. Mungkin karena aku sering bolos. Habisnya mau bagaimana lagi, sekolah tidak begitu menyenangkan hatiku. Aku tidak terlalu suka berbicara dengan orang lain. Aku lebih suka menyendiri. Bahkan seringkali saat pergi sekolah, aku mengalihkan rute pergi berenang ke Sungai Himeyuri yang jernih itu. Saat itu sungainya masih asri dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Apalagi musim saat semi, bunga yang bermekaran menambah indah suasana. Berenang lebih mengasyikkan ketimbang sekolah. Aku sering bersalto dari salah satu pohon yang condong ke sungai sebab airnya masih dalam. Karena dibuatnya bendungan, sekarang sungai itu menjadi dangkal.
Aku berterima kasih kepada kedua orang tuaku, sensei-senseiku, keluargaku, dan murid-muridku. Justru ibuku yang pertama kali mengenalkanku kepada karate. Lebih tepatnya memaksaku latihan karate. Sebenarnya ayahku sendiri adalah seorang karateka. Ia sudah menekuni karate sejak kecil. Ia adalah seorang polisi berpangkat mayor. Namun, ayah tidak sempat mengajariku karena kesibukannya. Saat tahu nilai sekolahku terus merosot, ibu mendorongku belajar karate. Ibu berkata, “Hei Morio, nilai sekolahmu sudah tidak bisa tertolong. Aku tidak tahu lagi caranya agar kau giat belajar. Saatnya kau berlatih karate. Pergilah ke Nahagijo dan temuilah sensei Miyagi di sana.”
Aku pun heran mengapa di saat nilaiku anjlok ibu menyuruh berlatih karate, bukannya mendatangkan guru les ke rumah.
Masa itu Nahagijo adalah tempat semacam aula yang sangat luas. Bangunan berlantai kayu itu memiki luas sekitar lima puluh meter persegi. Aku rasa itu tempat yang cukup luas di Naha Letaknya lima kilometer dari rumahku. Dengan bersepeda aku menuju tempat itu. Di sana berkumpul orang-orang yang berlatih karate. Sisi-sisi ruangan dipenuhi dengan orang yang berlatih karate. Melihat para karateka di sana aku menjadi termotivasi untuk berlatih. Dengan malu-malu aku bertanya, di mana sensei Miyagi. Seseorang kemudian menunjukkannya kepadaku. Sejak saat itu aku resmi berlatih karate di bawah bimbingan Sensei Miyagi.
Sensei Miyagi adalah seorang berpostur sedang. Badannya keras seperti besi. Tangannya pun keras dan kasar. Mungkin karena ia bekerja di galangan kapal. Ia terkenal sangat keras dan ketat dalam melatih. Tidak banyak yang betah berlatih dengannya. Ketika pertama kali ia membuka dojo di rumahnya, puluhan orang bergabung untuk latihan. Namun, karena disiplin dan latihan yang keras itu, satu per satu murid mulai berguguran hingga menyisakan beberapa orang saja.
Sensei Miyagi sangat menekankan Jumbi Undo. “Latihan Jumbi Undo sangat penting, Morio. Bila dilakukan dengan benar maka badan menjadi lebih lentur sehingga kihon, kata, dan kumite akan lebih mudah dilakukan.”
Pernah suatu ketika Sensei Miyagi menyuruhku tiga jam hanya untuk Jumbi Undo saja. Itu sungguh melelahkan. Sekujur tubuhku nyeri dibuatnya hingga tiga hari tiga malam.
Memang benar bahwa secara harfiah karate adalah seni bela diri bela diri tangan kosong tanpa senjata. Artinya yang dijadikan senjata untuk menyerang adalah seluruh anggota tubuh. Makanya setiap bagian tubuh dilatih dalam karate. Dari pangkal bahkan sampai jari-jari tangan ada bentuk latihannya tersendiri. Tidak heran pukulan apapun dalam karate sangat mematikan. Sensei Miyagi selalu menekankan kepadaku karate adalah seni bela diri bertahan. Tidak ada serangan pertama dalam karate. Sumpah karate mengajarkan seseorang karateka untuk orang yang mampu menguasai diri dalam berbagai kondisi. Sensei Miyagi menekankan untuk sebisa mungkin hindarilah perkelahian. Apabila suatu masalah masih bisa diselesaikan dengan pembicaraan, lakukanlah. Itulah inti dari sebenarnya karate, “Jangan pernah memulai perkelahian. Hanya orang-orang yang lemah yang terlibat dalam perkelahian. Orang kuat tidak berkelahi.”
Latihan yang keras dan disiplin yang ketat membuatku jenuh juga. Suatu saat setelah selesai latihan aku memberitahu sensei Miyagi bahwa aku ingin berhenti latihan karate. Ketika aku berkata demikian, sensei berujar, “Karate adalah jalan hidup, Morio. Tidak ada istilah tamat dalam karate. Sabuk hitam bukanlah akhir dari latihan, justru itu awal untuk mengenal karate lebih dalam. Aku pun masih terus dan akan terus belajar selama hayat masih dikandung badan. Semakin banyak berlatih, semakin kita menyadari kelemahan kita. Pegang teguhlah Dojokun, Morio. Aku takut kalau kau tidak berlatih lagi, hidupmu tidak terarah.”
Mendengar jawaban itu, aku seperti mendapat energi positif dan semangat di diriku kembali membara. Berjanji aku pada diriku untuk terus berlatih sampai kapan pun.
Sensei Miyagi mendorongku untuk selalu berlatih kata secara konsisten. “Lakukanlah kata, sehingga kau tidak perlu berpikir lagi arah gerakan ke kanan atau ke kiri. Konsistenlah. Lakukan satu kata dan ulanglah sampai ratusan kali. Di situ kau akan merasakan manfaatnya. Kuyakin kau bisa melakukannya lebih baik. Ganbaru, Morio.”
Ketika, melakukan kata sanchin, sekujur tubuhku lebam karena digebuki. Sensei berkata, “Tidak mengapa, Morio. Tahanlah rasa sakitnya. Awalnya memang terasa sakit, tapi untuk seterusnya tubuhmu akan menjadi kuat.”
Nyatanya itu benar. Aku tidak lagi sakit-sakitan. Kurasakan latihan karate benar-benar berdampak tidak hanya pada badanku, tetapi juga pada sekolahku. Ternyata ini rahasia kenapa ibu ngotot menyuruhku dulu. Kedisisiplinan yang diajarkan karate memengaruhi cara belajarku. Meski tidak menjadi juara kelas, nilai-nilaiku perlahan mulai membaik. Setiap kali mengalami kemalasan, aku teringat pada dojokun yang diajarkan Sensei Miyagi. Hingga akhirnya aku diterima di salah satu universitas di Tokyo. Untungnya aku tidak perlu membayar uang kuliah sepeser pun karena aku mendapatkan beasiswa. Yang lebih menggembirakan aku dipercaya menjadi pelatih karate di universitas dengan bayaran yang lumayan. Ini tentu saja meringankan beban keluargaku. Pensiun ayahku tidak mencukupi membayar uang kuliah di kota besar seperti di Tokyo.
Beberapa tahun setelah menamatkan kuliah, aku pulang kembali ke Okinawa. Aku mulai membuka dojo sendiri di rumah. Aku mendapat kabar Sensei Miyagi sudah meninggal enam bulan sebelumnya. Tugasku ialah meneruskan ajaran Sensei Miyagi. Bermula dari tiga orang murid, aku sungguh tidak menyangka karate yang kuajarkan menyebar ke banyak tempat. Dengan karate aku bertemu banyak orang dengan latar suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Dojoku selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar karate. Meski Sensei Miyagi telah tiada, ajarannya selalu terngiang di kepalaku, bahwa karate adalah jalan hidup.
Joe mengangguk-angguk mendengar ceritaku. Ia berjanji bahwa ia akan berlatih karate terus sampai kapan pun. Ganbaru, Joe.
(Muaro Jambi, 3 Juni 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
