Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Puisi, Hasrat, dan Cinta yang Terbagi: Membaca “aku ingin mencintai Indonesia” Karya Ahmad Rizki

Abdul Turgenev

5 min read

Kata Indonesia dalam puisi “aku ingin mencintai Indonesia” karya Ahmad Rizki bukan sekadar penanda geografis atau identitas nasional yang utuh, melainkan sebuah fenomena psiko-sosial yang retak, pecah, dan penuh luka. Dalam puisi tersebut, Indonesia tidak hadir sebagai negara dengan kebanggaan yang kokoh, melainkan sebagai sosok yang ditatap dari gang sempit, dari sudut-sudut gelap kota yang menggigil dalam cahaya neon dingin. Di ruang itu, cinta bukanlah slogan, melainkan hasrat yang genting dan penuh ragu. Ahmad Rizki tidak menulis untuk membangun semangat patriotik, melainkan untuk membuka luka, dan dalam luka itulah kita mendapati bahwa mencintai bangsa tidaklah pernah sederhana.

Ahmad Rizki, penyair kelahiran Tangerang tahun 1999 yang kini menyebut dirinya “menggelandang di Ciputat,” bukanlah penyair yang memburu harmoni. Ia lebih mirip seorang penyaksi kota yang gelisah, yang mencatat dengan tajam dan muram jejak-jejak kehidupan yang terabaikan oleh narasi-narasi besar. Melalui puisi yang dimuat di laman Omong-omong (2025), Rizki menghadirkan “Indonesia” bukan sebagai rumah yang teduh, melainkan sebagai ruang yang penuh penghalang, pagar besi, tentara, dan doa-doa yang patah di trotoar. Ia menyajikan lanskap simbolik yang telah kehilangan keintiman, dan menjadikan cinta pada bangsa sebagai medan gugatan.

Baca juga:

Dalam kerangka Jacques Lacan, setidaknya yang saya pahami, puisinya mengungkap “aku” sebagai subjek yang tidak utuh: subjek yang terbagi–le sujet barré)–yang mencintai sambil meragukan, yang berharap pengakuan sambil terus terluka. Lacan menyatakan bahwa subjek terbentuk dalam relasi dengan The Other, dan bahwa hasrat adalah efek dari kekurangan yang tidak bisa dipenuhi. Di sinilah “Indonesia” dalam puisi Rizki tidak hadir sebagai tanah air yang menyambut, tetapi sebagai The Other yang ambigu, kadang mengabaikan, kadang membebani, dan tak jarang melukai.

Puisi ini mencerminkan bagaimana hasrat subjek—“aku ingin mencintai Indonesia”—senantiasa tergelincir dalam kekosongan yang struktural. Keinginan untuk mencintai dan dicintai bangsa tidak pernah bisa diselesaikan secara penuh, karena objek yang dihasrati (dalam bahasa Lacan disebut objet petit a) senantiasa bergeser, tidak pernah dapat diraih utuh. Imaji-imaji seperti “mulut sungai mati,” “gelombang laut yang tersangkut di pagar besi,” atau “manusia yang berlari tanpa nama” mencerminkan kondisi krisis identitas, alienasi sosial, dan kerapuhan eksistensial yang terhubung langsung dengan struktur simbolik bangsa yang tak lagi memberi ruang pengakuan yang memadai.

Maka, lagi-lagi menurut saya, puisi ini tidak hanya penting dibaca sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai arsip psiko-ideologis dari subjek yang hidup di pinggir kota—dan di pinggir makna—yang bergulat dengan bahasa, cinta, dan luka kolektif. Lewat istilah Lacan, tulisan ini bertujuan membongkar dimensi terdalam dari relasi subjek dengan Indonesia: relasi yang tidak pernah selesai, yang tak henti ditandai oleh kerinduan, kehilangan, dan keterpecahan. Tulisan ini akan menunjukkan bahwa aku ingin mencintai Indonesia bukan sekadar puisi cinta kepada tanah air, melainkan puisi tentang kegagalan struktur untuk memeluk warganya. Dan dalam kegagalan itu, hasrat justru mengendap, tumbuh, dan mengguncang bahasa.

Hasrat yang Tak Pernah Tiba, Luka yang Tak Dikenali

Sebagaimana terjelaskan di atas, membaca puisi “aku ingin mencintai Indonesia” karya Ahmad Rizki seperti membuka lembar luka yang telah terlalu lama dibiarkan mengering sendiri, tanpa perban, tanpa pengakuan, tanpa upaya penyembuhan yang sungguh-sungguh. Ini bukan puisi patriotik dalam makna yang telah disepakati oleh kurikulum sekolah atau selebrasi kenegaraan, melainkan sebuah pengakuan getir dari seorang subjek yang masih, dan mungkin selalu, hidup di antara reruntuhan keinginan untuk memiliki dan dimiliki oleh tanah yang disebutnya “Indonesia”.

Sebagai pembaca—dan sebagai subjek yang juga hidup dalam tubuh yang diikat oleh nasionalitas dan bahasa—saya tidak bisa membaca puisi ini hanya sebagai teks. Ia adalah ruang yang hidup, berdenyut oleh tegangan antara cinta dan luka, antara identifikasi dan keterasingan. Dan dalam ketegangan itulah, pisau Lacan memberi semacam alat bukan untuk menjinakkan, tapi untuk menyelami kedalaman yang tak dapat diucapkan secara langsung.

Aku yang Menginginkan, Bukan Aku yang Memiliki

“aku ingin mencintai Indonesia”, bukan sekadar hiasan; ia semacam pengakuan akan jarak–bahwa cinta yang diinginkan belum pernah (atau tidak akan pernah) terjadi. Kata ingin menyiratkan kekurangan, jurang antara subjek dan objek hasratnya. Dalam pisau Lacan, saya melihat ini sebagai penanda bahwa “Indonesia”—dalam puisi ini—bukanlah entitas yang bisa dimiliki begitu saja. Ia hadir sebagai objet petit a, sesuatu yang dihasrati tetapi selalu menyimpang dari jangkauan. Keinginan untuk mencintai menjadi bukti bahwa subjek berada dalam pengasingan; bahwa nasionalitas bukan jaminan afeksi.

Simbolik yang Mencekik, Bukan Memeluk

Ruang-ruang yang ditawarkan puisi ini bukanlah lanskap nasional yang luas dan gagah, tapi justru sudut-sudut sempit kota, gang-gang neon yang menggigil, sepatu tentara, dan koran yang terbakar:

di antara sepatu tentara / dan koran-koran terbakar

Simbol-simbol kekuasaan tampil bukan sebagai penjaga, tetapi sebagai penindas. Dalam istilah lacan, ini adalah the Big Other yang tidak memberikan kehangatan simbolik, melainkan kekakuan dan sensor. Bahasa negara tidak menyambut, tapi mendelegitimasi. “Indonesia” dalam puisi ini adalah nama yang berat, tidak cair, bukan pelukan, tapi pagar besi. Dan ketika penyair berkata:

tanah yang dicium, tapi tak lagi dikenali

saya merasa seolah identitas kebangsaan tidak lagi bersandar pada pengalaman afektif, tetapi pada konstruksi imajinasi yang telah gagal. Penciuman pada tanah—gestur suci nasionalisme—berubah menjadi tindakan sia-sia. Saya membaca ini sebagai kehancuran fungsi penanda. Nama “Indonesia” tak lagi menjamin makna, tak lagi menyediakan tempat untuk subjek mencocokkan dirinya.

Subjek yang Tertunda

Cinta sebagai tuntutan pengakuan ketika Rizki menulis:

aku ingin Indonesia mencintaiku juga

saya merasakan jerit paling sunyi dari keinginan yang tidak pernah dijawab. Cinta di sini bukan sekadar emosi, tapi permohonan pengakuan—sebagaimana Lacan sebut: “cinta adalah memberi sesuatu yang tidak kita miliki kepada seseorang yang tidak menginginkannya.” Indonesia dalam puisi ini bukan hanya objek hasrat, tapi institusi yang tidak menyambut. Maka cinta kepada tanah air tak pernah bisa bebas dari luka karena tidak pernah utuh diterima.

Baca juga:

Sebagai pembaca, saya tidak bisa menjauh dari luka itu. Ia bukan luka Rizki seorang, tapi luka kolektif yang ditanggung oleh mereka yang tak memiliki rumah simbolik dalam struktur kebangsaan. Yang hidup di pinggiran, di trotoar, bersama doa-doa patah:

sementara doa-doa berjatuhan, patah di trotoar

Bahasa spiritual pun kehilangan arah. Kata-kata tidak lagi menembus langit; simbol tidak lagi menjadi jembatan, tapi reruntuhan. Inilah apa yang saya rasakan sebagai trauma simbolik dalam bahasa Lacan—ketika The Real menyembur masuk ke dalam simbolik dan melumpuhkan artikulasi.

The Real: Hujan yang Tak Pernah Tiba

menderas seperti hujan / yang tak pernah tiba

Itulah larik yang membuat saya terdiam lama. Hujan biasanya membawa kesegaran, pengharapan, regenerasi. Tetapi di sini, hujan adalah phantasm yang tidak pernah menjadi kenyataan. Ia “menderas” sebagai suara—suara hasrat, suara luka, suara keinginan akan pengakuan—tapi tak kunjung menjadi peristiwa. Dalam Lacanian terms, ini adalah The Real: yang tak bisa diucapkan, yang hadir sebagai lubang dalam simbolik. Hujan yang tak pernah tiba adalah bangsa yang tak pernah benar-benar menerima anak-anaknya.

Saya membaca ini sebagai pernyataan tragis tentang nasib hasrat itu sendiri. Hasrat tak bisa ditutup, tapi juga tak bisa dipuaskan. Subjek hanya bisa terus menyuarakannya, meski tahu tak akan tiba: itulah struktur cinta dalam puisi ini—dan barangkali juga dalam hidup.

Epilog

Puisi “aku ingin mencintai Indonesia” adalah memasuki ruang psikis yang tak hanya gelap, tetapi juga basah oleh genangan yang tak sempat jadi air mata, suara yang tak pernah tumbuh jadi hujan. Ahmad Rizki, melalui keheningan yang pecah dalam kata-kata yang pendek, padat, dan patah-patah, justru menyusun satu elegi panjang tentang relasi manusia dan tanah airnya: relasi yang tidak ditopang oleh pengakuan, tidak dijaga oleh kekuasaan, tidak dipeluk oleh sejarah, tetapi terus bertahan—karena hasrat itu sendiri.

Terlihat dalam kerangka Lacan, puisi ini menunjukkan bahwa nasionalitas bukan identitas yang utuh, bukan rumah yang kita tinggali dengan damai, melainkan medan retakan yang justru membentuk siapa kita. Subjek puitik dalam puisi Rizki—dan mungkin kita semua yang membaca dengan tubuh yang terbiasa dicurigai oleh negara—adalah subjek yang mencintai dari pinggir. Subjek yang terus memanggil nama bangsa, bukan untuk mengagungkan, tetapi untuk memohon: kenalilah aku. Cintailah aku kembali.

Namun pengakuan tak kunjung datang. Dalam logika Lacan, hal itu tak mengejutkan. Sebab dalam tatanan simbolik, The Other selalu hadir sebagai sesuatu yang tidak menjawab sepenuhnya. Maka cinta terhadap Indonesia yang ditulis Rizki adalah bentuk dari hasrat yang dijaga oleh luka, bukan oleh kepastian. “Indonesia” menjadi objet petit a—pusat kosong yang tak terisi, tetapi justru membuat subjek terus berjalan, terus menulis, terus mencintai meski tak dipeluk.

Dalam dunia pascakolonial yang tak pernah benar-benar selesai, puisi Rizki adalah momen perlawanan yang halus tapi pedih. Ia menolak mendewakan Indonesia. Sebaliknya, ia mengajaknya berbicara, menggugat, mengundang rasa malu dan cinta sekaligus. Dan itulah cinta yang sesungguhnya: cinta yang tidak tunduk, tetapi berani bertanya.

Karena itulah, menurut saya, puisi ini penting—secara sastra dan politis. Ia membawa kita pada satu kesadaran: bahwa menjadi warga dalam republik ini adalah juga menjadi subjek yang terluka, tetapi tetap memilih untuk menyebut nama tanah air dengan suara—yang meski patah, masih menyala, setidaknya menurut saya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Abdul Turgenev
Abdul Turgenev Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email