Konsultan kriminal.

Piring Terbang

Adia Puja

5 min read

Suatu pagi, gegeran terjadi di Kampung Pasirlengoh. Ada sebuah lingkaran di tengah-tengah sawah. Bukan sembarang lingkaran. Lingkaran tersebut membentuk pola yang rumit dan aneh. Tercetak di antara tanaman padi yang mulai menguning. Selain itu, lingkaran tersebut berukuran sangat besar. Diameternya sekitar tiga hingga empat tumbak.

Kehebohan bermula ketika Kang Pahru tiba di sawah garapannya. Sepetak sawah berukuran sepuluh tumbak milik seorang juragan kayu di kabupaten. Awalnya, Kang Pahru hanya menyadari beberapa bagian di sawah garapannya tersebut rusak seperti habis terinjak. Ia mendapati padi-padi itu sudah rebah. Batang-batangnya likat pada lumpur. Kerusakan juga terjadi di beberapa titik di sawahnya. Setelah ditelusuri lebih jauh, kerusakannya cukup luas.

Sontak emosi Kang Pahru menyentuh ubun-ubun. Padi-padi yang ia perlakukan bak anaknya sendiri telah dirusak. Sialnya, kerusakan terjadi saat musim panen tinggal hitungan hari. Padahal, sore hari sebelumnya, sawah tersebut masih dalam keadaan baik-baik saja. Kang Pahru berpikir, pelakunya pasti melakukan aksi tersebut di malam hari. Namun, siapa pelakunya, masih menjadi misteri. Selama ini para petani di Kampung Pasirlengoh hidup rukun. Tidak ada persaingan di antara mereka. Tidak pernah juga timbul kecemburuan atas padi siapa yang lebih kuning dan gemuk.

Namun, mendapati kerusakan pada sawahnya, Kang Pahru yakin telah terjadi sabotase yang licik dan sistematis. Ia bertekad untuk mengusut dan membuat perhitungan dengan pelakunya. Dedemit sekalipun.

Meski begitu, amarah Kang Pahru perlahan kuncup begitu menyadari bahwa ada yang tidak wajar dari kerusakan di sawahnya. Bagian-bagian yang rusak menyebar terlalu luas, tetapi di antara kerusakan tersebut masih ada bagian yang utuh. Jika memang perusakan tersebut dilakukan oleh seseorang yang membencinya, mengapa dilakukan secara tanggung? Batang padi yang rebah pun terlalu rapi jika dilakukan oleh seseorang di dalam kondisi gelap pula. Selain itu, tidak ada jejak kaki yang tercetak di atas lumpur. Baik manusia ataupun hewan. Tidak ada jejak apa pun selain kerusakan pada beberapa bagian itu.

Digerakkan oleh rasa penasaran, Kang Pahru mendaki bukit yang berada tepat di sisi timur sawah garapannya. Ketika telah tiba di puncak dan memandang ke arah sawahnya di bawah, lutut lelaki tua itu mendadak lemas. Ia melihat sebuah lingkaran berukuran sangat besar dan memiliki pola yang rumit tercetak di sawahnya. Seolah lingkaran tersebut dicetak oleh stempel berukuran raksasa. Pola yang rumit itu pula menjawab pertanyaan Kang Pahru terhadap kondisi kerusakan yang jarang-jarang dan amat rapi. Hal seperti itu tentu tidak bisa dilakukan oleh manusia, terlebih hanya dikerjakan dalam semalam saja.

Sempat menyangsikan indra pengelihatannya sekaligus kewarasannya, Kang Pahru memanggil petani lainnya yang berada di sekitar situ untuk naik ke atas bukit. Tiga orang petani manut perintah Kang Pahru. Mereka mendaki bukit dan mengikuti arah telunjuk Kang Pahru mengarah: ke petak sawah garapannya. Ketiganya tercekat atas apa yang mereka lihat.

Kang Pahru sedikit lega setelah mengetahui bahwa dirinya belum kehilangan kewarasan. Sebab, apa yang disaksikannya ternyata dapat dilihat pula oleh kawan-kawannya. Mereka semua menyaksikan lingkaran yang sama: berukuran besar dan berpola rumit juga aneh.

Kabar menyoal adanya sebuah lingkaran ganjil di sawah milik Kang Pahru, seperti kelopak putri malu yang diembus angin. Menyebar dengan cepat dan hinggap di telinga seluruh warga Kampung Pasirlengoh. Dan hal tersebut tentu menggerakkan rasa penasaran warga untuk melihatnya. Semakin tinggi matahari, semakin banyak masyarakat yang mendaki bukit untuk memastikan kabar yang santer beredar. Tak ayal, keanehan tersebut mengundang decak, antara kagum, heran, dan ketakutan. Mereka menerka fenomena apa yang sedang terjadi? Siapa pelakunya? Bagaimana cara membuat lingkaran sebesar dan serumit itu hanya dalam satu malam? Tanpa ketahuan pula. Semua warga sepakat tidak ada seorang pun di antara mereka yang kelewat iseng dengan membuat hal-hal semacam itu.

Pada akhirnya, semua pertanyaan itu hanya mengendap tanpa pernah terjawab. Setidaknya hingga kabar semakin meluas ke luar Kampung Pasirlengoh.

Entah siapa yang memulai, gambar dan video lingkaran di sawah garapan Kang Pahru tersebut menyebar di sosial media. Anak muda di Kampung Pasirlengoh memang tengah giat bersosial media. Kesempatan langka seperti itu tentu tidak akan dilewatkan oleh mereka untuk dijadikan konten. Semua anak muda yang mampir ke sana berlomba untuk menebeng popularitas dari lingkaran aneh tersebut.

Singkatnya, satu hari semenjak penemuan tersebut, kabar mengenai sebuah lingkaran misterius di Kampung Pasirlengoh menyebar luas. Banyak orang mulai membicarakannya. Menimbulkan diskusi dan perdebatan di ruang-ruang maya.

Dari situ, warga Kampung Pasirlengoh mendapat sedikit titik terang, bahwa lingkaran tersebut disebut: crop circle. Sebuah tanda yang timbul akibat pendaratan piring terbang milik makhluk luar bumi, atau alien. Crop circle di Kampung Pasirlengoh bukan yang pertama terjadi. Di belahan dunia lain, terutama di bumi bagian barat, fenomena tersebut lebih lazim lagi. Di Indonesia sendiri, fenomena crop circle pernah terjadi di beberapa daerah. Jika di luar negeri, piring terbang kerap mendarat di ladang jagung atau gandum, di Indonesia mereka sering mendarat di persawahan. Pendaratan piring terbang tersebut selalu meninggalkan bekas berupa lingkaran berukuran besar dengan pola yang berbeda-beda, tetapi sama rumitnya.

Mendapati fakta bahwa kampung mereka pernah disinggahi alien, kehebohan semakin menjadi. Berbagai kejadian yang berlangsung beberapa waktu sebelumnya dikait-kaitkan. Misalkan seperti kasus hilangnya beberapa hewan ternak yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Mereka beranggapan, bahwa hewan-hewan itu diculik alien sebagai sangu untuk mengarungi antariksa. Para maling yang sebenarnya bisa bernapas lega, karena dosa mereka ditanggung oleh para alien.

Kemudian, kejadian putus-nyambungnya aliran listrik yang terjadi beberapa hari sebelumnya juga dikaitkan dengan kehadiran alien di kampung tersebut. Mereka beranggapan, para alien sempat mengalihkan aliran listrik milik warga untuk mengisi bahan bakar piring terbang mereka. Padahal, putus-nyambungnya aliran listrik yang dimaksud adalah akibat ketidakbecusan perusahaan listrik dalam mengatasi gardu yang meledak. Lagi-lagi alien menjadi kambing hitam atas kesalahan orang lain.

Kecurigaan juga kembali diarahkan kepada para alien atas memburuknya sinyal internet di Kampung Pasirlengoh dan sekitarnya. Mereka menduga alien menyabotase sinyal tersebut untuk melakukan komunikasi dengan pangkalan udara di planetnya. Atau setidaknya, sinyal komunikasi yang dilakukan oleh para alien, mengganggu sinyal internet di kampung tersebut. Padahal, buruknya sinyal internet di beberapa daerah di Indonesia disebabkan oleh korupsi gila-gilaan terhadap menara pemancar yang dilakukan oleh menteri komunikasi.

Beda generasi, beda pula cara menyikapi fenomena astral tersebut. Jika para kaum muda sibuk dengan ponsel mereka untuk mengabadikan dan menyebarluaskan info terkait jejak piring terbang tersebut, orang-orang tua justru menyikapinya dengan cara-cara yang lebih tradisional. Mereka membawa kemenyan, aneka rupa kembang, air suci, dan berbagai ritual pengusir setan di sekitar crop circle. Bagi mereka, alien, kuntilanak, pocong, genderuwo, semua berasal dari kalangan jin. Dan segala yang berhubungan dengan jin, patut diusir. Hilangnya hewan-hewan ternak serta gangguan pada kelistrikan dan jaringan internet, menjadi bukti bahwa alien tergolong ke dalam jin kafir yang merusak. Begitu pikir mereka.

Kehebohan yang timbul akibat kemunculan crop circle di Kampung Pasirlengoh memancing keramaian yang lebih luas lagi. Kali ini bukan hanya masyarakat di kampung-kampung sekitar yang datang untuk menyaksikan, tetapi orang-orang dari kota pun berdatangan ke kampung yang biasanya sepi tersebut. Para ahli antariksa, komunitas pegiat piring terbang, para pelancong iseng, hingga para wartawan ingin menyaksikan fenomena menghebohkan tersebut. Meski bukan kali pertama terjadi di Indonesia, kemunculan crop circle belum tentu ada dalam lima tahun sekali. Mobil-mobil stasiun televisi berbaris di sekitar area persawahan. Mereka berlomba memberitakan fenomena tersebut secara langsung. Pesawat-pesawat tanpa awak berseliweran di udara untuk mengabadikan lingkaran tersebut dari atas.

Bukan hanya orang-orang yang terpanggil oleh rasa penasaran, para pedagang yang terpanggil atas urusan mengais rezeki pun ambil bagian. Aneka jajanan disajikan bagi perut siapa pun yang lapar setelah menyaksikan fenomena langka tersebut. Semua orang berkumpul di sana. Masyarakat yang haus akan hiburan tentu menyambut gembira kehadiran para pedagang tersebut. Bahkan di dekat lapang tidak jauh dari area persawahan, telah didirikan komidi putar dan wahana rumah hantu dadakan. Dalam sekejap saja, area sekitar persawahan menjadi seperti pasar malam.

Saking membeludaknya manusia, anggota kepolisian diturunkan untuk menjaga ketertiban. Untuk mendaki bukit di sebelah sawah, kini diberlakukan pembatasan atas alasan keselamatan. Tidak heran jika ada beberapa masyarakat yang menjual tiket masuk untuk memberikan akses lain yang luput dari penjagaan. Garis polisi berwarna kuning dibentangkan, memagari sawah milik Kang Pahru. Jika tidak begitu, bisa dipastikan crop circle akan raib dalam hitungan menit berganti jejak kaki manusia.

Kehadiran crop circle juga mengubah wajah Kampung Pasirlengoh. Jalanan menuju kampung yang sebelumnya bopeng-bopeng, mulai disorot oleh media yang berangkat meliput. Para wartawan yang mulai bosan mengangkat fenomena crop circle tergelitik mengangkat profil kampung. Belum lagi dari bidikan kamera ponsel para pembuat konten yang lebih nyaring dibandingkan pemberitaan. Akses menuju kampung yang buruk, beberapa infrastruktur yang sudah tidak layak, kelihan atas kesusahan hidup yang dialami oleh masyarakat, hingga kebusukan pemerintah daerah, mulai mencuat ke permukaan.

Pemerintah kabupaten yang selama ini menyelewengkan dana desa mulai ketar-ketir. Begitu juga pemerintah desa yang kecipratan uang perselewengan tersebut. Selama ini, mereka menganggap kampung sekecil Pasirlengoh tidak akan pernah tersorot oleh kamera. Oleh karena itu, perselewengan dana desa tidak pernah terendus oleh siapa pun. Namun kini, semua mata terarah kepada Pasirlengoh dan kampung-kampung di sekitarnya. Bau busuk mulai tercium.

Khawatir boroknya dikorek lebih dalam, mereka segera membenahi jalanan secara darurat. Batu berangkal ditabur di lubang-lubang jalanan yang lebih menyerupai empang. Infrastruktur lain yang juga kena sorot, mulai dibenahi. Solusi instan ini diharapkan membentuk opini positif dari masyarakat. Mereka berpikir, setidaknya, bau busuk penyelewengan tidak terlalu santer tercium.

Meski kecil-kecilan dan terlambat, masyarakat Kampung Pasirlengoh senang dengan perbaikan yang akhirnya dilakukan oleh pemerintah. Mereka pun diam-diam bersyukur atas kehadiran piring terbang ke kampung mereka. Jika bukan karena kemunculan piring terbang tersebut, maka selamanya pemerintah akan abai. Meskipun terkesan darurat dan dipaksakan, setidaknya masyarakat berharap pemerintah akan jeri dan tidak kembali macam-macam dengan dana desa. Keadilan memang bisa datang dari mana saja. Termasuk dari makhluk planet antah-berantah.

“Sepertinya,” kata salah seorang yang diamini oleh para warga, “alien bukan dari golongan jin kafir. Karena, kehadiran mereka justru membawa manfaat bagi masyarakat kampung ini.”

Tinggal Kang Pahru yang gigit jari. Sawahnya semakin bejat dan dijaga ketat entah sampai kapan. Musim panen sudah di depan mata.

Adia Puja
Adia Puja Konsultan kriminal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email