29 Agustus dan Puisi Lainnya

Ilham Oktafian

1 min read

29 AGUSTUS

Menjelang senja, udara terbatuk
Sisa matahari telah meninggalkan
warna merah di tiang besi dekat stasiun
Seorang lelaki tua yang tak tahu ia di mana bertanya
Apa yang akan terbakar
Apa yang lenyap
Apa yang terkapar

Malam mencoba datang
Tapi udara tak segera kembali ke bukit
Seakan warna sesak meninggalkan amarah di bawah rongga plasma
Kemudian
Dari istana raja
mereka menghitung bilangan maut
Di jalanan ini kita segera tahu:
ada sebuah republik yang gelap

(2025)

PALESTINA

Nafas Tuhan mengalir deras
melewati sulur zaitun di lembah al-Ludd
Sebuah firman yang terpatri
membawa barisan jauh melewati tembok Gaza
yang tergores darah
yang tersemat lukisan bunga leli

Sederet kata di sini
memimpikan kemerdekaan
meski rembulan akan bengkak
di pucuk puing Duhaisha
tak bergerak

Palestina,
gulungan ombak
merentang lima abad jauh:
Kita tak akan pernah takluk

(2025)

UNTUK BOCAH PEMULUNG

Tuhan yang berdiri di gerbang bangsal
Lihatlah keluar
Kepada bocah dengan warna belacu
yang mengais sore ini
Mengapa nasib adalah sedih
seperti batu tajam yang berkabung di bawah kakinya

Tuhan yang membawa gerimis hitam
Berikan kilaumu pada matanya
Sisakan sedikit kemalangan
Biarkan sejenak ia cium harum warna pelangi
Biarkan tubuhnya tak lagi berimpitan
dengan rel
dan trotoran – dingin.

(2018)

PASKAH (2)

Malam kian jauh
Ketika air mata telah menyembunyikan jam dari Tuhan
Kaupun tahu, di antara dingin yang memanjang
segelintir gerimis menjatuhkan kesedihannya
begitu nyaring dan ngilu

Di sini sayangku…
Keyakinan memaksa kita berpisah
Tapi
di belahan bumi yang lain
Aku, engkau senantiasa mengimani Misa Petani Nikaragua
juga sebuah kredo:
bahwa kemiskinan adalah bentuk kekerasan yang lain

Warna angin pagi kemudian datang perlahan
Membawa seorang malaikat tak bertubuh
dengan catatan kekal
tentang Sajak Paskah
Tiga pohon cemara
Tanda salib ibebat bunga
dan harum nafas yang belum rela kulepas

(2014)

PERTEMUAN, PERSELINGKUHAN

buat D

Di sebuah plasa dusun, kita dengarkan
suara kumbang hutan
dan pucuk randu alas yang saling bersentuhan
tapi kita akan berpisah setelah ini
Dan malam meninggalkan beku jadi lenyap

Aku tahu, sayangku
Cinta adalah butir-butir tak selesai
setelah kita saling selingkuh di bawah hujan
Bukankah kita duga
Harum desa yang lapang akan memaafkan dosa kita?

Kau segera berkata
kenangan seperti tersusun ke arah pelukan, juga kematian

Di sini
aku tinggalkan puisi
di dekat arus sungai
yang tenggelam terkena malam

(2013)

*****

Ilham Oktafian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email