Amor Fati
Guru filsafatku mengutipnya
dengan gelas kopi masih panas.
Katanya: mencintai takdir
adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan.
Aku rasa dia belum pernah kehilangan
seseorang yang tak sempat menjelaskan
mengapa ia berhenti menyapa.
Dalam kamus latin,
amor datang sebelum arma.
Cinta lebih dulu daripada senjata.
Tapi sejarah tak membenarkannya.
Fati berasal dari fari—
berbicara, menyebut, mengucapkan.
Takdir, dengan kata lain,
adalah apa yang telah dikatakan sebelumnya.
Tapi bagaimana jika aku tak setuju
dengan ucapannya?
Di hari kau tak memilihku,
aku menuliskan frasa ini
di halaman belakang tiket kereta:
amor fati.
Seolah-olah dengan menuliskannya
aku bisa memaafkan—
bukan hanya kamu,
tapi juga waktu.
Nietzsche memuja kalimat ini.
Tapi bahkan dia pun kehilangan akal
pada akhir hidupnya.
Mungkin karena takdir
adalah cinta
yang tak membalas.
Aku terus mengulangnya—seperti mantra.
amor fati. amor fati. amor fati.
Tapi pengulangan
tak membuatnya benar.
Hanya lebih dalam.
Hari ini aku duduk di bawah pohon
yang tak kukenal.
Membaca kata yang tak kupahami.
Mengapa manusia terus berusaha mencintai
apa yang tak pernah memilih
mereka kembali?
–
Mercusuar
kau muncul
ketika gelombang menampar keras—
mencariku dalam kabut,
sebar sinarku mudah kau lihat
meski kau hafal
letak daratan lain.
kau sandarkan kapalmu
sebentar,
cukup untuk menata layar,
menjahit tali putus,
mengeringkan peta yang basah.
ketika langit mulai teduh,
kau angkat jangkar perlahan,
mengucap terima kasih pelan—
tanpa bertanya
apakah lentera di menaraku
pernah padam diterpa angin.
aku berdiri lagi di gelap berikutnya,
bersinar karena tugas—
bukan karena dipilih.
dan setiap kilatan cahaya
mengingatkanku:
aku berguna,
tapi tak pernah menjadi tujuan.
–
Tata Bahasa Kita
mereka bilang cinta adalah bahasa.
tapi bahasa mengecewakanku.
kau berdiri di depanku
seperti pertanyaan
yang tak tahu bagaimana harus kutanyakan—
tanpa merusak tata bahasa
dari kita.
setiap kali aku mencoba bilang
“aku mencintaimu,”
yang keluar justru:
“aku takut,”
atau
“tolong jangan pergi,”
atau yang lebih buruk:
diam.
apa sebutan untuk diam
yang dulunya berarti aman—
tapi kini rasanya tenggelam?
kau menunggu
agar aku menamai ini.
agar aku menyebutnya sebagaimana adanya.
tapi aku terlalu sibuk menjaga bentuknya—
dan dalam menjaga,
aku malah merusaknya.
cinta membutuhkan kefasihan
yang tak pernah kupelajari.
aku hanya tahu cara membawanya
seperti api:
yang tak bisa kubiarkan menyala,
tapi juga tak bisa kupadamkan.
jadi kini aku berjalan
dengan kata-kata
setengah terkubur di mulutku.
hal-hal yang seharusnya kukatakan padamu
sebelum jarak
menjadi kamus
yang tak bisa kita baca lagi.
–
Lukisan Kelabu di Hari Jumat
seseorang meninggalkan lukisan di lorong
tanpa bingkai
tanpa nama
hanya bidang kelabu
dengan satu garis miring
yang mungkin adalah jalan
atau pembuluh darah
atau awal dari kalimat
yang tak pernah dimaksudkan untuk selesai
petugas galeri berkata
“Judulnya Studi dalam Ketidakhadiran”
tentu saja
tak seorang pun pernah menamai apa pun
dengan masih tinggal di sini
jumat adalah hari
di mana aku mulai mengerti
bahwa bahkan warna
pun punya ulang tahun duka
kelabu bukanlah kekurangan warna
ia adalah perundingan
antara hitam dan putih
antara kepastian dan penolakan
seperti kau
sore itu
saat kau berkata
“aku tak bermaksud seperti itu”
tapi
apa yang sebenarnya kau maksud?
ibuku mengenakan kelabu
pada hari kami menguburkan bahasanya
itu warna dari
“jangan menangis di sini”
itu suara dari
“bagaimana aku bisa memeluk diam-mu
tanpa ia melukaiku kembali”
kadang lukisan itu
balik menatapku
seolah ia juga
lelah untuk terus ditafsirkan
aku berdiri di depannya
sampai lampu museum
berkedip
jumat hampir usai
duka
belum sepenuhnya
–
Manual Diam untuk Anak Perempuan
Bab Satu
Jangan bicara terlalu keras.
Suara perempuan yang nyaring dianggap mengganggu.
Mereka bilang: perempuan bijak tidak berdebat—
hanya mengerti.
Tapi yang tidak mereka bilang:
perempuan bijak sering kali
mati dalam diam.
Bab Dua
Kalau kau merasa tidak nyaman, tahan.
Kalau seseorang menyentuhmu
dan tubuhmu ingin mundur, tetap diam.
Karena jika kau bicara, mereka tidak benar-benar mendengar—
mereka hanya bertanya:
kenapa baru sekarang?
mereka akan menuduhmu berlebihan, atau haus perhatian.
Padahal sejak kecil, kita diajari pelajaran yang sama:
rasa tidak nyamanmu
bukan hal yang penting;
yang penting, jangan mempermalukan siapa pun.
Bab Tiga
Jangan menangis di tempat umum.
Itu membuat orang lain tidak nyaman.
Bukan karena mereka peduli,
tapi karena mereka tidak tahu cara
menghapus air mata
tanpa mengotori reputasi.
Bab Empat
Kalau kau terluka, pastikan lukamu tampak indah.
Jangan tampak putus asa.
Jangan tampak penuh dendam.
Jangan tampak seperti korban
yang terlalu paham membela diri.
Sebab dunia menyukai kisah pemulihan—
bukan pemberontakan.
Bab Lima
Jika kau menulis, jangan terlalu jujur.
Kata “vagina” masih dianggap vulgar.
Kata “ayah” dan “sakit” terlalu sensitif.
Kata “tidak ingin hidup”
bisa membuat naskahmu
ditolak dari beasiswa sastra.
Bab Enam
Jika kau ingin selamat, belajarlah jadi kecil.
Belajarlah meringkuk dalam percakapan.
Belajarlah tidak bertanya kenapa.
Belajarlah menyalahkan diri sendiri
lebih cepat dari siapa pun.
Bab Tujuh
Kalau kau mulai bersuara, bersiaplah menjadi simbol.
Bukan manusia.
Bukan anak perempuan.
Tapi bahan pelatihan SDM dan konten media sosial
dengan caption:
“Perempuan kuat yang berhasil melewati semuanya.”
Bab Terakhir
Jika kau bertanya kenapa manual ini ditulis,
jawabannya sederhana:
karena dunia lebih memilih anak perempuan
yang tahu cara diam
daripada yang tahu apa yang sedang terjadi—
dan berani mengatakannya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
