penyuka film-film setan, penggemar kopi sachetan. sering banyak lupa kalau ditanya tentang matematika. Buku puisinya, "Catatan Dari Pekarangan Acak"(Penerbit Lumpur, 2025)

Gerimis Necis dan Puisi Lainnya

Muhammad Daffa

1 min read

Gerimis Necis

bicaralah,
meski sekadar bangkai
melulu tergadai
tak pernah selesai
sekalipun gentayangan
di tiap kedai

berkawan gerimis
sedih tipis-tipis
sisir kehilangan
agar tampak necis

becermin
pada warna

menolak
segala
yang lupa

ditertawakan cinta

(Banjarbaru, 2025)

Mingguraya Musa

Musa adalah gawai
berkedap-kedip
dengan puisi di tangannya,
menghitung sudah berapa malam
lebur jadi barisan kata,
lagu berulang
sedu-sedan kepalsuan

Musa adalah bangku-bangku
genap terjaga
setelah hujan duduk santai
menyeduh keluh-kisah bibirmu

(bibir yang itu juga, barangkali,
asu keparat meminjamnya
buat sekadar gibah
mantan terindah
bekal terbaik mengusir resah)

Musa adalah kita
notifikasi hilir-mudik
pura-pura membuka obrolan
ialah cara lain menggusur perasaan

(Banjarbaru, 2025)

Taman SegoroTirta

menjenguk kebun-kebun bunga
sepanjang keheninganmu,
tatapan terjaga
ialah sihir tanpa nama,
membius
sekaligus meringkus
seribu denah purnama
jalan datang-jalan pulang,
mengepung seiring dengung
entah tawa atau luka,
entah risau atau sekadar racau
badai notifikasi
sepanjang namamu,
kubur privasi
yang tak benar-benar ada

(Banjarbaru, 2025)

Dikejar Sepi

hati-hati,
sebab sepi
telanjur menghunus belati
dikejarnya kamu
mengoyak-ngoyak
centang biru
langkah tergopoh
di jalan buntu

(Banjarbaru, 2025)

Setengah Jalan

duduk
bersandar
kisah-kisah
tak berbentuk
meraba
yang hilang
dari percakapan terang

(Banjarbaru, 2025)

Homeless

kedai genap berbaris
setelah kuyup gerimis
ialah namamu
disembunyikan lagu-lagu
dan segala yang berlalu

kuingat minggu sebelum kata-kata dilemparkan
menjelma halilintar di jalanan
mengumpat pedih kenyataan

inikah mula sedih dirayakan
atau bahagia pura-pura dijajakan
jalanan yang menggaris tubuhku
setelah maut menyeberang
pada kenangan-kenangan rawan
semisal mengingatmu, dear mantan

ah hatiku yang sampah,
terbongkar ia
sebatas jiwa sumpah-serapah

malam masih panjang
tapi puisi-puisi
memilih lubang
dari keraguanku;
wajah yang lekat
lepaskan biar sekarat
bernisan barisan kawat

(Banjarbaru, 2025)

Parafrase Hijau

akulah hijau angin,
menyeberang musim ke musim
diembus kisah demi kisah,
hingga terbit wangi risalah

akulah hijau angin,
melintas-lintas
sebatas cemas,
melintas-lintas
sebatas luka
gagal berkemas

(Banjarbaru, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Muhammad Daffa
Muhammad Daffa penyuka film-film setan, penggemar kopi sachetan. sering banyak lupa kalau ditanya tentang matematika. Buku puisinya, "Catatan Dari Pekarangan Acak"(Penerbit Lumpur, 2025)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email