I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Tugas Besar

Rizal Nurhadiansyah

4 min read

Tugas itu namanya Kajian Isu Kontemporer. Dosennya, Pak Tirtayasa, seorang pria dengan kemeja flanel pudar dan kacamata tebal, bilang ini adalah kesempatan mereka untuk “bersuara”. Maya tidak terlalu peduli soal bersuara. Ia ingin sesuatu yang punya ‘gigi’. Sesuatu yang bisa ia bawa ke festival film kampus, mungkin menang, lalu namanya akan disebut-sebut.

Di ruang himpunan yang bau rokok dan kopi saset, ia dan timnya melempar ide. Rian, si sinematografer dengan rambut gondrong, mengusulkan anak jalanan. Klise, kata Maya. Adi, yang mengurus suara, menyarankan penggusuran di pinggir kota. Izinnya susah, sahut Rian.

Lalu Rian menjentikkan jarinya. “Buruh pabrik perempuan,” katanya. “Wajah mereka itu, lho. Otentik.”

Maya mengangguk pelan. Ia bisa membayangkannya: gambar-gambar slow-motion tangan-tangan yang kapalan, wajah lelah di bawah lampu neon, asap yang mengepul dari cerobong pabrik di kala senja.

Dramatis. Itu kata yang tepat.

Mereka menemukan Siti melalui bibi salah satu teman sekelasnya. Siti bekerja di pabrik garmen yang memproduksi pakaian untuk merek-merek besar. Usianya dua puluh lima, tapi garis di sekitar matanya membuatnya tampak lebih tua. Ia setuju untuk diwawancara.

“Buat apa, Mbak?” tanyanya saat pertama kali mereka bertemu di depan warung dekat kontrakannya. Tangannya memegang sekantong belanjaan berisi sayur dan sebungkus tempe.

“Biar suara kalian didengar,” kata Maya, mengulang kalimat yang ia dengar dari Pak Tirtayasa. Kalimat itu terdengar bagus.

Siti hanya menatapnya, seolah menimbang-nimbang sesuatu. Lalu ia mengangguk. “Ya sudah. Kapan?”

Proses pengambilan gambar dimulai. Maya dan kameranya menjadi bayangan Siti. Mereka merekam semuanya. Merekam saat Siti bangun pukul setengah lima pagi di kamarnya yang sempit, suara azan yang masuk dari jendela. Merekam saat ia menanak nasi untuk dirinya dan dua adiknya yang masih sekolah. Merekam saat ia berjalan kaki satu kilometer ke pabrik, kepalanya menunduk melawan debu jalanan.

Di dalam pabrik, dengan izin yang didapat susah payah, Rian mengambil gambar deru mesin jahit yang tak henti-henti. Wajah-wajah perempuan yang sama, membungkuk di atas pekerjaan mereka, gerakan mereka seperti mesin.

Siti berbicara di depan kamera. Awalnya ragu, tapi Maya terus mendorong. “Ceritakan saja apa adanya, Mbak Siti.”

Dan Siti bercerita. Tentang jam lembur yang tidak dibayar. Tentang target produksi yang tidak masuk akal. Tentang gaji yang selalu di bawah UMR dengan alasan performa. Suaranya datar, tanpa emosi, yang justru membuatnya terdengar lebih menyakitkan.

Kembali ke kampus, mereka menyunting rekaman itu di ruang komputer yang dingin. Teman-teman Maya yang melihat potongan-potongan kasarnya berdecak kagum.

“Gila, shot-nya dapet banget,” kata seseorang sambil menunjuk layar, ke adegan di mana Siti sedang makan siang dengan bekal nasi dan sepotong tempe.

“Ini raw, May. Jujur,” tambah yang lain. “Pasti menang ini.”

Maya tersenyum tipis. Ia merasa seperti seorang sutradara sungguhan.

***

Dokumenter berdurasi lima belas menit itu diberi judul Benang Kusut. Maya mengunggahnya ke kanal YouTube Badan Eksekutif Mahasiswa. Dalam tiga hari, video itu ditonton hampir seratus ribu kali. Angka yang cukup untuk membuat riak. Komentar-komentar bermunculan. ‘Semangat, Mbak-Mbak pejuang!’ atau ‘Miris lihatnya, pemerintah ke mana?’

Siti meneleponnya. “Banyak yang lihat ya, Mbak?” suaranya terdengar senang. “Teman-teman di pabrik juga pada nonton.”

“Bagus kan, Mbak? Biar semua orang tahu,” kata Maya. Jantungnya berdebar bangga.

Ia tidak tahu, di sebuah ruangan kantor ber-AC, seorang manajer pabrik juga menonton video itu. Wajahnya keras. Ia memanggil kepala personalia. “Cari tahu siapa perempuan ini. Panggil dia besok.”

Keesokan harinya, Siti dipanggil ke kantor. Manajer itu tidak marah. Ia hanya bertanya dengan suara ramah yang dibuat-buat.

“Siti, kamu baik-baik saja di sini? Tidak ada masalah, kan?”

Siti hanya mengangguk, jantungnya berdebar di tempat yang salah.

“Zaman sekarang apa-apa gampang tersebar,” lanjut manajer itu, matanya menatap lurus ke arah Siti. “Kadang ada yang salah paham. Bisa bahaya buat perusahaan. Bisa bahaya juga buat karyawannya.”

Siti keluar dari ruangan itu dengan kaki lemas. Ia mengerti. Itu adalah peringatan.

Maya, di sisi lain kota, sedang sibuk membalas komentar-komentar pujian di media sosial.

Telepon dari Siti datang malam hari. Suaranya parau, terdengar seperti dari tempat yang jauh.

“Mbak Maya.”

“Iya, Mbak? Kenapa?”

Hening sejenak. Maya hanya bisa mendengar suara napas Siti yang berat.

“Video itu… bisa dihapus, nggak, Mbak?”

Kening Maya berkerut. “Dihapus? Kenapa? Kan sudah bagus, banyak yang dukung.”

“Saya… saya ditegur, Mbak. Kayaknya ini bisa bahaya buat aku.”

Maya terdiam. Ia menatap layar laptopnya, tempat video itu masih terbuka. Ia melihat wajah Siti yang sedang diwawancara, tatapannya lugu dan penuh harap. Lalu ia memikirkan festival film, piala, pujian dari Pak Tirtayasa.

“Mbak, ini bukan cuma soal kamu,” kata Maya, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia maksud. “Kalau kita mundur sekarang, berarti mereka menang. Kamu dan teman-teman kamu yang rugi.”

“Tapi yang dipecat nanti saya, Mbak. Bukan Mbak.”

Kalimat itu telak. Tapi Maya mengeraskan hatinya. “Justru kalau kamu sampai kenapa-kenapa, itu akan jadi bukti yang lebih kuat lagi. Orang-orang akan lebih marah. Lagi pula, Mbak kan sudah setuju di awal. Berarti harusnya Mbak tahu risikonya, kan?”

Di seberang sana, sambungan telepon dimatikan begitu saja.

Maya mencoba menelepon balik, tapi tidak diangkat. Ia merasa sedikit bersalah, tapi perasaan itu cepat-cepat ia tepis. Ini demi kebaikan yang lebih besar, katanya pada diri sendiri.

Di kampus keesokan harinya, Pak Tirtayasa menepuk bahunya di koridor. “Saya sudah lihat karyamu, Maya. Berani. Kamu punya bakat. Calon jurnalis hebat.”

Pujian itu terasa hangat, menghapus sisa-sisa keraguan yang ada di hatinya.

***

Dua hari kemudian, salah satu teman Siti menelepon Maya. Namanya Wati. Suaranya panik.

“Siti nggak masuk kerja dari kemarin, Mbak. Dihubungi nggak bisa.”

Perut Maya terasa melilit. Ia segera pergi ke kontrakan Siti bersama Rian. Pintunya terkunci. Tetangga sebelah bilang Siti tidak kelihatan sejak pagi. Maya mencoba menelepon lagi. Tidak aktif.

Dengan perasaan cemas yang makin menjadi, Maya memberanikan diri datang ke pabrik saat jam bubar. Ia menunggu di warung seberang jalan, mencari wajah-wajah yang ia kenal dari rekaman videonya. Ia melihat Wati keluar dari gerbang.

Maya menghampirinya. “Mbak, gimana?”

Wati menatap Maya. Matanya menyiratkan campuran antara kasihan dan marah.

“Mbak nggak usah cari dia lagi,” kata Wati pelan.

“Kenapa? Dia di mana?” desak Maya.

Wati menghela napas. “Gara-gara video itu, Mbak. Kemarin ada rapat. Manajemen putar video itu di depan semua mandor. Mereka bilang Siti sudah mencemarkan nama baik perusahaan. Membocorkan rahasia.”

Jantung Maya serasa berhenti berdetak.

“Dia dipecat, Mbak. Langsung hari itu juga,” lanjut Wati. “Dan namanya sudah disebar. Dia masuk blacklist. Nggak akan ada pabrik di kota ini yang mau terima dia lagi.”

Dunia di sekeliling Maya menjadi senyap. Suara deru motor dan klakson mobil di jalan raya seolah menjauh. Ia hanya bisa menatap gerbang pabrik yang tampak seperti mulut raksasa yang baru saja menelan seseorang. Tugasnya. Kameranya. Keinginannya untuk dapat pujian. Semuanya baru saja melumat habis kehidupan seorang perempuan.

***

Aula kampus terasa sejuk oleh pendingin ruangan. Maya berdiri di atas panggung, lampu sorot menyilaukan matanya. Namanya baru saja dipanggil sebagai pemenang kategori Dokumenter Terbaik di Festival Film Kampus.

Ia menerima piala plastik yang berkilauan. Dekan menjabat tangannya. Tepuk tangan membahana. Ia tersenyum ke arah kamera, senyum yang terasa kaku seperti topeng. Blits kamera menyala, membekukan momen kemenangannya.

Di saat yang hampir bersamaan, di sebuah kontrakan sempit di pinggir kota, Siti sedang memasukkan sisa pakaiannya ke dalam kardus bekas mi instan. Dua adiknya duduk diam di pojok, menonton. Tidak ada yang bicara. Ia akan pulang kampung besok pagi, kembali ke desa yang sudah ia tinggalkan dengan harapan besar. Di kota ini, namanya sudah mati. Setelah selesai berkemas, ia mengambil sapu dan membersihkan lantai kamar itu untuk terakhir kali. Debu-debu beterbangan, lalu mengendap lagi dengan tenang.

Malam itu, Maya duduk sendirian di kamarnya yang remang-remang. Piala itu ia letakkan di atas meja belajar. Dingin saat disentuh. Ia membuka laptopnya dan memutar ulang filmnya. Benang Kusut.

Gambar-gambar bergerak di layar. Pabrik. Mesin jahit. Tangan-tangan yang cekatan. Lalu muncul adegan close-up wajah Siti. Matanya menatap lurus ke kamera, seolah menatap langsung ke arah Maya sekarang.

Suara Siti dari pengeras suara laptop terdengar jernih di kamar yang sunyi itu.

“Kami cuma ingin hidup layak, Mbak. Itu saja.”

Film selesai. Layar menjadi hitam.

Di permukaan gelap layar itu, Maya melihat pantulan wajahnya sendiri. Pucat dan kosong. Tugas Besarnya sudah selesai. Nilainya A. Penghargaan sudah di tangan. Tapi di sana, di layar yang mati itu, ia melihat wajah seorang perempuan yang masa depannya baru saja ia bunuh.

Piala itu berdiri di mejanya. Diam. Dingin. Dan terasa sangat berat.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizal Nurhadiansyah
Rizal Nurhadiansyah I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email