Malam-Malam Sunyi di Beranda

Fitri Rusandi

3 min read

Angin Jakarta jam segini selalu terasa seperti bisikan dari masa lalu. Malam-malam yang pekat, menabrak kaca jendela kamarku di lantai dua puluh tiga. Ia tak pernah benar-benar menembus, hanya memantulkan pantulan diriku yang sedang menatap kosong ke kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. Mataku, dan seolah seluruh ragaku, tertuju pada bayangan samar yang menari-nari di antara gedung-gedung pencakar langit. Bayanganmu, Wulan. Ya, hanya bayangan.

Aku palingkan wajah, lalu sandarkan punggung ke bantal yang sudah rata. Ruangan ini, sejak kau pergi, terasa lebih luas. Lebih sunyi. Lebih asing. Padahal, dulu, di ruangan yang sama ini, kita sering menghabiskan malam-malam dengan memandang bintang buatan yang kupasang di langit-langit. Kau suka. Katamu, itu seperti kita punya sepotong langit pribadi, di tengah-tengah lautan beton dan polusi. Sekarang, bintang-bintang itu masih menyala, tapi cahayanya hanya menyisakan dingin.

Aku mengambil segelas air dari nakas, lalu menyesapnya perlahan. Air ini, sama seperti hidupku tanpamu: tawar, hambar, dan rasanya hanya sekadar mengisi kekosongan. Kenapa, ya? Kenapa kita harus sampai di titik ini? Semua terasa begitu mendadak, seperti badai yang datang tanpa awan. Satu-satunya yang tersisa hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala, layaknya kaset rusak.

Apakah aku kurang memberi?

Apakah cintaku terlalu kencang, hingga kau merasa sesak?

Atau, apakah memang sejak awal, kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan bertemu, lalu sepakat menamai ‘cinta’ pada pertemuan itu?

Kepalaku terasa berat. Logikaku sudah lelah mencari jawaban. Yang tersisa hanyalah rasa—seperti lumpur yang mengendap di dasar sungai. Lumpur bernama rindu.

Wulan, aku masih ingat sekali hari itu, saat kita pertama kali bertemu di sebuah kedai kopi di bilangan Senopati. Sore itu, gerimis. Kau datang tergesa-gesa, dengan rambut yang sedikit basah dan kemeja putih yang basah di pundak. Matamu berbinar, menatapku dengan sorot yang entah kenapa, membuatku langsung merasa pulang. Sejak saat itu, setiap pagi, saat matahari baru mulai merangkak naik, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Rasanya seperti ada energi tak terlihat yang menarikku padamu, seperti dua magnet yang tak pernah bisa terpisahkan.

Kita lalu saling mengenal. Kau menceritakan mimpimu untuk membuka perpustakaan kecil, khusus untuk anak-anak di pinggir kota. Aku menceritakan mimpiku untuk menaklukkan dunia dengan kata-kata. Kita sama-sama suka hujan, kopi tanpa gula, dan obrolan tentang hidup yang tak pernah ada habisnya. Kita saling melengkapi, seperti dua sisi yang saling menggenapkan.

Tapi, lambat laun, kepingan itu mulai retak. Perlahan-lahan. Awalnya hanya celah kecil, seperti retakan rambut di dinding. Kau mulai sibuk. Aku juga. Jadwal kita mulai tak singkron. Kopi kita mulai dingin, dan obrolan kita menjadi hampa. Suatu sore, saat kita sedang duduk di kedai kopi yang sama, kau bilang, “Mas, aku rasa, kita sudah terlalu jauh.”

Aku tidak mengerti. Terlalu jauh? Sejauh apa? Bukankah seharusnya, dalam sebuah hubungan, kita memang harus melangkah maju? Bukan mundur?

Kau hanya tersenyum getir, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Lalu kau bilang, “Kita seperti dua bintang yang bersinar terang, tapi di orbit yang berbeda. Kita bisa melihat satu sama lain, tapi tak pernah bisa saling menyentuh.”

Saat itu, aku diam. Lidahku kelu. Aku ingin berteriak, “Tidak, Wulan! Kita bukan bintang. Kita manusia. Kita bisa saling menyentuh. Kita bisa saling memeluk!” Tapi suaraku tak keluar. Semuanya tertelan oleh kebisingan dari percakapan orang lain di sekitar kita.

Setelah hari itu, kau perlahan-lahan menjauh. Pesan-pesan singkatmu menjadi lebih formal. Panggilan teleponmu menjadi lebih jarang. Hingga akhirnya, suatu malam, kau mengirim pesan terakhir, “Mas, aku rasa, ini saatnya kita berhenti.”

Satu kalimat itu. Hanya satu kalimat itu, tapi rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk jantungku. Aku ingin marah. Aku ingin membencimu. Tapi, bagaimana bisa aku membenci seseorang yang pernah menjadi alasan senyumku?

Mengapa? Mengapa semua harus berakhir seperti ini, Wulan?

Aku masih tidak mengerti. Aku masih mencoba memahami. Mungkin, kau merasa tertekan? Mungkin, cintaku terlalu menuntut? Atau mungkin, di tengah-tengah kebahagiaan kita, ada sesuatu yang hilang? Aku berusaha keras mencari jawabannya, seperti seorang detektif yang mencari jejak, tapi yang kutemukan hanyalah puing-puing kenangan.

Kini, aku hanya bisa duduk di sini, di beranda kamarku, menatap ke arahmu. Bukan dirimu, Wulan, tapi ke arah langit yang sama, yang setiap malam kau tatap. Di bawah sana, orang-orang masih berlalu-lalang, mengejar mimpi-mimpi mereka. Aku juga. Aku masih mengejar mimpiku. Tapi, rasanya, mimpi-mimpi itu tidak lagi terasa sama, karena tidak ada lagi sosok yang bisa kuajak berbagi.

Mereka bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi, bagaimana mungkin waktu bisa menyembuhkan, jika setiap detiknya aku masih memikirkanmu? Setiap pagi, aku terbangun, dan yang pertama kali teringat di benakku adalah senyummu. Setiap malam, aku mencoba terlelap, dan yang terakhir kali terbayang di mataku adalah wajahmu.

Aku mengambil sebatang rokok, lalu menyalakan korek. Asap rokok itu mengepul, lalu perlahan-lahan menghilang di udara. Seperti dirimu. Kau datang, kau mengisi hidupku dengan warna-warni, lalu kau pergi, meninggalkan sisa-sisa yang kini perlahan-lahan memudar.

Aku memejamkan mata. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Kau pernah bilang, “Mas, jangan pernah berhenti menulis. Karena tulisanmu adalah cara terbaik untuk melarikan diri.”

Mungkin, kau benar, Wulan. Mungkin, dengan menulis ini, aku bisa melarikan diri. Melarikan diri dari kesunyian, dari kesepian, dan dari semua pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban. Mungkin, dengan menulis ini, aku bisa memproses semuanya. Menerima kenyataan, bahwa kita tidak lagi bersama.

Aku menoleh ke arah jendela, menatap bayanganku sendiri. Di sana, di pantulan kaca, aku melihat seorang laki-laki yang rapuh, yang sedang mencoba berdiri di atas kaki-kakinya sendiri. Ia tidak lagi sama dengan laki-laki yang dulu kau temui. Ia menjadi lebih pendiam. Lebih melankolis. Tapi, di mata itu, masih ada secercah harapan. Harapan, bahwa suatu hari nanti, semua luka ini akan sembuh. Bahwa suatu hari nanti, aku akan kembali menemukan diriku yang dulu.

Lalu bagaimana? Apakah aku harus melepaskanmu?

Melepaskanmu, seperti melepaskan layang-layang yang putus?

Rasanya, kata itu begitu berat. Tapi, mungkin, itu satu-satunya cara. Karena, bagaimanapun juga, aku harus tetap melanjutkan hidup. Aku harus tetap berjalan. Tidak bisa selamanya tinggal di masa lalu, meratapi sebuah kisah yang sudah selesai.

Aku menghela napas panjang. Kupegang dadaku, dan kurasakan detak jantungku yang masih berdetak. Ia berdetak, Wulan, ia berdetak. Dan selagi ia masih berdetak, itu artinya, aku masih hidup. Aku masih bisa merasakan. Aku masih bisa mencinta.

Mungkin, suatu hari nanti, aku akan bertemu dengan seseorang yang lain. Seseorang yang akan menyembuhkan luka-luka ini. Seseorang yang akan membuatku merasa utuh kembali. Tapi, kau harus tahu, Wulan. Kamu, akan selalu menjadi bagian dari ceritaku. Kamu, akan selalu menjadi kenangan manis, yang akan kusimpan di sudut hatiku yang paling dalam.

Selamat tinggal, cintaku. Semoga kau menemukan kebahagiaan, di orbitmu yang berbeda. Dan aku? Aku akan terus berjalan, di orbitku sendiri. Menunggu, hingga suatu hari nanti, dua bintang ini bertemu lagi. Atau, setidaknya, melihat satu sama lain, dan tersenyum, dari kejauhan.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fitri Rusandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email