Empat jam sebelum berpisah, sepasang yang barangkali kekasih itu mengunjungi pantai. Pantai berpasir pink, dikelilingi perbukitan karang dan pepohonan liar. Seolah benteng besar melindungi pantai itu dari dunia luar. Letaknya tak jauh dari kota tempat mereka tinggal. Setidaknya, untuk si lelaki, ia tak akan ke mana-mana.
Mereka sudah mengenal pantai itu sejak kuliah. Letaknya dekat bandara, sekitar dua puluh kilometer. Dari jarak sekian, tak heran kita bisa melihat pesawat terbang rendah di langit. Si gadis mengambil penerbangan terakhir malam ini.
“Nama anjingnya Koko,” ucap si gadis seraya menunjuk seekor kintamani yang tengah bergumul-gumul di pasir, seolah makhluk fluffy itu tidak perlu memikirkan apa pun. Tiap ada yang lewat, ia akan menjulurkan lidah dan menggoyangkan ekor kusamnya.
“Good, good… nice, bye-bye.”
Turis-turis itu kemudian melanjutkan langkah ke sunset point, sementara si anjing menanti lagi turis lain untuk melakukan hal serupa. Mengelus bulu atau menggelitiki lehernya. Mereka berdua mengamati adegan itu dari meja makan. Kabel dan lampu-lampu ala bohemian melintang dan berayun di atas kepala mereka.
“Dari mana tahunya?” Tanya si lelaki.
“Tadi ngobrol saat kamu ke konter. Yang punya sedang surfing.”
“Kamu mudah sekali akrab, ya. Saya agak iri.”
“Kok gitu responnya?”
“Lah?” Si lelaki menaikkan alis.
“Kamu bisa den—”
Seorang pelayan perempuan datang mengantar pesanan mereka. Dua mangkuk es krim cokelat bertatah almond dan buah ceri. Si gadis diam sekejap, mengulum bibir bawahnya. Ia membalas senyum si pelayan yang telah beranjak ke meja lain. Ia tahu ini bukan kesalahan si pelayan setelah melihat pesanan di atas meja.
“Aku ndak suka rasa cokelat. Kamu itu pelupa, ya. Jadi ini buatmu,” katanya.
“Tak bungkus,” jawab si lelaki dengan santai.
“Meleleh lah, dasar aneh,” kata si gadis, ketus.
Mereka diam. Si lelaki melambaikan tangan, memberi kode kepada pelayan yang sama.
“Mau tambahan lain?” Tanya si lelaki.
Si gadis menggeleng. Ia mengeluarkan ponsel, menggulir layarnya, mengetik sebentar, lalu membiarkannya tergeletak di pangkuan rok putihnya. Pipinya dikembungkan lalu kempis seperti balon. Si gadis melakukannya berulang kali.
“Semangkuk red velvet. Betul, satu saja. Terima kasih.”
Pelayan itu mencatatnya cepat dan masuk ke kedai. Pintu kedai terdiri dari dua bagian, berhias renda-renda tenun bermotif kuda dan daun kelapa, dengan ujung sulurnya yang tersimpul manik-manik dari cangkang kerang. Tak lama, si pelayan kembali membawa pesanan yang disebutkan beserta dua banana pancake. Ia menjelaskan bahwa itu adalah bonus karena mereka memesan tiga mangkuk es krim.
“Tak kira ndak ada promo,” ujar si lelaki.
“Emangnya kita pernah pesan lebih dari dua?”
“Seingat saya pernah. Waktu dengan Markus.”
“Giliran yang itu kamu ingat. Tapi kok ndak dikasih pancake, ya?”
“Mungkin karena kita datang bertiga.”
“Mestinya tetap dikasih,” tampik si gadis.
“Antara mereka takut rugi atau karena kita bertiga.”
“Apa salahnya bertiga? Hobimu narik kesimpulan mulu,” balas si gadis sambil menoleh, kendati sendoknya sibuk menusuk-nusuk vla merah di mangkuknya.
“Berarti memang itu,” jawab si lelaki.
Si gadis berdecak, “Sudahlah, aku benci Markus.”
Ia melahap es krim dengan gemas, lalu mengelap bibirnya dengan punggung jemari.
“Gimana hubungan kalian?” Tanya si lelaki.
“Ya, begitu. Barusan nge-chat. Katanya di Nürburg baru turun salju.” Gadis itu kini menyilangkan kedua lengannya. “Tapi, baiknya gimana, ya?”
“Ada namanya fitur blokir, seperti yang pernah kamu lakukan pada saya,” sahut si lelaki.
Si gadis mendengus kesal. Alisnya yang tebal hampir menyatu bagai paruh burung, seolah hendak mematuk lelaki di sampingnya. Si lelaki hanya tersenyum tipis. Ia menyalakan rokok, mencorongkan telapaknya untuk melindungi api dari jilatan angin laut.
“Yang jelas, aku tahu pasti orang yang aku suka. Cukup! Jangan dibahas!” Sergah si gadis. Bibirnya tampak merengut. Ia kembali mengaduk-ngaduk mangkuk es krimnya. Bentuk krim merah itu sudah tidak karuan, tetapi bagaimanapun masih segar menggoda.
“Kamu saja yang makan punyaku,” kata si gadis, mendorong mangkuknya.
“Ini kita bawa, ya. Siapa tahu kamu kepingin di boarding room,” timpal si lelaki.
Gadis itu mengalihkan ekor matanya, menyapu ke arah bukit karang yang gemuk-gemuk. Semak-semak yang tumbuh di sana telah gersang kecokelatan. Ombak di bawahnya meraung-raung dan terus mengikis badan bukit. Entah sudah berapa kawah yang tercipta, menjadi sarang bagi ketam-ketam dan ikan batu. Mitosnya, seorang putri raja pernah melompat dari salah satu puncak bukit dan menjelma menjadi cacing-cacing bercahaya. Setiap muson timur, orang-orang datang demi cacing-cacing itu.
Keduanya terdiam agak lama. Gadis itu beralih ke pancake, sementara si lelaki fokus merokok. Ia memalingkan setengah badannya dan mengangkat satu kaki di kursi. Kadang ia melirik, memperhatikan remah-remah di bibir si gadis, lalu tertawa pendek.
“Aku lebih suka pancake tanpa gula pasir seperti ini,” kata si gadis.
“Rasanya lebih alami aja,” lanjutnya.
“Saya bisa buatkan yang lebih mantap,” seru si lelaki.
Gadis itu terbatuk dan lekas menutup mulutnya. “Ngaco. Kamu aja malas masak,” balasnya.
“Ya, canda, canda. Jangan serius, ah.”
“Kamu, sih, gombal!”
“Jadi, hubunganmu dengan Markus?”
Si gadis meletakkan garpunya, “Apa maksudnya?”
“Ya, kalian. Itu gimana?”
“Kamu belum ngerti juga, ya!”
Si gadis bangkit, katanya malas berdebat. Si lelaki hanya menghela napas. Mereka akhirnya membungkus tiga es krim tersebut. Matahari lekas lindap. Pendarnya membakar awan-awan yang bergerak malas. Orang-orang yang berselancar berangsur naik ke muka pantai. Sepasang itu sempat berpapasan dengan si pemilik anjing. Ia mengangguk ramah dan berjalan ke sebuah pondok diikuti kintamaninya.
“Sejujurnya, aku betah di sini,” ucap si gadis, menggertakkan gigi. Seakan-akan seluruh giginya bisa tanggal jika ia terus melakukannya.
“Ya, saya pun.” Si lelaki mendekap bahu si gadis. Mereka terus berjalan menuju barat. Pasir-pasir halus menyusupi celah-celah jari kaki mereka.
“Apa nantinya kamu menyusul?”
“Inginnya,” tanggap si lelaki, “Kenapa?” tanyanya lagi.
“Tidak kenapa-kenapa. Aku khawatir.” Si gadis memainkan dua telunjuknya.
“Mengkhawatirkan saya?” Si lelaki membelai rambut kemilap si gadis yang mulai bercampur wangi garam.
“Semuanya. Tempat ini tidak aman.” Gadis itu menelungkupkan wajahnya ke bahu si lelaki.
“Tapi saya lahir di sini.”
“Kamu tak mau seperti Markus?” Si gadis mengangkat setengah wajahnya. Mata itu adalah mata memohon.
“Nanti ya, kita bicarakan.” Lelaki itu mematikan batang rokoknya yang masih panjang.
“Pikirkanlah, kumohon,” pinta si gadis, pelan.
Ia menarik wajahnya, lalu memunggungi si lelaki. Tubuhnya yang setinggi bahu itu melompat-lompat kecil, layaknya seorang bocah yang baru saja vakansi. Ia membalikkan badan, lantas berjalan mundur, dan berkata,
“Kamu pasti ingat waktu itu, aku betulan takut saat kali pertama.”
“Kamu senior sialan,” kesal si gadis.
“Ya, maaf, ya. Kan akting,” ujar si lelaki, “Atau kelewat akting, ya? Hahaha.”
“Hush. Pokoknya jelek. Kalau berdebat teori, jelas aku kalah,” ucap si gadis, “Aku masih anak bawang waktu itu.”
Dan mereka saling berkejaran di pantai itu untuk kali terakhir sebelum berdiri menatap langit. Laut tampak jingga berkaca-kaca, dan burung-burung bertengger ke sembarang pohon. Semua pengunjung, kecuali mereka, duduk dan terkesima melihat hari tenggelam. Si gadis mengarahkan kamera ponselnya ke arah cincin matahari yang hampir pupus. “Mungkin ini senja terbaik,” ucapnya lirih. Sementara tangan lelaki itu melingkar di pinggangnya dan berbisik, “Jangan khawatir”.
Mereka pulang dan menuju bandara. Hampir setengah jalan mereka tak saling berkata. Si lelaki menatap lurus ke jalan, sesekali melambat saat ada kawanan kerbau menyeberang, disusul penggembalanya yang bagai pertapa. Debu-debu menyembur ketika ban mobil mereka melindas jalan bertanah yang rompang.
Mobil mereka berpapasan dengan truk tronton yang memuat tiang-tiang beton. Tiang-tiang itu akan diturunkan di tepi bukit yang sudah terbelah menjadi jalan beraspal. Daerah selatan agak kering, tapi sebentar lagi akan berubah menjadi tempat yang tak pernah dibayangkan siapa pun. Papan-papan land for sale dan land for rent cukup banyak terpasak di pinggiran. Tampak sekatan kawat pada tanah-tanah tandus itu, yang juga ditumbuhi jagung atau kelapa. Semua jalan kecil telah terhubung dengan bypass sejalur yang membentang ke pusat kota dan bekas kampung-kampung pesisir.
Si gadis menurunkan kaca mobil dan kepalanya sedikit mengintip. Rambut sintalnya bergetar tertampar angin. Ia bisa mendengar deru mesin truk yang kian jauh.
“Tak bisa dihentikan lagi, ya?” Tanyanya kosong tanpa berpaling, “Maksudku, ini tak akan lagi sama.”
“Satu-satunya alasan saya.” Si lelaki tetap fokus menyetir, dan tangan kirinya memutar knop dasbor. Selfless dari The Strokes mengalun.
“Kenapa lagu ini?”
“Biar seru,” jawab si lelaki.
“Dasar melankoli.” Si gadis menonjok pelan lengan si lelaki, “Tapi mungkin deh, aku bakal kangen sekali denganmu.”
“Melebihi rasa khawatir?” Si lelaki menoleh.
“Itu sulit.”
“Mestinya kamu bisa memilih,” seru si lelaki.
“Aku belum bisa.” Si gadis menaikkan kaca mobil sebab angin malam mulai mencuri ruang. Tangannya meraba dasbor. Kini No One Notice-nya The Marias. Si lelaki hendak menggantinya, tapi cepat tangannya ditepis. Kedua mata mereka bertemu dan saling meruncing.
Mobil mereka menanjak lalu menikung ke bypass. Jalan bebas hambatan begitu sepi dan gelap, belum sepenuhnya dipasangi tiang lampu. Hanya ada satu dua mobil yang melintas. Ujung jalan ini adalah pertigaan yang mengarah ke kota dan bandara. Tapi sebelum memasuki kota, berdiri kavling-kavling baru yang belum dihuni. Habis sudah lahan persawahan di sana.
“Saya serius.”
“Tapi bukan begini caranya,” balas si gadis.
“Terus?”
“Situasinya. Aku juga memberimu pilihan untuk ikut.”
“Kenapa saya harus?”
“Ibunya baru meninggal!” Bibir si gadis bergetar, lalu memalingkan muka.
Si lelaki seakan tidak percaya teriakan itu menyambar dadanya. Ia memejamkan mata sejenak dan kepalanya agak nyender. Raut mukanya terpantul-pantul di sudut kaca mobil.
“Lantas kamu harus bertanggung jawab, hah?”
Pelupuk si gadis berair, leleh. Tangisnya pecah, “Ini salahmu!” Jarinya menunjuk hidung si lelaki berkali-kali.
“Mengapa saya?” Si lelaki mendelik.
“Harusnya jangan mengakui perasaanmu!” “Kamu ndak pernah dengerin orang lain.”
Si gadis terbata-bata mengucap itu dengan napas tersengal.
“Ya, ya, sekarang puas, hah? Saya yang salah! Itu, kan, yang mau kamu dengar.”
Gadis itu mematikan lagu dan meraih tisu di atas dasbor. Mobil mereka sebentar lagi sampai di pertigaan menuju bandara. Dari kejauhan, traffic light tampak berkedip-kedip.
“Maaf,” ucap si lelaki. Namun, gadis itu tak membalas sepatah kata. Dan, keheningan menyergap bagai tirai bening yang membatasi keduanya.
Mereka tiba di bandara sebelum dua jam penerbangan. Setelah turun dan mengangkut koper, lelaki itu lekas menarik troli yang masih tersambung dengan troli lain. Ia menekan tuasnya perlahan dan itu menimbulkan derit halus. Si lelaki menaruh koper dan bungkusan es krim di atas troli.
“Aku tak benar ingin membawa ini,” kata si gadis. “Boarding room juga dingin,” lanjutnya.
“Saya sudah membawa dua.”
“Itu hanya es kr—”
“Bukan hanya, tapi ini es krim dari pantai itu,” sela lelaki itu.
Si gadis mendesah pelan dan mengambil es krimnya. Mereka saling melempar senyum yang begitu sulit.
“Jadi, kamu tak akan menyusulku?”
“Saya akan baik-baik saja di sini.”
“Semoga begitu. Aku masih ingin mendengar suaramu dan tempat ini.”
“Tenanglah, tahun depan saya bisa menemanimu menonton MotoGP.”
“Entah. Aku benar-benar tidak tahu,” kata si gadis, lemas.
Pada akhirnya gadis itu benar-benar keluar dari kota masa muda mereka. Keduanya berpelukan dan merasakan hangat dada masing-masing. Mata lelaki itu tak beranjak dari punggung si gadis hingga tubuhnya tertelan pintu kaca bandara. Angin dingin membelai tengkuk si lelaki bagai menyelusupi celah bukit. Ia berharap red velvet itu benar-benar dimakan. Sementara, dua es krim cokelat kian mencair–menetesi karpet mobil.
Yogyakarta, 2025
*****
Editor: Moch Aldy MA
