Jelang Kunjungan Wakil Presiden

Lommie Ephing

3 min read

Desas-desus pembongkaran lapak merangkap permukiman liar di sepanjang bahu jalan pasar Mardika santer merebak seiring kabar kunjungan Wakil Presiden yang konon tak suka baca buku itu kian mengemuka. Boleh jadi desas-desus yang beredar bukan lagi sekadar desas-desus belaka, mengingat koran-koran terbitan lokal pun serta-merta mewartakan kabar serupa selama hampir genap sepekan terakhir. Ibarat denging sirene mobil pemadam kebakaran yang grasak-grusuk menerabas lintang-pukang lalu lintas, kabar kunjungan Wakil Presiden pun menjelma mimpi buruk. Terutama bagi orang-orang yang kebetulan menumpang hidup di gubuk-gubuk kumuh yang disebut permukiman liar.

Itu benar. Sudah bukan rahasia umum lagi. Sebab setiap jelang kedatangan Presiden atau Wakil Presiden, segenap ruas jalur jalan raya yang sedianya dilalui iring-iringan mobil Kenegaraan akan diperbaiki citranya. Jalan-jalan berlubang segera ditambal hingga licin seperti baru akan diresmikan. Tak ketinggalan lapak-lapak pedagang kaki lima turut ditertibkan. Intinya, demi menjaga citra kota di mata Wakil Presiden, maka harus disterilkan dari segala yang dianggap liar serta mengganggu ketertiban umum.

Dan, hal itulah penyumbang utama rungsing di kepala Marsiyah sehari-harian ini. Harusnya perempuan itu sekarang berwajah semringah, sebab baru saja ia peroleh segepok duit hasil menukar bayinya kepada pasangan suami istri yang baru ditemuinya sekitar tiga jam lewat. Namun, yang dia lakukan justru mondar-mandir tak karuan, sambil sesekali meremas ujung dasternya yang kumal. Belum pernah Marsiyah secemas ini menyambut kepulangan Kurdi, suaminya yang seorang buruh pikul.

Bagi Marsiyah, perkara tempat tinggal jauh lebih pelik dari urusan memiliki bayi. Toh, besok-besok ia dan suami masih bisa mencetak bayi lagi. Bahkan bila perlu setiap tahun mereka bisa mencetak satu. Itu mudah saja buat mereka. Lagipula, seonggok daging di balik celana Kurdi masih gagah perkasa, dan lebih dari sanggup menghamilinya kapan pun mereka mau. Lain cerita jika tak punya tempat tinggal. Jika hunian mereka yang sempit ini sampai benar dibongkar, lalu ke mana lagi mereka jika terpaksa ingin ngentot siang-siang? Mursiyah enggan melayani birahi sang suami di bilik-bilik WC umum, atau di areal pekuburan seperti yang sudah-sudah.

Gemetar tubuh Kurdi mendengar pengakuan Marsiyah setibanya di rumah siang itu. “Cukimai!” makinya disulut emosi. Lelaki itu pun mendadak ingin mematahkan leher Marsiyah. Saking kerasnya Kurdi memelintir batang leher istrinya, perempuan muda itu sampai jatuh terjengkang dengan napas bengek. Persis seekor ikan mas koki yang baru dientas dari kolam.

Cuih! Marsiyah meludah. Asin darah di lidahnya sontak berpindah di lantai tanah. Susah payah perempuan muda itu merangkak lamban-lamban, mengambil sesuatu yang belum lama ia simpan di dasar timbunan baju-baju di dalam kardus bekas mi instan, kemudian dilemparkannya dengan kasar, tepat di sela kaki suaminya.

Uang.

Kurdi sejenak mengerutkan dahi dan berkeras menolak. Namun, pada akhirnya ia pasrah menerima seikat besar uang tersebut, setelah didesak Marsiyah.

“Jang marah, sayang. Tapi, beta kira katong seng talalu butuh bayi. Yang katong butuh sakarang ni kan, uang.” Hati-hati sekali Mursiyah mengelus lembut punggung Kurdi sambil waspada kalau-kalau suaminya itu tiba-tiba marah lalu menghajarnya sampai babak belur. “Tapi… kalau umpama se tetap butuh bayi, beta siap par hamil lai.”

Seulas senyum pun lekas terbit di wajah Kurdi. “Abis itu katong jual akang lai kombali. Setiap taong, katong jual katong pu ana par tambah-tambah biaya hidop.” Gurat senyum takzim di bibir Kurdi segera berganti tawa mesum. “Lebe bae katong bakunai skarang! Lebih cepat lebih baik. Supaya bayi yang nantinya katong mo jual, akang lebih cepat lahir!”

Begitulah.

Sementara Marsiyah dan Kurdi terbakar oleh ledakan birahi, Ina Upu hanya bisa membisu di biliknya yang dua kali lebih kumuh. Benjolan di lehernya kian membesar dan berdenyut laiknya jantung cadangan dari waktu ke waktu. Mungkin tak lama lagi ia akan mati oleh tumor ganas yang bersarang di lehernya. Angin pantai Mardika bertiup lembut, membawa serta bauran amis laut dan aroma tahi kering. Sebuah perpaduan aroma khas yang saban hari mengakrabi rongga penciuman. Ketika matahari redup menjelma rembang senja di langit barat, Ina Upu menepuk-nepuk lututnya yang renta sebelum merangkak dan meraba-raba buat mengaso. Syukurlah, masih ada nasi lauk tempe sisa pemberian Mursiyah malam kemarin.

Usai mengganjal perut, Ina Upu kembali berbaring di gelaran kardus. Sekelilingnya remang sebab bergantung pendar cahaya lampu pijar di kejauhan. Siang malam dirundung gelisah. Sepanjang tahun, urusan perut dan tempat tinggal selalu saja saling berebut ruang di rongga kepalanya.

Seperti ribuan malam-malam sebelumnya, setiap kali memandangi pekat langit malam, Ina Upu dirundung pilu. Gurat-gurat wajah mamanya lekat membayang. Ia ingat betul. Kala itu umurnya sekurang-kurangnya enam atau tujuh tahun ketika diajak Mama jalan-jalan ke pasar malam. Ina Upu menggamit ujung rok mamanya agar tak terpisah. Malam itu, segala macam bau manusia bersirobok memasuki saluran pernapasannya. Dan setelah berbelas hari tak pulang-pulang, Ina Upu sadar akan satu hal―Mamanya tak sekadar mengajaknya jalan-jalan, melainkan membawanya pergi dari rumah selamanya. Rumah itu su bukang katong pung lai, Negara su ambel akang, begitu jawaban ibunya kala ia bertanya kenapa mereka tak kunjung pulang ke rumah.

Ya. Setiap kali mengingat momen-momen itu, tanpa sadar, sepasang mata Ina Upu jadi basah kuyup.

***

Malam ini Ina Upu mestinya berkemas-kemas seperti tetangga-tetangganya yang lain, sebab besok pagi kawasan permukiman mereka akan dibongkar petugas. Itu benar. Namun masalahnya, tak ada yang harus dia kemasi mengingat dia hanya punya selembar pakaian yang melekat di badan, serta selembar kain gombal untuk alas tidur, sekadar pelindung dari serangan gigitan nyamuk.

Ina Upu sudah lama jenuh. Dari kecil ia selalu diburu dan diusir paksa. Jangan kira tidak pernah tebersit di kepalanya keinginan hidup normal, menetap di rumah milik sendiri dan menjalani hidup damai sentosa. Tentu sering. Tetapi kenyataannya tidak segampang itu. Orang-orang bernasib kurang beruntung seperti dirinya memang cukup sebatas menumpang tinggal, laiknya lumut yang menempel di tembok-tembok rumah gedong nan lembap, dekat parit-parit beraroma limbah pekat.

Benar saja. Sebelum jam tujuh pagi terdengarlah suara ribut-ribut. Rupanya curut-curut berseragam itu telah datang. Satu demi satu rumah-rumah beratapkan lembar-lembar seng motif jalur-jalur bekas dicongkel lalu dirobohkan. Isak tangis berbaur sumpah serapah mewarnai aksi pembongkaran pagi itu.

Beranjak siang, ketegangan kian memuncak. Dua unit buldoser tambahan muncul dan pasukan-pasukan curut berseragam bersicepat turun seperti hujan badai. Masing-masing bersiaga membawa senjata. Ketegangan pun mulai terasa manakala satu demi satu hunian liar warga dirata-tanahkan paksa. Namun, rintih pilu masyarakat kecil hanya sebatas riak ombak yang pecah di bibir pantai.

Sementara orang-orang berhamburan lari meninggalkan gubuknya, Ina Upu tetap berkeras tinggal dalam gubuknya. Ia paham betul, bahwa setiap kali kota kecil ini hendak dikunjungi Presiden atau Wakil Presiden, gubuk-gubuk mereka pun harus dilenyapkan paksa. Mau tak mau mereka harus angkat kaki, menyingkir dan menjalani hidup sebagai gelandangan. Namun, sebelum itu terjadi, Ina Upu punya sedikit hadiah untuk salam perpisahan—sebongkah tahi untuk ia lemparkan ke wajah curut-curut berseragam.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Lommie Ephing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email