Aku tidak iri dengan pria tampan; aku tidak iri dengan pria kekar; aku tidak iri dengan baju mahal. Aku hanya iri dengan rumah mewah.
Dua hal itu memang sulit kumiliki. Urusan rumah jauh lebih menyakitkan. Pagar tingginya membuat maling sulit masuk dan dengan pilar-pilar besar membuat rasa banggaku juga menggelembung. Sial. Kapan aku bisa kaya?
Teman-temanku kesal dengan hal yang sama. Dan tiba-tiba aku teringat pada sebuah pesan dari Ibu yang mengatakan motorku lecet karena dilukis dengan batu; ia mengirim foto motorku; aku marah dan segera cabut dari sana.
Aku mendapati motor itu jadi berbeda sekali. Goresan panjang putih menggurat motor itu. Ada ratusan garis dan itu membuat motorku seperti buku gambar anak-anak.
Aku kesal karena dua alasan. Pertama, motor itu masih baru dan cicilannya sedang jalan. Kedua, aku tidak hanya malu membawa wajahku, tetapi motor itu juga. Aku tanyakan pada Ibu siapa pelakunya, dan dia menunjuk anak kecil di sebelah rumah kami.
Mereka adalah orang baru; sekitar sebulan baru mengontrak rumah di sini. Kontrakanku dan mereka terpisah 3 rumah kontrakan lain. Dan biasanya anak kecil sering ribut-ribut di depan rumah, tetapi tidak ada yang berani bermain di depan kontrakanku. Kata Ibu, mereka takut aku akan membenamkan kepala anak-anak itu lalu kepala meraka tumbuh menjadi pohon manusia. Dengan niat—ingin membenam kepala anak itu— aku menghampiri rumahnya.
Aku berteriak. Tidak ada jawaban. Aku menggedor pintu. Tidak ada sahutan.
Saat aku akan beranjak dari sana, seorang pria tampan membuka pintu. Di belakangnya ada seorang wanita cantik dan aku sempat menelan tenggorokan saat melihat mereka. Lalu kusampaikan saja kedatanganku pada mereka.
“Aku mohon maaf. Pertama-tama aku yakin anak kecil seperti mereka tidak tahu mana yang benar mana yang buruk. Kedua, aku akan mengganti rugi jika memang itu merugikan anda,” kata si Ayah yang tampan dan si Ibu yang cantik hanya menurut.
Kemudian ia mendorong dua anaknya dan menyuruh mereka meminta maaf. Lalu aku pulang dengan perasaan kesal dan Ibu ikut terbakar juga.
Besoknya Ibu mengirim pesan lagi. Isinya rupa-rupa tindakan anak-anak pria tampan itu: kaca rumah kami pecah, di halaman depan mereka buang air sembarangan, dan ada sampah makanan yang berserakan di teras kami.
Aku dan Ibu datang ke RT dan menyampaikan maksud kami. Ibu RT menyambut kami dengan hangat dan mempersilakan kami duduk.
“Mereka sudah meminta maaf. Soal kesalahan-kesalahan yang anda ceritakan juga mereka sudah meminta maaf, dan Ibu anda juga seharusnya sudah tahu.”
Kami pulang dan sejak itu Ibu tidak mau keluar rumah lagi untuk waktu yang sangat lama. Aku memendam kesal pada keluarga itu dan mendoakan yang tidak-tidak. Pada sore hari, rasa kesalku semakin menggelembung saat aku melihat mereka sedang asyik bermain bersama.
Si Adik sering minta dipeluk si Kakak. Sementara si Kakak dicium oleh si Ibu, si Ayah memeluk mereka. Dalam hatiku, semoga mereka hancur dan menderita seumur hidup.
Di tempat kerjaku, orang-orang sedang sibuk dengan urusan pulang kampung. Mereka menyebut nama kota yang jauh dari sini: Malang, Solo, dan Garut. Dan mereka sedang mendiskusikan upaya-upaya yang tepat menangkal maling.
Temanku yang tinggal di Jakarta mengatakan rumahnya memang serupa kampung. Di daerah rumahnya masih ada sawah, ayam, dan pohon-pohon yang semuanya mirip di kampung. Termasuk juga soal maling; mereka nekat; saat siang juga tetap beraksi.
Maka waktu matahari sedang tumbuh tinggi-tingginya; saat orang-orang kegerahan; dan saat kulit mereka terbakar; seorang maling sedang menghajar satu keluarga.
Mereka luka-luka dan dibawa ke rumah sakit. Si Ayah patah lengan, si Ibu patah kaki, si anak yang paling tua gegar otak, dan si anak paling kecil lebam-lebam. Sejak saat itu, kata temanku mereka sudah pindah dari situ.
Saat pulang kerja aku mendengar cerita yang sama dari Ibu mengenai tetangga baruku itu. Aku juga mendengar cerita yang sama dari Ibu RT. Dan mulai dari peristiwa itu, aku tidak pernah melihat kakak-adik itu berlarian dan pasangan yang tampan dan cantik itu bertindak saling romantis.
Mereka dengan perlahan dan penuh luka-luka membimbing Ibunya yang duduk di kursi roda. Seminggu berikutnya si Ibu sudah mulai pulih dan hanya dibantu dengan tongkat saja. Dan pada saat aku mengintip mereka, senyumku mulai merekah, dan anak-anak itu mulai bermain-main lagi. Meski tidak senakal dan sekotor sebelumnya, anak-anak itu tetap lincah.
Karena merasa pedih aku memilih tidur sejak pagi; tiba-tiba pintu kontrakan diketuk. Seorang wanita muda yang cantik, anak Ibu RT, datang padaku dengan sebuah amplop. Aku tanya apa tujuannya dan wanita cantik itu mengatakan sedang mengumpulkan uang. Lalu aku melihat lembaran uang itu yang lusuh dan kotor.
“Sudah berapa jumlahnya?”
“Lima ratus ribu,” sahutnya.
“Itu tidak cukup.”
“Aku sudah berkeliling dan ini adalah tujuan terakhir.”
Maka aku mengajaknya berkeliling lagi. Menyusuri setiap rumah di RT-ku, menggedor pintu, menjelaskan maksud, dan merayu. Karena masih merasa tidak cukup aku dan wanita itu menyusuri setiap rumah di RW-ku, menggedor pintu menjelaskan maksud, dan merayu. Kemudian aku melakukan yang sama untuk seluruh kelurahan, kecamatan, dan seisi kota. Kami mengumpulkan banyak uang, banyak sekali, dan kuharap itu cukup.
Wanita itu kelelahan; aku menyuruhnya pulang. Sebelumnya kami menuju bank, menukar uang itu dengan yang lebih baru. Sementara wanita itu berkata dimasukkan saja ke rekening dan aku menurut. Dari uang itu aku meminta pada anak Ibu RT untuk membelikan mereka sepeda motor.
“Kemarin anak-anak mereka merusak sepeda motorku,” kataku.
“Jadi ini untuk mengganti milik anda?”
“Bukan. Mungkin mereka ingin punya juga. Mungkin anaknya ingin menjadi pembalap, entahlah. Yang pasti, mereka menginginkannya.”
Esoknya keluarga itu datang menemui rumahku dan melakukan protes. Mereka akan mengganti uang pembelian motor itu dan kujawab itu bukan uangku. Lalu mereka bertanya dengan apa mereka bisa menggantinya. Dan aku menjawab tidak perlu diganti.
Si Ayah pulang dengan wajah bersungut-sungut sementara si Anak langsung berlari menuju motor baru mereka dan membunyikan klakson tanpa henti. Klakson itu terus berbunyi sepanjang hari, mulai pagi sampai malam. Siang hari, motor itu tidak berbunyi karena si Ayah berangkat bekerja. Setiap pulang, dari cerita yang kudengar, kedua anak itu akan kegirangan, berlari ke arah ayahnya, dan memeluk mereka. Setelah itu mereka akan membunyikan klakson.
Tapi suara klakson itu hanya terdengar selama satu minggu, setelah itu aku tidak mendengar apa-apa; anak-anak masih sering bermain, tetapi mereka melewati rumahku; aku tidak pernah melihat keluarga itu lewat, tetapi teman-temanku masih sering datang, aku merasa kesepian, tapi tidak masalah, tapi ada sedikit kesal; ibu memilih pulang kampung karena malu; dan kata RT keluarga itu juga pindah entah ke mana, aku menanyakan soal anaknya juga, ia menjawab kuliah di luar kota. Aku kesepian; aku merindukan suara klakson itu. Aku berkaca di cermin yang menggantung di dinding yang berlumut hitam: jelek sekali wajah ini.
*****
Editor: Moch Aldy MA
