Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Narasi Epik Penggambaran Kelas Pekerja pada Dua Film Ernst Thälmann (1954 &1955)

Farhan M. Adyatma

3 min read

Bayangkan Anda adalah seorang warga Jerman Timur. Anda dipaksa untuk menonton film buatan pemerintah yang menceritakan sosok Ernst Thälmann (1886-1944), seorang politikus komunis Jerman dan pemimpin Partai Komunis Jerman (KPD) dari tahun 1925 hingga 1933.

Film tentang Ernst Thälmann tersebut dibagi menjadi dua, yakni Ernst Thälmann – Sohn seiner Klasse (Son of his Class/Putra Kelasnya) yang rilis pada tahun 1954, dan sekuelnya berjudul Ernst Thälmann – Führer seiner Klasse (Leader of his Class/Pemimpin Kelasnya) yang rilis pada tahun 1955. Di Jerman Timur, film tersebut wajib ditayangkan di pabrik-pabrik, pertanian kolektif, dan sekolah-sekolah selama bertahun-tahun setelah dirilis.

Dari situ, terlihat bahwa film Ernst Thälmann (1954 & 1955) adalah film propaganda buatan pemerintah Jerman Timur. Saat ini, film Ernst Thälmann (1954 & 1955) bisa ditonton secara gratis melalui streaming di Internet Archive.

Untuk menulis ulasan film ini, saya murni melihatnya berdasarkan hal-hal teknis dalam film, bukan berdasarkan akurasi dengan peristiwa sebenarnya. Hal itu karena film ini di beberapa scene memang ahistoris.

Semangat Kolektif

Ketika menonton Ernst Thälmann – Sohn seiner Klasse, scene diawali dengan berada pada masa Perang Dunia I, spesifiknya berada di Front Barat pada 1918. Pada scene tersebut, Ernst Thälmann (diperankan oleh Günther Simon) memerintahkan untuk menurunkan bendera perang Jerman yang bernama Reichskriegsflagge dan menggantinya dengan menaikkan bendera merah polos—simbol sayap kiri.

Baca juga:

Bagi saya, scene tersebut berusaha menunjukkan bahwa Ernst Thälmann (dipanggil “Teddy” oleh teman-temannya) adalah seorang komunis sejati. Di sisi lain, saya juga melihat bahwa Ernst Thälmann di sini tidak diposisikan sebagai seseorang yang apa-apa bergerak sendiri.

Ernst Thälmann banyak berinteraksi serta meminta bantuan dari kawan-kawannya untuk merencanakan strategi dan mengorganisir kaum buruh untuk melakukan mogok kerja hingga pemberontakan. Teman Ernst Thälmann yang bisa dibilang paling mencolok sepanjang film adalah Fiete Jansen (diperankan oleh Hans-Peter Minetti).

Karl Liebknecht dan Simbol Solidaritas

Pada Ernst Thälmann – Sohn seiner Klasse, diperlihatkan scene ketika Karl Liebknecht berpidato di hadapan kaum buruh Jerman, pidatonya diakhiri dengan menyanyikan lagu Die Internationale yang berbahasa Jerman. Selain itu, diperlihatkan juga scene ketika Karl Liebknecht (diperankan Martin Flörchinger) dan Rosa Luxemburg (diperankan oleh Judith Harms) akan dibunuh di dalam satu ruangan yang sama.

Di Pelabuhan Hamburg, Ernst Thälmann mengumpulkan kaum buruh dan berpidato mengenai Karl Liebknecht dan Rosa Luxemburg yang telah dibunuh. Dalam pidato tersebut, Ernst Thälmann menyoroti mengenai absennya partai massa revolusioner yang membimbing para pekerja dalam perjuangan dan mengorganisasikan mereka. Walaupun begitu, Ernst Thälmann juga menyatakan bahwa kaum buruh Jerman tidak akan mundur dan akan tetap memperjuangkan revolusi proletar.

Saya melihat penghormatan yang cukup besar khususnya kepada Karl Liebknecht pada film ini. Hal itu terlihat dari datangnya kapal uap dari Uni Soviet yang dinamai “Karl Liebknecht” ke Jerman yang membawa bantuan berupa gandum untuk para pengangguran di Hamburg.

Scene ini juga memperlihatkan semangat solidaritas kelas pekerja Jerman dengan Uni Soviet. Scene tersebut diperindah dengan nyanyian Matrosen von Kronstadt yang dinyanyikan oleh para pekerja yang bahu-membahu menurunkan karung berisi gandum dari kapal uap Soviet tersebut.

Perlawanan terhadap Nazi

Pada film kedua berjudul Ernst Thälmann – Führer seiner Klasse, terlihat bahwa Ernst Thälmann menyerukan aliansi dengan Partai Demokrat Sosial Jerman (SPD) untuk melawan Nazi yang semakin besar pengaruhnya di Jerman. Namun, hal itu ditolak oleh para petinggi SPD. Di saat yang sama, pengaruh dari Ernst Thälmann juga semakin besar mengingat dirinya sudah menjadi anggota Reichstag dan kepala KPD.

Kebakaran Reichstag kemudian mengubah segalanya. Momen ini dimanfaatkan oleh Nazi untuk memperkuat pengaruhnya dan menuduh bahwa kebakaran tersebut dilakukan oleh komunis. Akibatnya, banyak orang komunis yang ditangkap, termasuk Ernst Thälmann.

Ernst Thälmann akhirnya dipenjara di Buchenwald selama 11 tahun. Sementara Fiete Jansen melarikan diri ke luar negeri dan bergabung dengan Batalyon Thälmann di Spanyol pada masa Perang Saudara Spanyol. Ketika Perang Dunia II dimulai pada 1939, Fiete Jansen bergabung ke dalam Red Army 143rd Guards Tank Division ‘Ernst Thälmann’.

Perlawanan dalam Penjara

Sejak Ernst Thälmann dipenjara, bisa dibilang scene yang menampilkan dirinya di dalam penjara tidak terlalu banyak. Namun, sekalinya ada scene yang menampilkan Ernst Thälmann di dalam penjara, terlihat bahwa Ernst Thälmann berusaha untuk melakukan perlawanan.

Hal itu terlihat ketika Hermann Göring (diperankan oleh Kurt Wetzel) datang ke penjara Ernst Thälmann. Hermann Göring berbicara mengenai kemungkinan Ernst Thälmann untuk bebas dari penjara jika dirinya bersedia untuk meninggalkan ideologi komunisme.

Namun, Ernst Thälmann tidak mengucapkan satu kata pun untuk menanggapi perkataan Hermann Göring tersebut. Dari situ, Hermann Göring marah besar dan menyatakan bahwa dirinya akan membiarkan Ernst Thälmann untuk mendekam di penjara selama beberapa dekade.

Mati dengan Elegan

Adegan terakhir dari Ernst Thälmann – Führer seiner Klasse adalah Ernst Thälmann yang diputuskan untuk dieksekusi mati. Dalam scene tersebut, terlihat bahwa Ernst Thälmann meninggalkan selnya untuk dieksekusi.

Baca juga:

Ketika berjalan sebelum dieksekusi mati, Ernst Thälmann merenungkan kata-kata Pavel Korchagin dari novel How the Steel Was Tempered yang sebagiannya berbunyi: “…All my life, all my strength were given to the finest cause in all the world—the fight for the liberation of mankind.” Setelah itu, lagu Ernst Thälmann-Lied kemudian diputar sebagai backsound untuk menambah kesan dramatis pada akhir film tersebut.

Maßlos gequält und gepeinigt,
Blieb er uns treu und hielt stand.
In seinem Namen geeinigt —
Kämpfe lebendiges Land!

Thälmann und Thälmann vor allen,
Deutschlands unsterblicher Sohn.
Thälmann ist niemals gefallen —
Stimme und Faust der Nation!

Sebagai penutup, film Ernst Thälmann – Sohn seiner Klasse (1954) dan Ernst Thälmann – Führer seiner Klasse (1955) memang lahir sebagai karya propaganda. Namun, bagi saya, sisi teknis film tersebut menawarkan banyak hal yang menarik untuk dilihat kembali. Saya melihatnya sama seperti ketika melihat film Pengkhianatan G30S PKI (1984) sebagai film propaganda, tetapi saya tetap respect terhadap sisi teknis film pada karya Arifin C. Noer tersebut. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Farhan M. Adyatma
Farhan M. Adyatma Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email