Kau Terjemahkan Malam
Kau terjemahkan malam dengan tubuhmu
Angin menelanjangimu dan bintang-bintang
merekah di puting payudaramu
yang takkan selesai memberi umur
Sementara itu aku hanya puisi
yang tidak jadi ditulis
Aku hilang dari ingatan sebelum
penyair itu disalib nasib
Aku ingin menerjemahkannya juga
Tapi hidup begitu tergesa-gesa
dan akhirnya hilang entah di mana
–
Meneguk Kopi
Pada sepasang warna yang larut pada dinding kepalaku,
pelan-pelan aku mencoba
mengingatmu sebagai garis linear,
namun kau selalu kembali sebagai tekstur
yang kasar dan sulit ditafsirkan
Sebelum menyelesaikan tegukan terakhir, sepasang warna itu
tumpah ke dalam kopi
Pelan-pelan ia menjalar
jadi peta—mengenai perjalanan yang tak pernah tuntas
Barangkali kita adalah sisa kopi ini nanti:
sehabis hitamnya
pahitnya menebal
hingga mengering
tepat di bagian yang paling ingin kita pertahankan
–
Kita Melangkah ke Masa Lalu
Kita melangkah ke masa lalu
di mana waktu tak lagi punya urusan
dengan detak jantung dan kecemasan
Kau akan menemukan aku sebagai sebaris
kalimat yang belum tuntas dibaca,
menunggu di antara tanda koma
dan titik yang keras kepala
Sebelum kalimat itu akhirnya dihilangkan dari ingatan,
ada yang tak sengaja
mengucapnya: tokoh yang sebenarnya tak punya peran di mana-mana
Ia mencoba menutupi retakan-retakan
yang kita bangun
dari sisa-sisa percakapan semalam
Ah, barangkali kesepian hanyalah sisa debu
di setiap rak buku
Dan pada akhirnya kalimat yang tak terucap
menemukan caranya berbicara,
sebagaimana kita menemukan diri kita
dalam rencana yang sia-sia
–
Ketika Aku Terjemahkan Matamu
Ketika aku terjemahkan matamu
Kau adalah matahari
yang rela memadamkan cahayanya
demi turun ke bumi
hanya untuk menyentuh bibirku
Aku pun menyala
Aku pun menyala
Menyala sampai binasa
Ketika aku masuk dalam matamu
Kau adalah galaksi
yang rela menanggalkan kuasanya
demi masuk dalam tubuhku
untuk menjadi bunga di hatiku
Kini akulah nyala itu
Kini akulah nyala itu
Nyala yang membinasakan diriku
Ketika aku diam sebentar di sana
Kau merendah di puisi ini
dan rela menolak segala tafsir
Kini aku rahasia dalam matamu
*****
Editor: Moch Aldy MA
