titik
jam mengetuk dada pagi.
tajam. dingin.
aku bangunkan matahari.
jam digulung tragedi
—gunakan kesepian itu
sebelum akar mati.
mataku berlubang cahaya.
wajah bermandikan angkara.
tekad tercecer di sela kesedihan.
cepat dan lambat tak lagi penting.
waktu memilah ingatan.
jam melilit besi.
wajah meruang sangsi.
pisau nasihat mengasah luka.
jam berkelindan.
berdenting. mendesis.
menolak ditelan.
aku bebaskan matahari.
(2025)
–
yang putih dan hitam suci
—Maa khalaqta hadza bathila
subuh menggantung di pasar Ciputat
di dada kecil itu
khilaf turun sebagai mimpi basah
senyum malu-malu tiba-tiba mekar
jadi marwah, juga malapetaka
karena putih, hitam jadi makna
dan gugur warna di beranda
terlena, kagum, penuh benci—
entah mengapa hidup bermakna
subuh yang menggantung itu
menyentuh waktu yang tersekat
di pasar, di jalan, di dada kecil itu
dengan senyum yang malu
sampai aku tak tahu, siapa aku
karena putih, hitam punya arti
di subuh yang beku
dan waktu berbunga
dalam petaka atau keajaiban yang kelabu
subuh menggantung di pasar Ciputat
dan putih yang tersesat
mengikuti hitam yang taat.
(2025)
–
antara kedua itu
kita berdua hanya melaju
menjaga cair, menjaga beku
dan terlepas, hilang, satu persatu.
waktu terkontaminasi istilah
ada dan tiada menganyam irama
duka dan bahagia.
walau kita tahu
banyak ragu yang membunuh
tapi harapan jua tak hapuskan itu.
ikatan adalah upaya
memecah gelap dan cahaya
walau benci dan cinta
adalah nisan harapan
entah apa, bagaimana dan kenapa
kita berdua hanya melaju
menjaga cair, menjaga beku
dan terlepas, hilang, satu persatu.
(2025)
–
jangan menambah bahaya
apa yang terlintas pada batas
hanya gugatan yang dirampas.
amuk adalah irama
dalam rumus matematika.
berikanlah tabir untuk api
maka nyawa senantiasa bernyanyi.
apa yang dikandung pada mendung
hanya tawa yang murung.
amuk adalah nada
dalam nurani malapetaka
sementara api enggan menyala
pada nyawa yang kecewa.
apa yang terlihat pada tabiat
hanya rintik yang diringkus khianat.
amuk adalah api
dalam neraka nurani
sementara tabir melipat wajahnya
pada janji purba untuk setia.
(2025)
–
simpang
kita tahu itu salah
tapi lainnya belum berguna
entah kenapa jadi lumrah
alirkan indah pada dunia
wanita, banyak hal percuma.
sedikitnya kita hanya pernah
sebentar payah
setidaknya berusaha.
berkubang di kebenaran
tapi tak kita dapatkan
waktu melalui udara
menghirup jatah kalah
pria, banyak hal percuma.
kita tahu itu salah
tapi mengapa menjumpainya.
sebanyak sejarah hanya rupa
sejalan pada makna
seharusnya berguna.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
