Kami Perempuan dan Puisi Lainnya

Fitri Rusandi

1 min read

Kami Perempuan

kami bukan bunga di jendela.
bukan nama di akta nikah.
kami perempuan
yang kalian ciptakan untuk diam.
tapi tak akan kami berikan mulut ini
untuk disegel negara.

tapi negara
selalu tergagap
melihat kami berdiri.
katanya “perempuan baik-baik tak bersuara keras”

tapi suara kami ini
dipahat dari luka-luka hukum
yang pura-pura buta
pada tangan yang meraba
tanpa diundang.

negara suka perempuan
yang pandai menunduk.
yang sabar diludahi,
dijambak,
dilecehkan
di meja makan
dan di ranjang penguasa. 

negara gemar berkhotbah tentang moral,
tapi membayar aparat
yang memperkosa di balik seragam.

katamu, kami lemah.
tapi kenapa kalian gemetar
melihat perempuan naik mimbar?

kami perempuan.
dan kami tidak lagi bisa diam.
jika bicara dianggap dosa
maka biarlah kami berdosa setiap hari.

_

Peta yang Ditarik dari Pusar

di ladang ibu─ kami ditanam.
bukan untuk tumbuh,
tapi menghijaukan sawah untuk nama baik.

langit jatuh di pangkuan dapur.
kami tak menangis,
hanya belajar menyembunyikan suara di lipatan kain batik.

yang bersuara: dituliskan di batu nisan
sebagai legenda buruk dari mulut yang lupa ditutup.
yang diam: dituliskan di surat warisan
tanpa nama depan.

aku pernah bicara pada jari tengahku,
“kalau nanti kau menikam, jangan lupa tersenyum.”
karena perempuan, katanya, harus manis.
bahkan saat perih dijahitkan ke nadi.

laki-laki duduk di ruang tamu
kami disuruh menjamu─
bahkan luka.

siapa bilang aku tidak bangga jadi perempuan
aku hanya muak jadi altar penghapus malu
dari dosa-dosa yang bukan milikku.

jadi malam,
aku menyusap ke mimpi sendiri
dan menggambar ulang tubuhku
tanpa tali pusar.

_

Tuan, Aku Bukan Milik Tatapanmu

tubuhku berdiri.
tapi kau kira panggung.
langkahku tenang.
kau tandai arah seolah kau tuan jalanannya.

aku tertawa
bukan isyarat melelang tubuh dipasar nalurimu yang lapar
aku percaya diri
bukan menu makan siang untuk dikunyah di meja fantasi

tapi kalian.
dengan mulut seramah selokan
dan pikiran yang selalu basah
datang membawa candaan
yang aromanya kalah wangi
dari bangkai moral di trotoar pagi.

katamu: “cuma iseng.”
kataku: “kau lelucon yang gagal, lukaku nyata.”

katamu: “gak kuat kritik ya?”
padahal yang kupertahankan cuma martabat

kau kira tubuh ini layar tancap
yang bebas kau tonton tanpa tiket.
kau terka tanpa batas.
seolah aku tak lebih dari film sunyi.
yang bisa kau jeda seenak birahi busukmu.

padahal aku manusia
bukan adegan dalam kepala keruhmu.
yang haus akan hiburan tapi kering etika.

aku tak bisa jadi lelucon
tubuhku bukan panggung lawakmu
aku perempuan
bukan dosa yang minta dimaafkan
karena tak sudi kau jinakkan. 

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fitri Rusandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email