Salah satu strategi perang paling merepotkan bagi pasukan militer berbagai negara di dunia ialah ketika menghadapi musuh yang bergerilya di desa, hutan dan gunung-gunung dengan membangun basis perlawanan secara sabar. Membentang dari Gunung Wilis, Gunung Sierra Maestra atau Gunung Jinggang. Banyak fakta yang tercatat oleh sejarah perihal keteguhan para gerilya di periode abad 20 seperti pasukan Mao Zedong, Che Guevara, Vo Nguyen Giap atau Jenderal Soedirman dengan anggota berjumlah minim bertahan di gunung menghadang lawannya dengan taktik hit-and-run karena kalah dari sarana persenjataan tetapi mampu merepotkan pasukan tentara reguler yang lebih unggul.
Pokok-pokok Gerilja (1953) karya Abdul Haris Nasution ketika masih berpangkat Kolonel, merefleksikan perang gerilya sebagai perang rakyat semesta menghadapi invasi musuh yang menyerang dengan kekuatan militer berskala besar sehingga taktik gerilya dipakai untuk bertahan. Konteksnya pada waktu Belanda dengan ditunggangi kekuatan negara-negara imperialis lainnya datang menginvasi Indonesia dan tidak mengakui kemerdekaan RI sehingga bergejolaklah agresi militer Belanda pada tahun 1947-1949.
Baca juga:
Perang gerilya pada dasarnya berpangkalan dalam rakyat dan rakyat membantu, merawat, dan menyembunyikan gerilyawan sehingga kalah atau menang dilihat dari sejauh mana rakyat menopang secara moral dan materiil perjuangan pasukan gerilya. Singkatnya, tulang punggung gerilya berada di rakyat. Menurut Nasution,
“Pada pokoknya rakyatlah yang menentukan perang atau damai dan rakyatlah yang memberikan tenaga dan biayanya. Rakyatlah yang melatih diri di masa damai dan mengerahkan pemuda-pemudanya dimasa perang dan menerima mereka kembali sebagai demobilisan sehabis perang. Inilah hakekat tentara rakyat (hal.106).”
Betapa signifikannya pertempuran ala gerilya ini sehingga tanpa bantuan rakyat tidak mungkin sebuah peperangan yang sedari awal tidak seimbang sanggup merepotkan musuh yang unggul dari segi persenjataan dan memiliki tentara reguler dalam jumlah besar. Meskipun begitu gerilya memiliki keunggulan dengan bertahan dan mundur untuk menghindari pemusnahan dari kekuatan musuh, mencari tempat dan waktu yang menjamin adanya kesempatan menyerang.
Bila tiba waktu yang tepat, gerilya mencari bagian-bagian terlemah dari musuh, seperti kedudukan di garis-garis perhubungannya, detasemen-detasemen, infanteri, sekelompok tentara yang lelah, untuk digempur dan dihancurkan kemudian mundur menghilang ke hutan menyelamatkan diri menghemat tenaga dan menghindari penghancuran oleh musuh yang lebih kuat. Mundur bukan berarti mengalah, itu dilakukan untuk memanjangkan nafas bagi pihak si kecil dalam operasi gerilya yang seringkali berjalan bertahun-tahun.
Nasution berpandangan bahwa gerilya adalah wujud perang si kecil terhadap si besar (hal.67). Ia menekankan bahwa pasukan-pasukan gerilya tidak boleh terikat pada satu tempat dan mempertahankan tempat itu hidup atau mati melainkan berpindah-pindah kesana kemari dalam suatu daerah tertentu.
Yang tidak kalah penting untuk membantu perjuangan bersenjata dari dalam hutan rimba adalah dengan menjalankan peperangan di segala front; politik, psikologis, dan sosial-ekonomi. Front politik berupaya mengurangi jumlah teman-teman si lawan dan memperbanyak musuh-musuhnya. Perang psikologis, meruntuhkan moril lawan dan dilain pihak memperteguh semangat rakyat sendiri. Sedangkan front ekonomi dengan cara menghancurkan alat-alat produksi musuh seraya mengusahakan perbaikan di pihak diri sendiri.
Satu dari keunggulan buku ini menjelaskan secara kontekstual dan mendalam terkait doktrin gerilya yang pernah dialami rakyat Indonesia dan beberapa negara dunia ketiga lainnya. Konsep gerilya tidak hanya bersifat militeristik tapi juga menyentuh aspek lainnya bahwa hubungan antara tentara dan rakyat tidak dapat dipisahkan. Kendati demikian terdapat beberapa kekurangan dari buku ini.
Pertama, minimnya pembahasan tentang peran angkatan laut dan udara. Pada saat agresi militer pertama dan kedua Belanda menguasai lautan dan mulai menggunakan pesawat tempur, buku ini menitikberatkan hampir seluruhnya pada gerilya di darat. Kedua, buku ini hampir tidak menyentuh konteks gerilya dalam keragaman kedaerahan di Indonesia, padahal strategi gerilya mestinya menyesuaikan medan dan psikologis masyarakat heterogen. Ketiga, buku ini tidak mendalami penyebab dan jalan keluar mengenai konflik mendalam antara TNI dan laskar-laskar gerilya yang populer di masyarakat pada saat itu. Nasution hanya menggagas secara militeristis bahwa rakyat harus dilatih dan dikoordinasi oleh tentara regular.
Pedoman komando teritorial inilah yang kelak menjadi cikal-bakal doktrin dwifungsi ABRI selama rezim Orde Baru yang mendudukkan tentara lebih dominan di segala sektor, hingga ke politik dan ruang sipil. Namun, yang membuat buku Pokok-Pokok Gerilja tetap menarik untuk dibaca hari ini bukan semata karena nilai sejarahnya, melainkan buku ini menyimpan warisan pemikiran militer yang membentuk fondasi tentara Indonesia modern dewasa ini. Gagasan Nasution tentang “perang rakyat semesta” bahwa segenap elemen masyarakat harus terlibat dalam pertahanan negara menimbulkan pertanyaan mendasar: sampai di mana batas antara mobilisasi rakyat demi pertahanan dan dominasi militer atas ruang sipil.
Baca juga:
Di tengah segala kelebihan dan kekurangannya, Pokok-Pokok Gerilja adalah dokumen penting yang memberi gambaran bagaimana militer Indonesia merumuskan jati dirinya pasca kemerdekaan. Ia bukan sekadar buku taktik berperang, tapi juga cermin dari pergulatan ideologis dan praktis tentang posisi militer di negeri yang baru saja merdeka.
Membacanya hari ini bukan hanya untuk mengerti masa lalu, tapi juga untuk memahami akar dari banyak persoalan sipil-militer yang masih terasa hingga kini. Terlepas dari itu, Nasution mungkin satu-satunya tentara paling produktif menulis buku hingga akhir hayatnya dan darinya kita bisa membaca gagasan-gagasan historiografi militer Indonesia di abad-20. (*)
Editor: Kukuh Basuki
