Anak kita masih mencarimu sebelum tidur. Mama, mana Mama? Sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang pas, dan dia pun rasanya tak pernah puas. Seperti pertanyaannya yang terus berulang, aku selalu menjawab hal yang sama: Kalau mau ketemu Mama, Lufi harus tidur. Tidur sama Ayah, nanti kita ketemu Mama dalam mimpi. Dia akan merengek dan minta digendong. Aku akan menurutinya dan menyanyikan tembang yang biasa kamu lantunkan dengan nada “Cicak-Cicak di Dinding”:
Lufi anakku sayang,
diam-diam membesar,
sekarang sudah pintar … HAP!
lalu disayang.
Kamu tak pernah pandai menyanyi, atau mengarang lagu, tapi aku mengingat setiap gubahanmu yang payah itu, dan anak kita lebih mengingatnya lagi. Dia selalu antusias menirukannya, meski kosa katanya masih sangat terbatas. Lalu dia akan mulai meraba-raba mukaku, dari kening menuju bibir, hanya untuk melepaskannya kembali. Aku tahu apa yang salah. Lekukan bibirku tidak sama dengan lekukan bibirmu, dan itu tidak bisa diotak-atik lagi.
Hal pertama yang kulakukan setelah kematianmu adalah mencukur kumisku. Kumis yang katamu sering menusuk pipimu. Meski tanpanya wajahku akan kelihatan cukup aneh seperti saat melepas kacamata, tapi awalnya kukira itu bisa mengelabui anak kita. Karena dia bisa tidur nyenyak—dan hanya bisa tidur nyenyak—sambil menggenggami bibirmu. Namun, siasatku terbongkar malam itu juga. Anak kita terlalu cepat besar, dan terlalu cepat pintar. Dia merengek-rengek memanggilmu, Mama, mana Mama? Ayah, mana Mama? Dia baru bisa terpejam setelah diayun-ayun nyaris sejam, dan aku harus menaruhnya teramat perlahan seperti menyusun telur dalam keranjang belanja, lalu mengusap-usap pahanya sampai kaitan tangannya benar-benar lepas dari leherku.
Kamu meninggalkan kami berdua terlalu cepat, hampir tanpa pemberitahuan. Padahal mimpi-mimpimu untuk anak kita teramat panjang. Kamu ingin berhenti bekerja dan sepenuhnya membesarkan anak kita di rumah; memasukkannya ke sekolah internasional yang bayaran semesternya lebih banyak dari setahun gajiku; mendaftarkannya les musik dan olahraga; memasak menu makanan sehat untuk bekalnya; dan memastikannya menjadi pria baik-baik hingga menikahi wanita yang sama baiknya. Namun, jangankan menunggunya menikah, kamu buru-buru berpulang sebelum mengajukan pengunduran diri dari kantormu, saat anak kita masih dititipkan di daycare setengah hari dan belum cukup umur untuk masuk sekolah dasar. Memiliki Lufi adalah pengalaman pertama kita sebagai orang tua, dan meskipun aku masih canggung, keadaannya terasa lebih mudah karena kupikir kita akan mengatasinya bersama. Dan lihatlah sekarang, aku kebingungan sendiri.
Aku sangat tahu apa kelebihanku di rumah. Aku lebih pandai menyanyi dan lebih jago memasak dibandingkan kamu. Memasak mungkin punya peran vital, tetapi menyanyi tidak membantu sama sekali dalam membesarkan anak manusia. Beda dengan rasa makanan, seorang bocah tidak mengerti nada, apalagi keindahan, karena itu menurutku kita tidak bisa percaya selera hiburan anak-anak. Sebaliknya, seorang penyanyi dan pemusik yang baik tidak menjamin dapat membesarkan anak dengan baik. Aku pun tahu seorang musikus legendaris yang membesarkan anaknya menjadi seorang pembunuh, setelah sebelumnya berselingkuh dengan sahabat karib istrinya. Akhirnya, dari kedua kelebihan yang aku miliki di rumah, hanya bakat memasak yang bisa kubanggakan. Sisanya aku banyak bergantung padamu, termasuk bagaimana caramu menidurkan anak kita. Kamu berbakat dalam mengarang cerita, dan lebih daripada itu, kamu piawai mendongeng. Sebab, percuma saja cerita yang bagus tanpa ada pencerita yang andal. Kamu memenuhi keduanya.
Setelah kepergianmu, aku belajar mendongeng sambil mengingat-ingat lagi bagaimana caramu bercerita. Pertama, lampu kamar dimatikan dan diganti dengan lampu tidur di atas meja. Disertai cahaya kuning temaram yang berpendar dari pojok kamar, kamu merebahkan anak kita, tidur di sebelahnya, lalu menunjuk langit-langit … Lihat Lufi … katamu … apa itu? Dan anak kita akan mengikuti arah jarimu yang bergerak ke sana ke mari, berusaha menebak-nebak apa yang ditunjuk ibunya. Dia akan mulai menyebut berbagai hal yang disukainya: dinosaurus, ankylosaurus, gajah, little star, bus, fire truck, mobil polisi, meong, gukguk, Daniel tiger, roket, astronot … setiap tebakannya mula-mula terus kamu jawab: Bukan! Ayo coba lagi. Bukan. Hampir, ayo, apa itu? Dan saat dia mulai berpikir agak lama … kamu akan menyebutkan satu hal yang disukainya dan belum dia sebutkan (kamu selalu hafal apa saja yang anak kita sukai). Anak kita kemudian akan meniru jawaban terakhirmu, sambil bertanya memastikan: Iya Mama? Betul, itu, Mama? Waah … lantas jarimu turun ke bawah dan menerjang lipatan lehernya hingga sela-sela ketiak sambil berseru: Betul! Anak kita akan tertawa minta ampun: Geli Mama, geli … Dan pada saat itu, kamu akan mulai merangkai cerita … Lufi pernah dengar kisah Baa Baa Black Sheep? Dia akan menjawab belum, dan keajaiban pun dimulai.
Aku selalu mencobanya kala dia terus merengek mencarimu dan tidak mempan digendong. Percobaanku selalu gagal. Aku tahu masalahnya bukan sekedar pada caraku mendongeng, tapi muatan ceritaku yang tidak tahu arahnya ke mana, karena aku sendiri pun bingung bagaimana menjaga cerita agar terus hidup hingga kesadaran anak kita sayup-sayup ke alam mimpi. Ceritaku selalu putus di tengah jalan, dan aku kelimpungan bagaimana merajutnya kembali. Untungnya, selain meninggalkan kenangan, kamu juga tidak ikut membawa buku-bukumu di lemari ke dalam kubur. Tumpukan buku yang kamu kumpulkan sejak masa kuliah kini menjadi harta karun setara One Piece. Aku ingin menamatkan semuanya, dan aku akan membacanya pelan-pelan, karena di antara lembaran buku-buku itu aku menemukanmu—selain di antara tangis dan tawa anak kita. Dan dari buku-buku peninggalanmu, aku akan belajar mendongeng lebih baik lagi.
Sejak aku mengenalmu, kamu selalu suka membaca buku anak-anak. Kamu punya koleksi lengkap Lima Sekawan-nya Enid Blyton dan beberapa serinya yang lain. Karya-karya Djokolelono tampak lusuh karena terlalu sering dibolak-balik. Kamu bahkan mengoleksi buku Pangeran Kecil dari berbagai bahasa—yang setelah kubaca rupanya lebih cocok untuk usia dewasa ketimbang anak-anak. Kamu membeli cetakan baru seri Mata oleh Okky Madasari karena cetakan lamanya dimakan rayap. Dan tiga buku Na Willa masih tampak baru di pojokan rak. Andaikan kamu hidup lebih lama, mungkin kita bisa menonton film Na Willa yang baru-baru ini ditayangkan di bioskop bertiga. Kamu juga sering mengumpulkan buku-buku cerita rakyat—cerita rakyat Jepang, cerita rakyat Cina, cerita rakyat Asia Tenggara, sampai buku Hikajat dan Dongeng Djawa Purba seharga Rp350 ribu! Yang membuatku sakit hati adalah mengetahui buku tipis itu ada beredar di internet secara cuma-cuma.
Aku membaca semuanya. Aku mengabdikan diri untuk membaca cerita-cerita anak sepertimu. Sebab mungkin itulah pula yang membuatmu mahir mendongeng dan berkali-kali mengantarkan anak kita ke alam mimpi dengan mulus. Buku-buku itu sangat membantu, setidaknya membuatku tidak kehabisan cerita lagi. Dan untuk mengobati kerinduan anak kita kepadamu, aku mengganti tokoh-tokohnya denganmu. Dalam kisah Hanasaka Jijii ‘Kakek Pemekar Bunga’, pasangan kakek-nenek yang kehilangan anjing putih kecilnya karena ulah tetangga pendengki kuganti dengan tokoh aku dan kamu. Sementara nama anjingnya kuganti dengan nama Lufi. Anak kita senang-senang saja meski dipanggil anjing, bahkan tampak antusias menirukan bunyi guk-guk. Karena kamu menandakannya di buku bahwa itu salah satu kisah favoritmu, itu pun segera menjadi kisah kesukaanku, dan sepertinya anak kita juga tidak pernah bosan mendengarnya.
Meski aku merasa dongengku semakin baik dari malam ke malam, tapi anak kita tidak berhenti mencarimu. Aku mesti bercerita cukup larut hingga dia terlelap, dan tangannya tak lagi bermain-main dengan bibir orang lain. Sepertinya bibirku terlalu kering dan kasar. Namun, aku tak pernah memanjangkan kumisku lagi, jaga-jaga kalau suatu hari dia memutuskan untuk merelakan bibir mungilmu dan beralih ke bibirku—meskipun malam itu tak kunjung datang.
Setelah beberapa lama sejak kepulanganmu, aku baru berani membawa anak kita bermain ke pusaramu lagi. Aku sengaja meletakkan bingkai foto berisi potret wajahmu di depan nisan, supaya anak kita segera mengenali di mana ibunya, karena dia belum bisa mengeja namamu di batu. Aku membiarkannya berjalan menyisir jalan-jalan sempit, memegangi sebelah tangannya agar tidak berlarian menginjak-injak makam, dan saat melihat wajahmu, dia lekas berlari melepaskan genggamanku. Mama, Mama! Tangannya menggapai fotomu. Menunjuk-nunjuk senyumanmu. Memamerkan ibunya yang cantik kepadaku. Ayah, lihat, ini Mama, Mama. Ketemu! Kemudian dia berguling memeluk fotomu beserta gundukan tanah yang belum sempat kutaburi kembang. Tak usah bertanya apa yang kulakukan saat itu. Tentu saja aku menangis.
Aku menggendong anak kita pulang dari makam, dan dia tertidur setengah perjalanan ke rumah. Kamu pun tahu, dia selalu tidur nyenyak di atas kendaraan, dan tak pernah mudah terbangun saat ditaruh di atas kasur. Dia belum berubah. Sepasang tangannya masih dia rogohkan ke dalam celana menggaruk-garuk selangkangan. Matanya setengah terbuka. Hitam matanya bergulir kanan-kiri. Aku meninggalkannya ke tempat salat, bukan untuk berdoa, melainkan mengenangmu di celah-celah barisan buku yang kamu jajar rapi di sana. Ada sebagian paket buku yang baru datang setelah kamu pergi. Aku membiarkannya tergeletak di atas meja. Sebagian bungkusnya sudah disobek-sobek Lufi saat kebosanan bermain. Dan hari itu, sepulangnya dari makammu, aku membuka sebungkus paket buku paling atas. Ada sehelai kartu ucapan selamat ulang tahun untukku. Rupanya itu kado ulang tahun yang tak sempat kamu berikan. Ulang tahunku pun sudah lewat hampir dua bulan. Di balik kartu ucapan, sebuah novel karangan Yu Hua menyapaku: To Live. Ternyata itu buku yang menyenangkan, seorang anak manja yang bikin bangkrut usaha turun-temurun keluarganya dan kehilangan segala yang dia punya: ayah, ibu, saudara, anak, istri, menantu, hingga cucu. Ah, bahkan setelah mati, kamu terus mendongengkanku dari dalam kubur. Sambil membuka-buka halamannya, aku menetesi hampir separuh buku dengan ingus dan air mata, kemudian bertanya-tanya di ujung: Bagaimana aku harus hidup setelah semua ini?
(Karawang, 20 April 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
