Kwan Kong (160-219) adalah panglima besar pada masa akhir hingga runtuhnya Dinasti Han yang terkenal dengan keberanian dan integritasnya. Keterampilannya dalam bertarung dan mengatur strategi di medan pertempuran diimbangi dengan kebaikan, kejujuran, dan kesetiakawanannya menjadikannya karakter yang dihormati di seantero Tiongkok dari masa ke masa. Dengan ciri khas wajah merah, jenggot panjang, Golok Naga Hijau (Ceng Liong To), dan jubah perangnya yang khas, ia dikenal sebagai sosok Dewa Perang (Zhansen), Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan, dan Dewa Pelindung Rakyat dari malapetaka.
Kisah Kwan Kong banyak diangkat di sastra Tiongkok, terutama yang menceritakan babakan tentang Perang Tiga Kerajaan (Sam Kok) pasca pecahnya Dinasti Han. Salah satu penulis terkenal Tiongkok yang menuliskan kisah peperangan negara Wei, Shu, dan Wu adalah Lou Guan Zhong. Karena kisahnya cukup panjang mencakup 120 bab dan 600.000 kata lebih, beberapa penulis membuat versi pendeknya atau mengambil satu atau dua bab untuk diceritakan ulang dan dijadikan satu buku tersendiri. Salah satunya adalah cerita Kwan Kong melewati lima kota karya Kwee Khe Soi (1907-1971).
Petikan cerita Kwan Kong yang digubah oleh Kwee Khe Soi atau yang biasa menggunakan nama pena Monsieur Kekasih kini menjadi arsip langka. Hal ini juga terkait dengan kebijakan era Orde Baru yang membatasi perkembangan budaya Tionghoa di Indonesia. Beberapa yang tersisa kini berada di pasar loak dan tangan kolektor sehingga tidak mudah masyarakat awam untuk menemukan dan membacanya.
Namun angin segar berhembus setelah dua tahun yang lalu Alex Cheung menuliskan ulang cerita tentang perjalanan Kwan Kong mencari saudara-saudaranya tersebut. Dengan judul Kwan Kong Kwee Ngo Koan (Kwan Kong Menerobos Lima Kota) (Penerbit Buku Kompas, 2024), penulis menyajikan kisah tersebut dengan lebih segar, ringkas, dan mudah dibaca oleh generasi terkini. Hal ini sesuai dengan visi Tiong Gie, sebuah gerakan independen yang penulis dirikan untuk mendokumentasikan tradisi, budaya, serta peranan masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Kwan Kong dan Sepak Terjangnya
Kisah Kwan Kong menerobos lima kota untuk menemui kakanya ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya yaitu Sumpah Setia Tiga Saudara di Taman Persik. Dalam peristiwa monumental di Kota Zhou tersebut, Kwan Kong bersama Lauw Pi (Liu Bei) dan Thio Hui (Zhang Fei) mengikat janji untuk menjadi saudara sampai mati. Namun runtuhnya Dinasti Han karena korupsi, pemberontakan, dan konflik internal, membuat ketiga saudara itu terpisah di daerah yang terpecah-pecah.
Baca juga:
Kwan Kong berada di wilayah kekuasaan Perdana Menteri Co Coh (Cao-Cao) yang membentang mulai padang pasir Mongolia hingga beberapa daerah di sekitarnya. Sedangkan kakaknya, Lau Pi mencari perlindungan kepada Wan Siao (Yuan Shao) yang menguasai Kie-chiu (Jizhou) wilayah Utara Tiongkok. Sementara adiknya, Thio Hui lari ke Bu Tek San (Mangdang Shan) atau Gunung Mangdang yang terletak di sebelah utara Kota Yongcheng, Provinsi henan. Pada akhirnya Thio Hui menjadi penguasa di Kota Kouw Sia (Gucheng).
Setelah memimpin banyak peperangan dan meraih kemenangan, Kwan Kong semakin dikagumi oleh Co Coh. Penguasa tersebut dengan sangat royal memberikan hadiah dan penghargaan pada Kwan Kong sebagai rasa terima kasih dan penghargaan atas jasa besarnya. Namun, karena kesederhanaan dan sikap anti foya-foyanya, tak jarang Kwan Kong menolak pemberian-pemberian itu.
Sebagai gantinya, Co Coh berjanji akan memberikan kesempatan pada Kwan Kong untuk mengajukan permintaan yang akan dikabulkannya. Kwan Kong pun mengajukan satu permintaan yang cukup sederhana: Jika ia memenangkan semua sisa peperangan yang harus dipimpinnya, ia ingin diberi kesempatan melakukan perjalanan jauh menemui kakaknya Lauw Pi di mana pun berada.
Kemengangan demi kemenangan pasukan Co Coh membuat nama Kwan Kong semakin terkenal. Hal itu membuat Kie-Ciu tahu di mana keberadaan adiknya. Kie-Ciu pun mengirim utusannya untuk menyusup dan mengabarkan di mana ia berada pada adiknya, Kwan Kong. Sementara itu sembari menunggu, Kie-Ciu juga membujuk Wan Siao untuk memberi kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan adiknya.
Dalam susana perang memberikan izin pada seseorang untuk keluar gerbang kerajaan dan menemui anggota kerajaan lain bukanlah hal sepele. Ada risiko pembelotan dan juga pembocoran rahasia negara yang akan sangat merugikan di masa yang akan datang. Oleh sebab itulah baik Co Coh maupun Wan Siao tidak begitu saja dengan mudahnya memberikan izin.
Setelah berhasil menumpas pemberontakan di daerah Lu Lam (Runan) yang dimotori oleh dua pentolan bekas anggota Serban Kuning (Oey Kin Chi Loan), Lauw Pek (Liu Pi) dan Kiong Tou (Gong Du), Kwan Kong bermaksud menagih janji pada Co Coh untuk memberi izin melakukan perjalanan ke luar kerajaan. Namun atas saran penasihat kerajaan, Co Coh pura-pura sibuk dan tidak bisa ditemui selama beberapa hari. Namun kebulatan tekad Kwan Kong membuatnya tetap melakukan perjalanan ke arah utara menuju Kie-ciu untuk menemui kakaknya.
Setelah menulis surat dan dititipkan petugas kerajaan untuk disampaikan pada Perdana Menteri Co Coh, Kwan Kong bersama dua kakak iparnya, Kam Hujin dan Bi Hujin, bergerak menuju utara dikawal dua puluh pengikut setianya.
Walaupun Co Coh dan beberapa pasukan kerajaan sempat menjemput rombongan Kwan Kong di perjalanan dan memberi beberapa bekal perjalanan, ia sengaja untuk seolah-olah lupa memberikan surat jalan pada Kwan Kong. Dengan itu ia berharap Kwan Kong akan mendapatkan perlawanan di setiap gerbang kota karena dianggap melarikan diri dari kerajaan.
Lima Kota
Kota pertama yang dilewati Kwan Kong adalah Tonglengkoan. Di kota di atas bukit itu, Kwankong dihadang oleh 500 pasukan yang dipimpin oleh Kong Siu, thay-siu (adminstrator kota) setempat. Tanpa menghiraukan barisan pasukan tersebut Kwan Kong memacu kudanya menuju Kong Siu dan dalam satu kali tebasan berhasil memenggal kepala penguasa lokal kota tersebut. Dia pun segera melangkah ke kota berikutnya.
Saat memasuki kota kedua, Lok-kiang (Louyang), tangan Kwan Kong terluka oleh panah yang dilepaskan oleh opsir Beng Than (Meng Tan) bawahan pemimpin lokal Han Hok (Han Fu). Tapi luka itu tidak dapat menghentikan Kwan Kong. Kegesitannya di atas kuda dan permainan golok yang mantap berhasil memenggal kepala Beng Than dan Han Hok.
Pada kota ketiga, Kinsuikoan (Shisuiguan), Kwan Kong hampir saja dijebak oleh Pan Hie (Bian Xi). Pimpinan lokal tersebut mengundang Kwan Kong masuk kota dan mempersilakannya beristirahat di kelenteng Tin Kok Sie (Zhenguo Si). Padahal Pan Hie sudah menempatkan tentara bersenjata di dalamnya. Namun atas bantuan Pouw Ceng (Pu Jing), biksu yang yang bertugas di kelenteng tersebut, Kwan Kong berhasil tersadar adanya jebakan ini dan segera mengejar Pan Hie dan memenggal kepalanya.
Di kota keempat, Eng Yang (Xingyang), rombongan Kwan Kong disambut oleh pemimpin setempat, Ong Siet (Wang Zhi) yang masih besan dari Han Hok. Diselimuti oleh dendam atas kematian besannya, Ong Siet berniat membunuh Kwan Kong. Karena ia merasa kalah hebat dengan lawan, Ong Siet berupaya menggunakan tipu muslihat dengan menyediakan penginapan bagi Kwan Kong dan rombongannya. Rencananya ia akan membakarnya ketika rombongan terlelap. Beruntung Kwan Kong selalu siaga dan mengetahui siasat licik itu dan berhasil membawa rombongan keluar sebelum penginapan itu terbakar. Sebelum keluar dari gerbang kota, Kwan Kong berhasil memenggal kepala Ong Siet.
Selanjutnya di kota kelima yang dilewatinya, Kut-ciu (Huazhou), Kwan Kong dan rombongannya bertemu Lauw Yang (Liu Yan), thay-siu wilayah setempat. Walaupun Lau Yang pernah diselamatkan Kwan Kong dari dua pertempuran, ia tetap tidak bersedia memberi pinjaman perahu untuk menyeberang Sungai Hong Ho pada rombongan karena tidak membawa surat jalan. Hal itu membuat Kwan Kong kecewa.
Untuk menghindari pertikaian sekaligus menghindarkannya dari hukuman Perdana Menteri Co Coh, Lauw Yang menyarankan Kwan Kong pergi sendir menuju tepi Sungai Hong Ho untuk meminjam perahu langsung pada Panglima Cin Kie (Qin Qi), penjaga lalu lintas perairan daerah tersebut. Tak disangka Panglima Cin Kie malah menantang Kwan Kong bertarung. Setelah berhasil menebas kepala Panglima Cin Kie, Kwan Kong dan rombongan menyeberang sungai Hong Ho menuju utara untuk menemui kakak dan adiknya.
Simbol Kesetiaan dan Kejujuran
Pada akhirnya Kwan Kong berhasil berkumpul lagi dengan kakak dan adiknya, Liao Pi dan Thio Hui. Walau pada awalnya adiknya sempat mencurigainya telah berkhianat dengan memihak Perdana Menteri Co Coh demi harta dan jabatan, Kwan Kong berhasil meyakinkannya bahwa hal itu tidak benar. Ia terpaksa tinggal di wilayah kekuasaan Perdana Menteri Co Coh untuk melindungi dua kakak iparnya yang berada di sana. Hal itu dibenarkan oleh Kam Hujin dan Bi Hujin, kedua istri Liao Pi yang merasa berhutang budi pada Kwan Kong karena membuat mereka dapat bersatu lagi dengan suaminya setelah sekian lama berpisah.
Dalam tradisi Tiongkok, Kwan Kong (Guan Gong), alias Kwan Ie, alias Kwan In Tiang dikenal sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren, dan Yong (kebijaksanaan, cinta kasih, dan kebenaran). Gambar dan patungnya banyak sekali menghiasi pusat kota, taman, tempat ibadah, hingga rumah-rumah masyarakat Tiongkok.
“Bagi penganut Konfusianisme, dia adalah “orang bijak”, bagi penganut Tao, dia adalah “Dewa”, dan bagi umat Buddha, dia adalah “Sangharama Bodhisattva”.” (Halaman 4)
Episode perjuangan Kwan Kong melakukan perjalanan panjang yang penuh rintangan untuk menemui kakaknya menjadi legenda besar masyarakat Tiongkok yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Ungkapan Kwe Ngo Koan, Cham Liok Chiang (Melewati Lima Gerbang dan Menaklukkan Enam Jenderal) sebagai penggambaran dari usaha dan kerja keras manusia untuk mencapai kesuksesan menjadi etos masyarakat Tiongkok dalam menghadapi kesulitan dan kerasnya kehidupan.
Editor: Prihandini N
