Menemanimu WFC
Duniamu sibuk me-layout
awareness. engagement. conversion.
sedang jiwamu meleyot
derita dari segala consideration:
banyak terlibat, tapi kesepian.
kelak kau akan lelah scroll
sebagai tanda
kau masih butuh degup dada orang lain. tapi,
copywriting adalah bahasa ibu
muara dari segala klik.
jangan lupa call to action-nya, sayangku.
ini zaman apa sebenarnya?
modern, katamu.
lalu kacamatamu memantulkan spreadsheet
& langit sore begitu jingga menemaram—
taklagi dibicarakan sepasang kekasih.
apakah puisiku butuh funnel marketing?
tidak, katamu
sebab puisimu B2B—
boredom to boredom.
–
Di Antara Sastra dan Linkedin
seorang laki-laki tersesat
di antara sastra & Linkedin
lowongan kerja gagal ia isi
sebab terlalu giat menulis
puisi. tapi,
dunia menuntutnya punya skill:
SEO content writing & copywriting
sedang Bukowski terlanjur membikin kepalanya pening
sehingga sulit ia belajar digital marketing.
sebab katanya, takut jadi ahli marketing,
& jualan stoak-stoik tahi kucing.
sorot mata lelaki itu menumpul
gagal mengubah waktu luang jadi uang
atau sejumput kebahagiaan
dan teori sastra mulai menoyor kepalanya sendiri:
kau bukan penyair,
hanya pasif agresif.
lalu dompet mengajarinya apa itu arti sastra:
‘melarat dengan gaya’
ia teringat César Vallejo,
tapi akhirnya ia lebih memilih belajar SEO
kelak, ia akan merapalkan pelan
lirik lagu The Smith:
‘I was looking for a job and then I found a job
and heaven know I’m miserable now‘
sambil tersenyum, barangkali menangis.
–
Semoga Kau Gagal Membaca Don Quixote
semoga saja
kau gagal membaca
Don Quixote de La Mancha
sampai jilid dua
sebab jika iya
waktu luangmu terlalu banyak
lalu tumbuh imaji konyol di kepala
tentang pedang-pedang kesatria
belingsatan memotong kincir raksasa
bersidekap kau meratap
savana dari segala derita
derita yang memecah ingin jadi enggan
keengganan jadi bulir air mata setangkup
air mata setangkup jadi keriangan yang sia-sia
keriangan yang sia-sia jadi kesia-siaan yang riang
lalu kepalamu mengumumkan berita penting:
telah patah perisai di dalam jiwa
terhunus pedang kesadaran
sehingga esok kau gontai
oleh rumah yang lenyap
& masa depan yang senyap
terombang-ambing dari hampir ke hampir
tapi langit hari ini terlalu biru untuk menyerah
sehingga kau tetap menatap lurus batas cakrawala
pura-pura percaya
pada esok yang dijanjikan
menghidupi kengerian dalam keriangan
tersungkur tapi bersyukur
kalah & pongah
lalu lupa lalu luka
–
Pak Raymond
Selamat pagi, Pak Raymond.
saya salah satu kandidat
yang menaruh harapan
& telah mengikuti interview
pada hari Senin lalu.
dengan hati yang enggan,
saya ingin menanyakan
apakah sudah ada perkembangan
terkait proses rekrutmen.
sebab saya ingin
berhenti berharap
& melanjutkan hidup
saya tahu,
dunia begitu sibuk
sehingga saya perlu menunggu.
tapi, Pak Raymond
hari ini tepat dua minggu
yaitu empat belas kali dua puluh empat jam
atau tiga ratus tiga puluh enam jam.
sedang gelagat masa depan
masih saja kurang enak dipandang.
begitulah, Pak Raymond
saya memang kurang pandai
menunggu.
terima kasih atas waktu
dan perhatiannya.
salam hangat.
–
Malam di Pondok Rosa
di ruang yang tak ber-wifi
kuputar Iranian jazz
yang disisipi iklan
dari zaman mahabeli
di ujung & pangkal lagu
memecah saxo & piano
menjadi melankoli & komoditi
ini ruang sewingit hutan di tepi pantai
barangkali banyak dedemit
memendarkan puspa-ragam suara
yang sukar dijinakan
seperti mulut para pelantur
yang tak pernah membaca
di ruang ini kubayangkan bahagia
lenyap dari segala pandang dan dengar
tempat belulangku mengapur
dalam kesunyian lorong waktu
tapi di sini cinta cuman desas-desus
tak terengkuh segala rangkul dan peluk
sedikit syahdu banyak dengkinya
naas dan penuh gigil
*****
Editor: Moch Aldy MA
