Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Teka-Teki Silang dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

10 Januari

Tanggal ini
bangun lebih pagi dari matahari
lalu berdiri di depan pintu
memanggil ayahmu
seperti anak kecil yang salah rumah.

10 Januari
tidak tahu harus ke mana
setelah kau tiada,
maka ia berkeliling
dari jam ke jam,
mengetuk pergelangan tangan kami.

Di kalender,
ia hanya angka.
Tapi di dapur,
ia menjadi bau kopi
yang tidak pernah jadi.

Hari ini
bahkan waktu pun bingung:
haruskah ia merayakan
atau berkabung?

Akhirnya
ia memilih diam
dan duduk di kursimu.

1958

1958 meledak
di dalam kalender
dan serpihannya
menjadi wajah ayah.

Angka-angka itu
berjalan tanpa urutan,
memanggil kami
dengan suara yang sama
dengan suara ayah
saat menyebut nama kami.

1958 adalah mesin
yang terus memproduksi
satu lelaki
lalu menghancurkannya lagi
agar kami tak pernah selesai kehilangan.

Kami hidup
di dalam sisa-sisa tahun itu,
di antara angka
yang saling menggigit.

Dan setiap kali kami menulis
1958,
sebuah ayah
jatuh lagi
ke dunia.

Hartono

Hartono bukan nama.
Ia adalah suara
yang jatuh ke dalam sumur
dan terus memantul
tanpa pernah sampai ke dasar.

Kami melempar “Hartono
setiap kali ingin memanggil ayah,
dan yang kembali
hanya gema
dengan bentuk wajahmu.

Di lemari,
namamu berubah jadi baju.
Di lantai,
namamu jadi debu.
Di mulut kami,
namamu jadi luka
yang belajar bicara.

Suatu hari
namamu berjalan sendiri
keluar rumah,
menyentuh pagar,
lalu lupa jalan pulang.

Sejak itu
kami tinggal
bersama sebuah kata
yang kehilangan tubuh.

Teka-Teki Silang

Ayah suka mengisi teka-teki silang
seperti mengisi hidup:
perlahan,
teliti,
dengan keyakinan
bahwa semua
pasti punya jawaban.

Kata mendatar,
kata menurun,
ia menyusun dunia
kotak demi kotak,
mencari arti
di ruang-ruang kecil.

Sekarang
kami yang kebingungan.
Sebab satu pertanyaan
tak pernah terjawab:
Ke mana ayah pergi
setelah kotak terakhir?

Dan mungkin,
di tempatmu kini,
kau sedang tersenyum
mengisi satu teka-teki besar
yang kami di sini
tak pernah diberi petunjuknya.

Mantra untuk Ayah

Ayah,
namamu
adalah tanggal
yang tak lagi ada di kalender
tapi terus berdetak
di dadaku.

Delapan kali
matahari melewatimu,
dan aku masih berdiri
di bayang pintumu.

Pulanglah,
meski hanya
sebagai sunyi.

Sebab sunyi pun
lebih hidup
daripada
kehilanganmu.

Selamat lahir
di sisi waktu
yang tidak bisa kami sentuh.

Kami di sini
masih
menyebutmu.

(Yogyakarta, Januari 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email