Gerimis Necis
bicaralah,
meski sekadar bangkai
melulu tergadai
tak pernah selesai
sekalipun gentayangan
di tiap kedai
berkawan gerimis
sedih tipis-tipis
sisir kehilangan
agar tampak necis
becermin
pada warna
menolak
segala
yang lupa
ditertawakan cinta
(Banjarbaru, 2025)
–
Mingguraya Musa
Musa adalah gawai
berkedap-kedip
dengan puisi di tangannya,
menghitung sudah berapa malam
lebur jadi barisan kata,
lagu berulang
sedu-sedan kepalsuan
Musa adalah bangku-bangku
genap terjaga
setelah hujan duduk santai
menyeduh keluh-kisah bibirmu
(bibir yang itu juga, barangkali,
asu keparat meminjamnya
buat sekadar gibah
mantan terindah
bekal terbaik mengusir resah)
Musa adalah kita
notifikasi hilir-mudik
pura-pura membuka obrolan
ialah cara lain menggusur perasaan
(Banjarbaru, 2025)
–
Taman SegoroTirta
menjenguk kebun-kebun bunga
sepanjang keheninganmu,
tatapan terjaga
ialah sihir tanpa nama,
membius
sekaligus meringkus
seribu denah purnama
jalan datang-jalan pulang,
mengepung seiring dengung
entah tawa atau luka,
entah risau atau sekadar racau
badai notifikasi
sepanjang namamu,
kubur privasi
yang tak benar-benar ada
(Banjarbaru, 2025)
–
Dikejar Sepi
hati-hati,
sebab sepi
telanjur menghunus belati
dikejarnya kamu
mengoyak-ngoyak
centang biru
langkah tergopoh
di jalan buntu
(Banjarbaru, 2025)
–
Setengah Jalan
duduk
bersandar
kisah-kisah
tak berbentuk
meraba
yang hilang
dari percakapan terang
(Banjarbaru, 2025)
–
Homeless
kedai genap berbaris
setelah kuyup gerimis
ialah namamu
disembunyikan lagu-lagu
dan segala yang berlalu
kuingat minggu sebelum kata-kata dilemparkan
menjelma halilintar di jalanan
mengumpat pedih kenyataan
inikah mula sedih dirayakan
atau bahagia pura-pura dijajakan
jalanan yang menggaris tubuhku
setelah maut menyeberang
pada kenangan-kenangan rawan
semisal mengingatmu, dear mantan
ah hatiku yang sampah,
terbongkar ia
sebatas jiwa sumpah-serapah
malam masih panjang
tapi puisi-puisi
memilih lubang
dari keraguanku;
wajah yang lekat
lepaskan biar sekarat
bernisan barisan kawat
(Banjarbaru, 2025)
–
Parafrase Hijau
akulah hijau angin,
menyeberang musim ke musim
diembus kisah demi kisah,
hingga terbit wangi risalah
akulah hijau angin,
melintas-lintas
sebatas cemas,
melintas-lintas
sebatas luka
gagal berkemas
(Banjarbaru, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
