Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Malam yang Tak Lagi Milik Kita dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

Tubuh yang Diiklankan

Tubuhmu
telah menjadi spanduk di perempatan—
dengan huruf kapital dan klaim bombastis:
Obat kuat! Sekali teguk, taklukkan dunia!

kau minum
seperti meneguk masa kecilmu yang sering dimaki
karena menangis di kamar mandi

sementara istrimu—
membilas luka di antara paha
dengan sabun pewangi yang dijanjikan
dapat membuatmu kembali tinggal

padahal
tak ada bau yang lebih pekat
dari pengkhianatan yang manis

Lubang

orang-orang memperkecil lubang
seolah cinta bisa bocor darinya
seolah kenangan bisa dibungkus ulang
dengan benang jahit yang lebih kuat dari rindu

ia duduk di depan cermin
membuka kakinya, mengoleskan gel pengencang
seperti memoles ulang sejarah

sementara lelaki di seberangnya
mengoleskan pil pada lidahnya
agar malam itu tak terlalu cepat tamat

dan mereka saling melihat,
bukan karena cinta,
tapi karena saling ingin saling lupa

Iklan Ranjang

di televisi, penis menjadi roket
vagina menjadi terowongan
dan cinta menjadi durasi

kita hidup di zaman
di mana orgasme dianggap sebagai kesetiaan
dan pelukan sebagai transaksional

kau ingin bertahan lebih lama
padahal ia hanya ingin dirimu pulang lebih cepat

Reklame di Dada

suatu malam,
kau membeli krim pengencang dada
dari akun yang menjual pelaminan dan penghapus masa lalu

kau pikir
jika dada ini lebih kencang
dia akan mengulang sumpah nikahnya

padahal ia diam-diam membuka DM perempuan muda
yang mengiriminya foto tanpa kepala

sebab cinta hari ini
tak butuh wajah
hanya tubuh dan sinyal

Serbuk Ajaib Penunda Klimaks

“biar tak cepat lemas,” katanya
sambil merobek bungkus plastik
yang berisi keperkasaan dalam dosis terukur

di tubuhnya
ketegangan bukan lagi dari cinta
melainkan dari takut kalah oleh rumor
tentang betapa gigihnya lelaki yang merebut istrinya

padahal,
yang hilang dari ranjang mereka bukan stamina
melainkan percakapan setelah lampu dimatikan

Malam yang Tak Lagi Kita

aku mencintaimu, katamu
sambil mencium pahaku yang baru dibilas cairan antiseptik
agar tak ada aroma yang mengingatkanmu
pada luka yang bukan kamu buat

tapi cinta
tak bisa disterilkan
tak bisa dipoles
tak bisa diresepkan oleh apotek terdekat

kau bisa membeli waktu di ranjang
tapi tak bisa membeli tempat untuk pulang

(Yogyakarta, Juni 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email