Kamarku — Menghadap Taman
kamarku menghadap taman
pagi hari cahaya masuk
lebih dulu daripada orang rumah
ibuku bilang itu baik
tanaman perlu dilihat
agar tak tumbuh sembarangan
di dinding ada poster perempuan
dengan perut rata
kutempel miring
supaya setiap bangun tidur
ia tampak seperti mau jatuh
ranjang tak pernah kupindah jauh
hanya kugeser sejengkal
waktu seprai terlalu rapi
untuk tubuh yang gelisah
jika aku menangis
jendela tetap kubiarkan terbuka
siapa tahu bau tanah basah
lebih dulu mengering
daripada suaraku
–
Seorang Perempuan Menarik Bayang
seorang perempuan
menarik bayang
dari jubah nenek yang lusuh
dan luka-luka lama
yang tak bisa disembuhkan
oleh senyum ibu
perempuan itu menimbang waktu
dari deru hujan
yang tak pernah ditunggu
ayah menutup pintu
dengan suara serendah debu
perempuan menakar hidup
dari sisa-sisa janji yang gugur
trauma melompat
dari tubuh ke tubuh
menarik namanya
di atas dunia
yang tak menyediakan tanah
untuk pijakan pertama
–
Pulang Bisa Jadi Bentuk Takdir
setiap aku pulang dari kota lain
kakakku menatapku
dengan senyum yang tertahan
di ujungnya
aku turun dari bus
membawa koper kecil
ruang tamu sudah lebih dulu menungguku
dengan sisa-sisa
yang tak pernah berangkat
kata selamat datang
melintas, lalu terjatuh
di sela pintu dan lantai
pintu tetap terbuka
tapi tidak benar-benar memberi jalan
sementara aku masih berdiri
di antara datang
dan tiba
–
Timeline
semua orang berteriak
dengan huruf kapital
kebenaran dipotong
menjadi ukuran
yang muat di saku
kami membagikan ketakutan
lebih cepat
daripada membagikan roti
dan setiap hari
aku merasa sedikit lebih kecil
di antara
opini yang tak habis
–
Manual Menjadi Realistis
Selamat datang
di kelas lanjutan bernama Realitas
di sini kami belajar
bahwa janji hanyalah konsep awal
yang fleksibel seperti kertas basah
bahwa keberpihakan adalah barang musiman
bahwa sejarah bisa diedit
selama grafik ekonomi tetap naik
langkah pertama:
ganti kata “solidaritas”
dengan “kepentingan strategis”
dan simpan solidaritas di rak berdebu
langkah kedua:
sebut kritik
sebagai ketidakdewasaan
dan lihat senyum ironis di cermin
langkah ketiga:
tersenyumlah di depan kamera
katakan: ini demi bangsa
rasakan setiap gerakan sebagai beban nyata
jika nurani terasa berat
ulang mantra:
politik tidak sesederhana itu
rasakan setiap idealisme
menjadi arsip di lemari masa lalu
*****
Editor: Moch Aldy MA
