Rinai Petaka di Bumi Sirah: Catatan dari Malam Bencana

faruq anrusfi

3 min read

Tak biasanya gawaiku berdering di jam selarut ini. Firasat buruk langsung menyergap, tak ada kabar baik yang mengetuk pintu menjelang subuh. Benar saja, saat telepon kuangkat tepat pukul dua dini hari, suara di seberang sana bergetar hebat, disela riuh suara hujan yang menderu liar.

“Kosan Dinda terendam banjir, barang dan seluruh pakaian basah, air sudah setinggi pinggang.”

Darahku berdesir. Tak terbayangkan ketakutan macam apa yang tengah mengepung saudara perempuanku di tengah kepungan air bah itu. Tanpa berpikir panjang, aku lekas menerjang badai hujan. Logika soal keselamatan diri menguap seketika; isi kepalaku hanya satu—bagaimana aku bisa sampai ke sana dan menyelamatkannya.

Dinda tinggal di indekos kawasan Pasar Baru, area padat tempat banyak mahasiswa bermukim. Lokasinya teramat dekat dengan Jembatan Bukik Nago di Pauh. Setibanya di sana, sisa-sisa peradaban seolah lenyap tertelan bumi. Jembatan itu hancur lebur, tak kuasa menahan hantaman luapan air bah dan gelondongan kayu yang menyerbu bersamaan dari arah hulu. Seluruh akses jalan putus total terendam banjir. Sinyal gawai mati, listrik padam menyisakan gelap yang absolut, dan tak ada tanda-tanda tim penyelamat yang lekas datang.

Baca juga:

Keriuhan diisi oleh kepanikan kolektif, warga berlarian kalang kabut menggotong sisa barang bawaannya. Firasatku, mereka tak sempat berpikir panjang untuk menyelamatkan harta benda. Nyawa adalah yang terpenting malam itu. Langkahku tersendat berkali-kali melawan arus. Hujan rintik tak henti menghujam bak jarum. Sayup-sayup kulihat satu-dua orang menangis tersedu melangkah gontai, yang lain tampak menggotong bayi erat-erat di dadanya, mencoba bertahan dari arus yang entah bagaimana bisa menghanyutkan mereka.

Sesampainya di indekos itu, dengan sisa tenaga, aku menarik adik perempuanku. Entah dari mana datangnya, langkahku mendadak gesit, menggendongnya menjauh dari pusaran air yang kian membesar. Malam itu, bayangan buruk terus berputar di kepalaku. Suara tangisan, rasa cemas, dan ketakutan melebur menjadi satu di sekelumit nuansa malam yang dingin.

Ketika napas kami akhirnya mereda di tempat yang lebih aman dan maut urung menyapa, sebuah pertanyaan besar mulai menggedor isi kepalaku,

bagaimana semua ini bisa terjadi?

Sebenarnya, petunjuk itu sudah mulai ditenun oleh alam sejak beberapa hari sebelumnya. Ingatanku mundur pada malam ketika rentetan petaka ini bermula. Saat itu, jam analog penyot persegi menunjuk ke angka satu dini hari. Rinai jatuh menampar bumi sirah setelah sempat terhenti sesaat. Tak biasanya langit memperlakukan Kota Padang seperti ini mengguyur dan menghukum selama tiga hari berturut-turut.

Selasa, 25 November 2026. Di hari pertama, denyut kota sebenarnya masih mencoba bertahan. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, menganggap cuaca ini hanya anomali lumrah. Anak-anak masih riang keluyuran, bermain kapal-kapalan atau berpacu mengayuh sepeda di tengah guyuran hujan. Namun, di sudut lain, ada ibu-ibu yang hatinya mulai waswas menatap suhu tubuh anak mereka yang tiba-tiba meninggi. Perlahan tapi pasti, aktivitas luar ruang menyusut drastis. Warga dalam balutan mantel hujan menepi, berteduh dengan sekelumit harap agar langit segera mereda.

Memasuki hari ketiga, harap cemas warga Kota Padang memuncak. Hujan tak kunjung reda, kini diiringi orkestra angin ribut yang mengerikan. Linimasa media sosial, portal berita, hingga media alternatif sibuk membunyikan alarm yang sama. Netizen mendadak riuh membicarakan apa yang disebut sebagai “bencana hidrometeorologi”. Fokus masyarakat terpecah sepenuhnya. Dimulai dari kabar longsor, disusul air bah di kawasan padat penduduk, hingga puncaknya: berita galodo (banjir) yang menerjang berbagai titik di Sumatera Barat.

Seketika, kecemasan berubah menjadi teror. Setiap orang bertanya-tanya, apakah petaka yang sama akan menyapu rumah mereka? Saat itu, jawabannya hanya ketidaktahuan yang mencekam. Isu mulai liar menyebar: menyalahkan perubahan iklim, menunjuk jari pada pemimpin korup yang abai pada infrastruktur mitigasi, hingga menyoroti tambang-tambang tak berizin di sempadan sungai. Belum lagi pembabatan masif hutan resapan air yang beralih rupa menjadi perkebunan monokultur atau permukiman. Segala akar kekacauan ini bermuara pada satu kesimpulan kejam: ekosida.

Baca juga:

Bencana ini tak jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah buah dari serangkaian gundukan masalah yang sengaja dipelihara. Menyebut galodo dan banjir bandang semata-mata sebagai takdir alam atau kemarahan cuaca adalah sebuah kebohongan yang terstruktur. Hujan yang turun tiga hari berturut-turut hanyalah pemantik, sementara bom waktunya telah lama dirakit oleh keserakahan manusia. Air bah tidak akan membawa gelondongan kayu sebesar pelukan orang dewasa jika di daerah hulu sana pepohonan tidak lebih dulu ditebang dan dijarah dengan brutal.

Lihatlah bagaimana urat-urat nadi bumi sirah ini dieksploitasi. Praktik industri ekstraktif, baik yang bersembunyi di balik tameng izin resmi maupun yang terang-terangan ilegal, menggerogoti kawasan daerah aliran sungai tanpa ampun. Tanah yang semestinya menjadi pasak penahan air justru dikeruk habis-habisan. Sungai-sungai kehilangan ruang untuk bernapas, alirannya dipaksa berubah, dibendung, dan dijejali material sisa yang perlahan mencekik daya dukung ekosistem kita sendiri.

Di kawasan yang lebih tinggi, hutan hujan tropis yang selama berabad-abad menjadi spons raksasa pelindung kehidupan, perlahan tapi pasti digantikan oleh hamparan hijau yang menipu. Akar-akar pepohonan besar yang dulu mencengkeram tanah dengan kuat kini telah tercabut, menyisakan lanskap rentan yang siap runtuh kapan saja. Ketika langit menumpahkan tangisnya, tanah tak lagi punya daya untuk menahan. Air langsung meluncur bebas dari hulu, membawa serta lumpur dan bebatuan, menyapu apa saja yang berani berdiri di jalurnya.

Tragedi ini juga lahir dari watak pembangunan yang kerap meminggirkan suara ruang hidup masyarakat. Proyek-proyek berskala besar, perluasan lahan, hingga alih fungsi kawasan sering kali dipaksakan turun dari atas meja birokrasi tanpa pernah benar-benar menjejak pada analisis kelayakan ekologis. Ruang hidup warga dan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam disingkirkan begitu saja demi menggelar karpet merah untuk investasi yang rakus.

Lebih menyedihkannya lagi, semua pengrusakan ini sering kali dilegitimasi oleh selembar kertas bernama perizinan. Kebijakan yang semestinya menjadi perisai bagi alam dan kaum rentan, justru kerap menjadi instrumen untuk memuluskan perampasan ruang hidup ini. Ada relasi kuasa yang teramat timpang; di mana para pemegang modal dan elite kebijakan berpesta di atas angka-angka keuntungan, sementara masyarakat dipaksa melunasi tagihannya dengan nyawa, harta, dan trauma yang panjang.

Ini bukan sekadar rentetan kelalaian administratif. Ini adalah sebuah kejahatan lingkungan yang masif sebuah pembunuhan ruang hidup yang dibiarkan menumpuk dari tahun ke tahun. Cuaca ekstrem hanyalah kurir yang mengantarkan pesan bahwa bentang alam yang kita injak sudah terlampau lelah. Menatap sisa reruntuhan dan pekatnya lumpur di pagi harinya, aku menyadari satu hal yang paling perih: beban kerakusan struktural ini pada akhirnya selalu jatuh menimpa mereka yang tak berdaya, menghancurkan ruang hidup kita, merampas rasa aman, dan memaksa kita bertaruh nyawa di tengah kelamnya malam. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

faruq anrusfi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email