Persoalan rendahnya pencapaian akademik pendidikan Indonesia kembali santer terdengar setelah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD-SMP diluncurkan bulan Mei lalu. Melalui ragam laporan hasil asesmen pencapaian pendidikan, patut diakui bahwa pendidikan nasional masih menghadapi tantangan serius.
Di kalangan masyarakat umum pun muncul beragam respon. Ada yang menyalahkan Kurikulum Merdeka yang tidak secara tegas menuntut ujian terstandar yang menurunkan motivasi belajar siswa sehingga mempengaruhi hasil capaian belajar, kendati saat ini sudah ada TKA sebagai pengganti ujian nasional yang terstandar.
Namun, di tengah perdebatan tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana hasil TKA akan digunakan untuk memperbaiki pendidikan?
Baca juga:
Sesungguhnya Indonesia tidak kekurangan data pendidikan. Selama satu dekade terakhir pemerintah telah memiliki berbagai instrumen untuk memotret kondisi pendidikan, mulai dari PISA, Asesmen Nasional, hingga TKA. Yang masih relatif kurang adalah mekanisme yang mampu menerjemahkan data tersebut menjadi solusi pembelajaran yang terbukti efektif di ruang-ruang kelas.
Dalam upaya menangani penurunan pencapaian akademik pemerintah saat ini tengah gencar mengkampanyekan pembelajaran mendalam, tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dan kembali menggelorakan ujian terstandar (TKA) yang diselenggarakan secara nasional.
Siswa SMA/SMK pun kembali didorong untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA lebih awal. Pembelajaran pun akhirnya lebih difokuskan untuk mempersiapkan tes. Selain itu pemerintah juga menyelenggarakan program digitalisasi pendidikan dengan memberikan infrastruktur teknologi modern, seperti pemasangan Papan Interaktif Digital (PID/IFP) di ribuan sekolah, integrasi coding dan AI, serta pelatihan kompetensi guru.
Penelitian Desain Pendidikan
Namun, dari semua upaya-upaya itu ada satu hal yang mungkin belum dilakukan oleh pemerintah yakni terkait penelitian desain pendidikan (Educational Design Research) yang lebih menekankan pada tujuan jangka panjang untuk perbaikan pendidikan secara menyeluruh. Memang tidak dimungkiri ada gagasan positif dari Toni Toharudin selaku Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen untuk menjadikan hasil TKA sebagai bahan untuk perbaikan pendidikan. Namun secara lebih praktis belum ada langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan rencana program tersebut.
Mengapa penelitian desain pendidikan ini penting dan perlu digencarkan? Penelitian desain pendidikan melengkapi berbagai tradisi penelitian yang selama ini lebih banyak berfokus pada pemahaman dan evaluasi fenomena pendidikan, dengan memberikan perhatian khusus pada pengembangan dan penyempurnaan solusi pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung.
Menurut Brown (1992) dan Collins (1992) sebagaimana dikutip oleh Reeves (2006) dalam Design research from a technology perspective model penelitian desain menangani permasalahan yang kompleks dalam konteks nyata melalui kolaborasi dengan praktisi. Dengan demikian akan ada sinergi antara peneliti dengan praktisi. Dalam hal pembelajaran di sekolah, guru menjadi bagian terpenting yang perlu diajak untuk bersama-sama mengatasi problem pendidikan dengan menjadikannya sebagai subjek bukan sekadar objek kebijakan.
Penelitian desain pendidikan juga mengintegrasikan prinsip-prinsip desain yang telah diketahui maupun yang masih bersifat hipotesis, serta memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menghasilkan solusi yang masuk akal dan dapat diterapkan terhadap permasalahan kompleks tersebut. Sehingga pendekatan pembelajaran atau teknologi pendidikan yang menjadi bagian dari intervensi benar-benar berdasar pada prinsip-prinsip desain yang sudah kuat secara kajian teori bukan sebatas asumsi.
Penelitian desain pendidikan juga melakukan penyelidikan yang ketat dan reflektif untuk menguji serta menyempurnakan lingkungan pembelajaran yang inovatif, sekaligus merumuskan prinsip-prinsip desain baru. Dengan kata lain, penelitian desain pendidikan menjawab kelemahan penelitian pendidikan yang berfungsi sebatas mendeskripsikan, membandingkan, menjelaskan, dan mengevaluasi belum pada tahap bagaimana mengembangkan solusi atas permasalahan nyata dalam dunia pendidikan.
Berdasarkan kajian literatur sistematik, penelitian desain pendidikan mulai berkembang pada awal abad ke-21 dan dianggap sebagai metode penelitian praktis yang bisa menjembatani jurang antara penelitian dan praktik dalam pendidikan formal (Anderson dan Shattuck, 2012). Mereka menyimpulkan bahwa minat terhadap penelitian desain semakin meningkat dan memberikan bukti terbatas akan manfaat yang dijanjikan.
Dalam konteks Indonesia mungkin kita bisa memulai permasalahan masih rendahnya kemampuan numerasi siswa Indonesia sebagai langkah awal. Sebagai contoh jika hasil TKA menunjukkan bahwa kemampuan numerasi siswa SMP masih rendah, persoalannya tidak berhenti pada publikasi angka-angka tersebut. Temuan itu perlu diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih produktif dan dijawab melalui penelitian desain pendidikan. Pendekatan pembelajaran seperti apa yang paling efektif meningkatkan numerasi? Bagaimana strategi tersebut dapat diterapkan dalam kondisi kelas yang beragam? Teknologi apa yang benar-benar membantu proses pembelajaran? Bagaimana guru dapat mengadaptasinya sesuai konteks sekolah masing-masing?
Baca juga:
Oleh karena itu, perlu ada penelitian desain pendidikan yang berupaya merumuskan intervensi berdasarkan permasalahan nyata dan kompleks tersebut. Beberapa peneliti Indonesia sudah memulai meneliti terkait bagaimana meningkatakan kemampuan literasi dan numerasi siswa meskipun masih sebatas kajian literatur (Andriani dkk, 2025; Sutrimo, 2025). Sehingga perlu adanya penelitian yang benar-benar menggunakan desain penelitian pendidikan untuk menjawab poblem nyata pendidikan di Indonesia.
Butuh langkah-langkah konkretnya. Sebagai rekomendasi mungkin langkah konkretnya adalah dengan memberikan hibah penelitian bagi para dosen di bawah Kemdiktisaintek dan Kemenag yang menaungi prodi pendidikan keguruan untuk terlibat dalam penelitian desain pendidikan untuk mendesain intervensi yang mampu menjawab permasalahan pendidikan yang kompleks.
Luaran hasil penelitian desain pendidikan tidak sebatas artikel terpublikasi tetapi prinsip-prinsip desain yang bisa diadaptasi untuk tujuan memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia secara lebih luas. Dengan itu, hasil penelitian pun akan semakin berdampak. Hal ini pun sejalan dengan moto kementerian pendidikan tinggi sain dan teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menjadikan Kampus Berdampak.
Dengan melakukan ikhtiar itu reformasi pendidikan akan menemui jalan terangnya. Hal ini mengamini apa yang dinyatakan oleh pakar pendidikan Kieran Egan (2002): apabila para guru dan dosen memberikan perhatian terhadap pengetahuan baru yang dihasilkan oleh penelitian mengenai proses belajar dan perkembangan peserta didik, serta menindaklanjuti implikasi temuan tersebut dalam pengajaran dan pengembangan kurikulum, maka transformasi besar dalam pendidikan dapat terwujud.
Akhirnya, jika TKA hanya menghasilkan perdebatan, yang berubah hanyalah narasi publik. Namun jika hasilnya digunakan sebagai dasar penelitian dan pengembangan solusi pembelajaran yang melibatkan guru, sekolah, dan peneliti, maka angka-angka tersebut dapat menjadi pijakan bagi reformasi pendidikan yang sesungguhnya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
