Luka, Kesunyian dan Manusia di Makassar International Writers Festival

Maryamasyana Digiovanni Sambara

3 min read

Ada kesunyian yang tidak bisa saya jelaskan dari mana datangnya.

Begitulah isi kepala saya saat menutup Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama. Buku ini menjadi salah satu yang didiskusikan di Makassar International Writers Festival 2026 yang diselenggarakan di Benteng Rotterdam, Kota Makassar, pada 14-17 Mei lalu.

Menurut saya, ada buku yang selesai dibaca lalu hilang begitu saja dari ingatan. Ada pula buku yang tetap tinggal bahkan setelah halaman terakhirnya ditutup. Buku ini adalah jenis yang kedua. Entah bagaimana caranya, ia menyisakan rasa sunyi yang menetap di kepala saya. Ia tinggal dalam bentuk rasa tidak nyaman, hening panjang, dan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergerak bahkan setelah saya berhenti membaca.

Pengalaman membaca buku ini terasa sangat “sunyi”. Begitulah cara Sasti membangun perasaan pembaca dari kumpulan cerita yang ada di dalam bukunya. Cerita-ceritanya banyak menggunakan alegori dan sarat makna. Hebatnya, ia memperkenalkan setiap isu dalam buku ini dengan membawa pembaca memasuki lorong yang penuh gema luka manusia. Rasanya setiap cerpen seperti memiliki ruang gelapnya sendiri dan pembaca dipaksa masuk dengan benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bersiap.

Di dalamnya, ada tubuh perempuan yang kehilangan hak atas dirinya sendiri, ketimpangan relasi, trauma yang diwariskan, hingga kesepian yang tumbuh perlahan di dalam kepala seseorang. Semua itu ditulisnya dengan tenang, tetapi justru karena ketenangan itulah rasa sakitnya terasa semakin kuat.

Yang menarik, Sasti Gotama tidak selalu menggunakan cara bercerita yang realistis. Dalam beberapa cerpen, ia memakai alegori, simbol, bahkan sudut pandang yang tidak biasa. Kadang saya merasa seperti sedang membaca mimpi buruk yang puitis. Ada bagian yang absurd, surealis, bahkan membingungkan. Namun justru di situlah letak keunikannya. Buku ini tidak memberikan kenyamanan penuh kepada pembaca, melainkan mengajak pembaca ikut tenggelam dalam emosi tokoh-tokohnya.

Saya merasa buku ini seperti berbicara tentang luka-luka yang sering kali tidak dianggap penting oleh masyarakat. Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah cerpen Abrakadabra. Dalam cerita itu, Sasti Gotama seperti menggali kembali ingatan kolektif tentang bagaimana banyak pekerja yang menggantungkan hidup di jalanan maupun panggung hiburan harus terseok-seok menghadapi pandemi. Ketidakpastian ekonomi, rasa takut, dan usaha manusia bertahan hidup terasa begitu nyata. Dari bagian cerita inilah saya merasa bahwa buku ini memang sarat makna dan layak mendapatkan apresiasi sebagaimana penghargaan yang telah diterimanya.

Ada pula beberapa cerpen yang justru semakin terasa menyakitkan beberapa jam setelah selesai dibaca. Rasanya seperti nyeri yang datang terlambat setelah tubuh menyadari ada sesuatu yang terluka. Dan menurut saya, di situlah salah satu kekuatan terbesar tulisannya. Ia tidak memaksa pembaca menangis saat membaca, tetapi ia membuat perasaan itu menetap lama setelah ceritanya selesai.

Hal lain yang juga sangat saya sukai adalah pembawaan ceritanya yang tidak selalu rapi dan nyaman. Sedari awal, rasanya buku ini memang tidak berusaha menyenangkan pembaca. Tidak semua ceritanya bergerak dengan alur yang mudah ditebak. Beberapa kali saya harus membolak-balik halaman untuk memastikan bahwa saya memahami alegorinya dengan tepat. Namun justru itu yang membuat pengalaman membaca buku ini terasa hidup. Buku ini selalu memberi ruang bagi pembaca untuk ikut berpikir, menafsirkan, dan bahkan merasa tersesat bersama cerita-ceritanya.

Bagian penting lainnya adalah ketika saya mulai menemukan bagaimana buku ini berbicara tentang perempuan, tubuh, trauma kolektif, dan budaya patriarki. Patriarki dalam cerpen-cerpen di buku ini tidak selalu hadir dalam bentuk laki-laki kasar atau tokoh antagonis yang jelas. Misalnya dalam cerpen Waka Waka Waki Waki Sum Sum, tokoh Donburi si jerapah pemimpin sekte melakukan kekerasan seksual karena memiliki relasi kuasa terhadap para pengikutnya. Cerita ini terasa begitu relevan dengan realitas sosial hari ini, ketika banyak kasus kekerasan terjadi karena adanya ketimpangan kuasa dan budaya diam yang dipelihara masyarakat.

Penindasan terhadap perempuan dalam buku ini digambarkan melalui norma sosial, rasa takut yang diwariskan, dan kebiasaan masyarakat yang membuat perempuan dipaksa diam demi menjaga “martabat”. Oleh karena isu-isu itu terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, buku ini akhirnya menjadi sangat manusiawi.

Bahasa yang digunakan Sasti Gotama menurut saya juga menjadi salah satu kekuatan terbesar buku ini. Kalimat-kalimatnya puitis, tetapi tidak berlebihan. Ia mampu menulis sesuatu yang sangat menyakitkan dengan cara yang tenang. Namun ketenangan itulah yang membuat emosinya terasa semakin tajam. Ada banyak bagian yang membuat saya harus berhenti sejenak hanya untuk mencerna satu kalimat.

Selain itu, buku ini juga terasa sangat relevan dengan kondisi sosial hari ini. Banyak isu yang diangkat masih sangat dekat dengan realitas masyarakat: kekerasan terhadap perempuan, tekanan sosial, ketimpangan relasi, trauma psikologis, hingga bagaimana manusia sering kali kesulitan memahami penderitaan orang lain. Buku ini seperti mengingatkan bahwa di balik kehidupan sehari-hari yang terlihat normal, banyak orang sebenarnya sedang berjuang dengan luka yang tidak pernah mereka perlihatkan.

Namun demikian, buku ini memang bukan bacaan yang mudah untuk semua orang. Beberapa cerita memiliki struktur yang kompleks dan ritme yang lambat. Ada bagian yang terasa abu-abu dan melelahkan secara emosional. Pembaca yang terbiasa dengan alur cepat atau cerita ringan mungkin akan merasa kesulitan mengikuti beberapa cerpennya. Tetapi bagi saya, justru kompleksitas itu yang membuat buku ini terasa hidup dan berbeda dari banyak kumpulan cerpen lain.

Membaca Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu membuat saya sadar bahwa sastra tidak selalu harus memberi jawaban atau akhir yang bahagia. Kadang sastra hanya perlu jujur terhadap kenyataan manusia. Dan kenyataan itu ternyata sering kali penuh luka, kehilangan, serta ketidakpastian.

Menariknya, pengalaman membaca buku ini terasa semakin dekat dengan konteks sastra Indonesia hari ini. Sastra menunjukkan bahwa ia bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk membicarakan manusia dan luka-luka sosial yang sering kali disembunyikan terlalu lama.

Pada akhirnya, buku ini meninggalkan kesan yang sangat kuat bagi saya. Ia bukan hanya kumpulan cerita, melainkan kumpulan pengalaman emosional yang membuat pembaca merenung tentang manusia dan dunia di sekitarnya. Setelah selesai membaca, saya merasa seperti baru berjalan melewati banyak kehidupan sekaligus kehidupan orang-orang yang terluka, kesepian, marah, bertahan, dan tetap mencoba hidup meskipun dunia tidak selalu ramah kepada mereka.

Buku ini terasa begitu membekas sebab ia mengingatkan bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang tidak selalu terlihat di permukaan. Cerita personal menjadi perbincangan reflektif di festival literasi MIWF (Makassar International Writers Festival). Program Jejaring Komunitas, dalam diskusi “Cerita dari Rute Tak Terlihat: Pelaut Perempuan dan Lapisan Kerentanan“, kita akan mendengar cerita dari perempuan yang memahami laut melalui ruang kelas dan profesinya sebagai pelaut di sektor maritim.

Kemudian, Focus Group Discussion (FGD) “Dari Hulu ke Hilir: Cerita Perempuan Adat Penjaga Menara Air“, dilatarbelakangi oleh isu krisis iklim yang dibicarakan melalui angka, grafik, dan kebijakan. Akan tetapi, luput menguak salah satu yang paling terdampak, yaitu perempuan.

Sejak 2019, MIWF berkomitmen untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan selama berfestival. Komitmen ini dibentuk melalui membawa botol minum, penggunaan wadah makanan dan minuman daur ulang, dan pemilahan sampah organik dan anorganik. Selain itu, MIWF berkomitmen inklusivitas dengan program berprinsip no all male panel. MIWF 2026 dilaksanakan pada 14—17 Mei di Benteng Rotterdam, Kota Makassar.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Maryamasyana Digiovanni Sambara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email