Sawah Terakhir

Yunda Siti Nabila

2 min read

Sudah ribuan mongso kasanga¹ kulewati, dan mungkin ribuan lagi akan kulewati hingga anak cucuku nanti. Begitulah petuah leluhur: jaga warisan sawah yang memberi hidup bahkan ketika dunia berubah wajah.

Dari zaman ketika para preman masih belum mengenal kancut, sawah ini berdiri, hijau, sabar, setia. Dan siapa pun yang melanggar wasiat itu, katanya, akan kuwalat. Namun kini, setiap kali petuah itu terucap di lidahku, terasa getir—seolah tanah sendiri mulai kehilangan suaranya.

Sore itu aku berjalan di lorong menuju rumah. Di kiri-kananku, tembok-tembok beton menjulang seperti gigi raksasa yang menggigit tanah. Petak-petak hijau yang dulu meneduhkan mata kini tinggal kenangan.
Di ujung jalan, spanduk besar berdiri congkak: “Pembangunan Kawasan Industri Terpadu.”

Aku tertegun. Bagaimana mungkin mereka tega menukar tanah yang menghidupi generasi dengan uang yang sebentar saja habis?
Bagaimana mungkin orang lupa pada napas yang dulu membuat mereka hidup?

***

Preman-preman itu datang lagi. Tubuh mereka besar, penuh tato hewan bertaring, langkahnya seperti hendak menginjak apa pun yang berani berdiri di hadapan mereka. Di antara mereka ada orang-orang berjas, beraroma wangi tapi menebar busuk yang sama.

“Tanah ini sudah dibeli!” teriak satu, bertato naga di lengan. Matanya merah, telunjuknya menusuk ke arahku. “Kalian tak punya hak lagi di sini!”

Aku menutup hidung ketika aroma alkohol bercampur tengik menyergap. Lalu kujawab pelan, tapi tegas, “Lha kok ngotot to? Ini warisan, bukan barang dagangan. Sampean³ mending pulang sebelum kusumpahi tanah ini menolak langkahmu.”

Mereka tertawa. Tawa kosong, tawa orang yang sudah kehilangan malu.

“Warisan? Coba lihat, sampean! Air sudah dialihkan ke pabrik. Sawah kering. Sampean bisa apa, sendirian?”

Aku tak menjawab. Hanya membanting pintu.
Bukan karena takut, tapi karena marah—marah pada dunia yang membuat sawah menjadi asing di tanahnya sendiri.

***

Dulu sawah menghampar sejauh mata memandang.

Sekarang, aku hanyalah petani pinggir kota. Berebut air dan matahari dengan gedung-gedung yang tumbuh seperti jamur rakus. Sungai yang dulu menjadi nadi, kini disumbat beton. Matahari yang dulu memberkati panen, kini diserobot bayangan pabrik.

***

Pagi buta, embun masih menggantung di ujung daun ketika aku ke sawah. Tapi langkahku tertahan.

Hamparan padi yang kemarin hijau kini berubah seperti lapangan yang digigit api pelan-pelan. Daunnya merunduk kering, batangnya patah, bercak coklat merajalela.

“Wereng… wereng coklat,” bisikku. Bukan hanya padi yang digerogoti—tapi semangatku.

Suara mesin dari arah proyek industri menggema, menembus kabut pagi. Gunung Merapi di kejauhan tampak muram, seolah ikut berduka.

Suamiku, Wira, datang pelan. “Bu, mungkin sawah ini sudah nggak kuat. Airnya berkurang, pupuk mahal. Tanahnya pun sudah lelah diajak berperang.”

Aku diam. Yang terasa hanya getir di dada.

***

Menjelang siang, Sardi, tetanggaku, datang dengan napas tergesa.

Mbok Ambar, aku lihat semalam. Ada truk berhenti di pematang. Orang-orang itu menabur sesuatu di sawahmu.”

“Siapa?”

“Salah satunya preman pasar Gamping.”

Aku menatap sawah yang kering itu lama sekali. “Ya Gusti… kalau benar ini ulah mereka, berarti mereka menabur racun, bukan tanah.”

***

Sore harinya, tiga preman berdiri di pematang. Satu dari mereka maju, senyumnya sinis.

“Percuma, Mbak. Lihat tuh sawah, dimakan wereng! Kering! Kowe nggak bakal panen apa-apa.”

Aku menatapnya dengan api di dada. “Hee, bedhes⁴! Wereng bisa tak basmi. Tapi manusia rakus seperti kalian, semoga tanah sendiri yang menelannya!”

Mereka tertawa. Tapi aku sudah tak peduli.
Malam itu aku tidur di pematang. Di bawah langit yang tertutup asap pabrik, aku memeluk tanah yang dingin.

“Aku tidak akan meninggalkan sawah ini,” bisikku.

Jika besok ekskavator datang, biarlah tubuhku jadi pagar terakhir.

***

Pagi datang, membawa kabut dan bau solar dari kejauhan. Aku pulang sebentar, dan menemukan Ira—anak perempuanku—duduk santai, ponsel di tangan.

Cah wedok! Bukannya bantu, malah main hape wae!”

Ia kaget. “Mbok, kenapa to?”

“Kenapa? Sawah kita mau diacak-acak! Itu kenapa!”

Ira menarik napas panjang. “Mbok, buat apa kita bertahan? Sawah itu sudah dikepung tembok. Pabrik kanan kiri. Air dan cahaya sudah dicuri. Mbok kuat, tapi sawah kita sudah kalah.”

Aku tercekat. “Tapi iki wasiat mbahmu. Aku ingin seperti simbok—hidup dan mati di sawah ini.”

Ira menggenggam tanganku. “Mbok, zaman berubah. Simbok dulu hidup di langit terbuka. Sekarang langitnya sudah dijual orang.”

Wira keluar membawa teh. “Ira benar, Bu. Anak-anak kita sekolah biar tak lagi susah nggarap sawah. Kuwi hasil jerih payah kita dhewe. Mungkin waktunya kita legowo⁷.”

Aku menunduk. Air mata jatuh tanpa suara. Tapi di hatiku, ada satu suara yang tak padam:
jaga sawah ini sampai mati.

***

Malam terakhir, aku kembali ke sawah.
Kutatap padi yang kering, seperti tubuh renta yang berdoa. Angin malam menusuk tulang, tapi aku tak bergeser.

Jika besok pagi ekskavator datang, biarlah tubuhku jadi penghalang pertama. Biarlah matahari kalian pasung, air kalian sekat, hingga lumpur ini menelan kakiku.

Tanah ini tak akan kujual.

Sebab di setiap butir lumpurnya ada doa ibuku, jejak ayahku, dan napas keluargaku yang pernah aku larang untuk menyerah.

*****

Catatan Kaki:
¹ mongso kasanga: Musim kesembilan dalam kalender Jawa, menjelang kemarau, sering diiringi hama.
² sak penake dewe: Seenaknya sendiri.
³ sampean: Anda (bentuk sopan dalam bahasa Jawa).
⁴ bedhes: Monyet; umpatan kasar.
⁵ legowo: Ikhlas; berlapang dada.

Yunda Siti Nabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email