Sekolah Maut dan Puisi Lainnya

Fitri Rusandi

39 sec read

Seragam Pelindung 

​Di pundaknya ada pangkat yang gagah,
Di tangannya ada kuasa yang tumpah.
Katanya pelindung, katanya pengayom,
Tapi mengapa bocah empat belas tahun harus pulang ke liang yang ranum?

​Mungkin kurikulumnya memang beda,
Belajar cara memukul, bukan menjaga nyawa.
Selamat, Pak, targetmu tercapai hari ini:
Seorang pelajar mati, dan nuranimu resmi ikut mati.

Prestasi di Ujung Laras

​Gagah nian kau berdiri dengan bedil dan rompi,
Menghadapi musuh negara yang masih bau matahari.
Cukup satu hantaman untuk bungkam masa depannya.

Cukup satu amarah untuk hapus tawa ibunya.

​Hebat benar didikannya,
Mampu membuat maut datang lebih awal dari cita-cita.
Terima kasih sudah menjaga kami,
Dari bahaya seorang anak kecil yang tak punya apa-apa kecuali nyali.

Sekolah Maut

​Jangan ajari anakmu membaca buku,
Ajari dia cara menghindar dari sepatu bot yang kaku.
Sebab di negeri ini, seragam bukan lagi jaminan keamanan,
Melainkan ancaman yang bisa mencabut napas di tengah jalan.

​Empat belas tahun hidup, berakhir di tangan “pahlawan”,
Yang tangannya lebih ringan untuk menghajar daripada memberi bantuan.

Tidur yang nyenyak, Nak,
Di sana tidak ada polisi yang lupa cara menjadi manusia.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fitri Rusandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email