Pencuri Buku

Ervirdi Rahmat

5 min read

Pembaca tidak mencuri, sedang pencuri tidak membaca. Kamu tidak akan berpikir demikian kalau kamu mengenalku, Bachtiar Alajan. Aku seorang pembaca dan aku pencuri. Aku membaca apa yang kucuri. Aku mencuri apa yang kubaca. 

Aku ingin bilang: Aku mencuri buku, maka aku ada. Tapi, itu terlalu mengada-ada.

Aku tidak pernah berminat membaca, mencuri, atau mengerti Descartes. Aku juga tidak pernah melihat bukunya di tempat-tempat aku biasa mengincar buku curianku. 

Lagipula, untuk apa?

Bukunya tidak pernah dilindungi hak cipta, peraturan pertama tentang hak cipta baru berlaku di Inggris enam puluh tahun setelah kematiannya. Kamu cukup mengetik namanya di Project Gutenberg, lalu akan muncul beberapa karya tulisnya. Beberapa pembaca yang mau merepotkan dirinya sendiri bisa mencetaknya di kertas dan memberi catatan. Aku bukan orang seperti itu. Aku pencuri buku yang tidak berminat membaca, mencuri, atau mengerti Descartes.

Meski aku orang yang sadar tentang hak cipta, bukan berarti aku seorang ethical atau ethicist? Bagaimana kamu menyebutnya dalam bahasa Indonesia? Entahlah, yang aku tahu pemimpin saat ini juga tidak peduli soal etika.

Intinya, aku tidak punya motivasi yang berasal dari nilai etik atau nilai-nilai lain yang dasarnya adalah keluhuran, altruisme, dan omong kosong lainnya. Aku tidak pernah berniat apalagi bertindak seakan-akan aku adalah Robin Hood. Aku tidak pernah menyumbangkan buku curianku ke perpustakaan atau kepada mereka membutuhkan buku bacaan. Itu terlalu merepotkan. Aku mencuri untuk diriku sendiri.

Sama seperti orang-orang yang membeli bukunya dengan uang mereka, aku juga tidak bisa memastikan berapa jumlah koleksi buku curianku.

Fluktuatif, catatlah begitu.

Selain kehilangan buku yang kucuri karena faktor kecerobohan seperti terselip lalu tertinggal di suatu tempat yang aku singgahi atau kendaraan umum yang aku tumpangi, beberapa kali buku yang sudah aku curi dicuri lagi.

“Jeruk makan jeruk,” katamu? Ya, lebih kurangnya begitu.  

Tidak ada yang sempurna. Kamu tahu kan, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan bodoh pada waktunya. Beginilah kebodohan dan kejatuhanku sehingga orang-orangmu bisa menangkapku dan kamu bisa menginterogasiku di ruangan ini, Tuan Inspektur.

***

Tanganku panjang karena sering mencuri, tapi aku tidak bermulut besar, Tuan. Itu yang harus kamu tahu.

Baiklah, aku mengakui kalau memang ada sindikat pencuri buku. Ya, aku termasuk di dalamnya. Seperti yang aku sebutkan tadi, beberapa buku curianku juga dicuri lagi oleh satu sama lain di antara kami.

Sebelumnya aku hendak menjelaskan. Ada beberapa buku yang enggan kami curi sejak melihat penampakan sampulnya. Buku ini tidak pula akan kami curi satu sama lain.

Pertama adalah buku self-help. Kami tidak perlu bantuan, Tuan. Nasib ada di tangan kami sendiri. Buku-buku berhasil kami curi lewat tangan-tangan kami yang tidak pernah menyentuh buku berisi panduan untuk memperoleh teman dan memengaruhi orang lain. Hanya pecundang yang membaca buku semacam itu, bukan kami pencuri.

Kedua, buku kisah pengusaha sukses. Aku pernah iseng membaca buku semacam itu karena ayahku membelinya. Suatu waktu buku itu tergeletak di meja ruang tamu. Aku hanya kuat membacanya sampai bab kedua, isinya menceritakan pengusaha sukses sejak hidupnya masih susah, kesulitan itu meliputi bagaimana perjuangan dia berkuliah di kampus ternama ketika rata-rata penduduk masih lulusan sekolah dasar. Ayahku tampaknya termasuk ke dalam orang-orang yang percaya bahwa orang lain seperti dirinya bisa meniru langkah pengusaha sukses tanpa melakukan hal-hal yang tidak tertulis di dalam buku seperti merusak alam, telat membayar pekerja, dan menyuap penegak hukum sepertimu, Tuan.

Aku dan pengusaha sukses sebenarnya tidak jauh berbeda bukan? Kami sama-sama suka mencuri sesuatu, tapi mereka tidak diinterogasi seperti aku sekarang. 

Mungkin karena yang kami curi berbeda? Bukannya pencurian tetap pencurian? Entahlah, aku mungkin akan membaca buku biografi pengusaha sukses sampai habis seandainya dia menulis teknik lolos dari interogasi dan hukuman.

Sayangnya, yang aku tahu hanya teknik mencuri buku. Kamu tahu teknik paling dasarnya?

“Halo, Tuan/Nona. Aku boleh pinjam buku ini?” cukup dengan pertanyaan itu, kamu bisa menjadi pencuri buku pemula. Agar urusan lancar, kamu bisa lebih dulu memuji selera bacaan calon korbanmu. Ajak dia bicara soal buku-buku lain yang biasa dia baca. Tanyakan sejak kapan dan apa yang membuatnya suka membaca? Kalau itu semua berhasil, pinjamlah buku itu lama sekali, berbulan-bulan atau lewat dari setahun. Makin lama makin baik. Ketika dia menagihnya, katakan kamu masih tersendat di bagian awal. Minta maaf kalau kamu tidak secerdas korbanmu, ada kesibukan lain yang membuatmu belum bisa duduk tenang dan membaca. Ulurlah terus-menerus sampai akhirnya korbanmu mengikhlaskan bukunya.

Korban utama dari teknik ini biasanya adalah seorang teman yang berhati lembut dan sensitif. Sasaran paling empuk. Masalahnya, untuk teknik level dasar ini kamu cuma bisa mendapatkan satu buku. Maka pinjamlah buku yang paling sulit ditemui, yang paling tidak mampu kamu beli, atau yang paling ingin kamu baca saat itu. Kalau kamu beruntung, ketiga unsur tadi terpenuhi. Kamu berhasil meminjam dan mencuri buku yang sulit kamu temui, tidak mampu kamu beli, dan sangat ingin kamu baca saat itu juga.

Teknik semacam ini biasanya tidak berlaku bagi aku dan sindikatku. Jika ada yang mau meminjam buku, maka kami akan meminjam balik buku mereka. Maksudku buku curian mereka.

The Catcher in the Rye dengan The Bluest Eye. Orang-orang Bloomington dengan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Dracula dengan Frankenstein. Norwegian Wood dengan Enny Arrow. Calon Arang Toeti Heraty dengan Calon Arang Pramoedya Ananta Toer. Pertukaran semacam itulah, aku sulit menjelaskannya dengan tepat. Kadang ada juga yang melakukan pertukaran berdasarkan jumlah halaman atau harga bukunya di pasaran. Aku makin sulit menjelaskan sistem barter ini karena pernah suatu waktu di sindikat ini aku melihat ada yang menukar Clifford Geertz, seingatku Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia dengan manga Naoki Urasawa, seingatku lima volume awal Monster.

Sebentar. Sebelum kita lanjut lagi, bisakah kita tidak menyebut sindikat di sini, Tuan? 

Tidak, sindikat bukan kata yang paling tepat, Tuan. Klub, mungkin? Klub pencuri buku? Oh, tidak, rasanya sangat formal, Tuan. Perkawanan? Perkawanan pencuri buku? Tidak semua dari kami berkawan. Lebih banyak yang bermusuhan karena masalah pencurian buku di antara satu sama lain. Bagaimana kalau sesederhana menyebutnya kelompok saja, Tuan? Ya, kelompok pencuri buku. Anggota kami tidak pernah tetap, kami tidak punya grup WhatsApp, dan kami berkumpul tidak tentu waktu. Satu pertemuan paling banyak dihadiri empat sampai lima orang di tempat yang berpindah-pindah.

Kalau aku menghitung jumlah anggota kami secara tepat, bisa aku katakan penjara ini akan penuh dan aku tidak berminat satu sel dengan mereka. 

Jika kau memperlihatkan muka mereka, Tuan. Aku bisa saja mengakui, ya, aku mengenalnya, dia juga pasti mengenalku, aku berani bersumpah, dia bagian dari kelompokku, kelompok pencuri buku.

Masalahnya, Tuan, kau tahu: Tanganku panjang, tapi aku tidak bermulut besar.

***

Simpan tenagamu. Aku tidak akan menyebut satu nama pun selain namaku sendiri, Bachtiar Alajan. Aku bisa bercerita banyak soal yang lain. Baik, aku bisa menjelaskan teknik lanjutan mencuri buku dan tempat sasaran kami dalam mencuri buku. Sebelum itu, ada hal yang perlu kau tahu. 

Pembaca buku semuanya sama; pencuri buku mencuri dengan caranya masing-masing.

Ada yang melakukannya hanya dengan antisipasi tengok kanan dan tengok kiri sebelum memasukkan buku curian ke dalam ranselnya. Ada pula yang modusnya “makan lima gorengan, bayarnya cuma dua” dengan teknik sebaliknya: Bayar dulu untuk dua judul, kemudian ambil tiga sisanya. Ada pula dia yang dengan berani dan merepotkan dirinya sendiri mencari gudang di mana buku yang dia incar itu berada dan pergi ke sana pada malam hari saat pengawasan sedang lengah.

Toko buku besar yang berada di pusat perbelanjaan makin hari makin sulit kami jadikan target. Bukan cuma karena faktor keamanan seperti sensor yang mereka gunakan, masalah yang paling utama adalah mereka makin jarang menjual buku yang kami ingin curi.

Beberapa dari kami juga tidak tega mencuri buku dari perpustakaan dan toko buku tua yang penjualnya sama tuanya atau malah jauh lebih sepuh dari buku tua yang diincar. Menyedihkan, merekalah orang yang tadi aku sebut sebagai ethicist itu. Pencuri buku dengan hati nurani adalah yang paling buruk yang pernah aku temui.

Mereka, para pencuri buku dengan moral, jauh lebih menyedihkan dari para pencuri buku dengan modal. Maksudku begini, ada beberapa dari kami yang berinisiatif lebih dulu membeli buku bajakan atau mencetaknya sendiri. Mereka kemudian menukarnya dengan buku yang ada di toko atau perpustakaan. Biasanya buku-buku langka yang sulit dicari, tapi menurutku orang-orang seperti itu tidak pantas disebut pencuri buku, mereka cuma penukar buku. Curi atau tidak sama sekali.

Bagaimanapun juga, aku tidak bisa mengekskomunikasi mereka. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, kelompok ini tidak pernah tetap. Kami menerima segala macam orang. Bahkan yang bukan pencuri sama sekali.

Mereka adalah penadah buku curian. Orang-orang menyedihkan lainnya. Ada satu kelompok kecil dengan selera yang sangat spesifik: Buku tua abad ke-18 dengan bahasa Belanda yang berasal dari perpustakaan pribadi milik para tokoh publik yang biasa ditandai dengan cap stempel di halaman depannya. Untuk yang terakhir, penadah buku curian bisa membayar tiga kali lipat, tergantung siapa tokoh publik tersebut.

***

Jadi, bagaimana? Apakah aku sudah memuaskan rasa penasaranmu, Tuan? Aku bisa pulang sekarang? Apa kau bilang? Kau masih penasaran kenapa yang kami curi itu buku dan bukan barang lain seperti motor, logam mulia, atau surat berharga?

Benar rupanya. Kamu memang tidak menyimak ceritaku dengan saksama. Selesaikan laporan perkara ini dan bacalah kembali tiga kali.

Kalau kamu masih tidak mengerti, aku akan mengatakannya dengan gamblang sekarang. 

Sepanjang perjalananku mencuri, jauh lebih aman bagiku untuk mencuri buku daripada mencuri motor, logam mulia, atau surat berharga.

“Sudahlah. Beli baru lagi saja,” lebih kurangnya begitu jawaban orang-orangmu yang tidak pernah membaca buku ketika diminta mencari buku yang telah dicuri dan pelaku pencuriannya.

Aku pencuri, tapi dengan mencuri buku aku bebas.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ervirdi Rahmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email