Lebih banyak membaca dan merenung.

Lawakan di Udara

Boiman Manik

4 min read

Aldo tadinya duduk melamun menatap jendela pesawat sebelum tersentak oleh suara pilot yang berteriak ketakutan karena melihat laut di depan mata. Ketakutannya tercampur dengan teriakan-teriakan penumpang lain. Padahal sebentar lagi Aldo berkemungkinan mengakhiri masa lajangnya karena ia sudah mendapatkan nomor telepon seorang wanita yang duduk di sebelahnya. Aldo meremas tangannya seolah-olah itu akan membuat pesawat terbang normal. Wanita yang disebelahnya, Nita, sudah lama pingsan tetapi mata dan mulutnya terbuka. Aldo masih tertahan dalam kesadaran karena ingin menjaganya seolah ia adalah seorang Superman.

Aldo merasa Nita dan wanita-wanita lain jauh dari jangkauannya. Beruntung wanita itu mau berbicara dengannya dan seketika Aldo jatuh cinta. Selain ibu dan adiknya, hampir mustahil Aldo berani berbicara dengan wanita lain. Mulutnya terbuka, tetapi hanya udara kosong dan bau busuk yang keluar. Ia akan sering menggaruk rambutnya, berbicara sendiri, dan menggoyang-goyang kaki. Jika sedang tidak beruntung, Aldo bisa saja akan buang air besar dalam bentuk cair dan itu bisa terjadi belasan kali dalam sehari hanya karena seorang wanita duduk di sebelahnya.

Ini pernah terjadi beberapa kali. Waktu Aldo baru pertama kali mimpi kotor, besok paginya ia bisa jatuh cinta pada seorang gadis. Ia merasa lonjongan rahasia di dalam celananya bisa digunakan tidak hanya untuk buang air kecil saja. Melalui itu, Aldo yakin bisa membuat seorang wanita jatuh cinta padanya. Maka, ia pun menyatakan cintanya pada seorang gadis yang berada satu kelas dengannya.

“Setidaknya lihatlah perutmu itu!” 

Wanita itu berkata sambil tangannya memilin pinggang dan merajut amarah. Aldo, di sisi lain, hanya terdiam. Ia bingung mengapa cintanya ditolak, sementara ia yakin kucing betina akan mudah menerima jantan mana saja saat musim kawin. Ia memandang dari atas kacamata dengan cara menatap yang asing pada gadis itu dan langsung saja ia ditampar.

Dengan gelagat demikian, tamparan itu jelas tidak jadi yang terakhir. Kekasih dari gadis itu juga ikut menamparnya, tetapi dengan tangan yang dikepal. Ia, seperti bangkai, dikerubungi oleh banyak orang. Celananya dibuka, cawatnya dikeluarkan, dan dijadikan seolah-olah bola. Orang-orang menendang cawat itu ke mana-mana, tetapi Aldo hanya bisa menekuk lututnya, melipat tangan di atasnya, dan membungkam wajahnya. 

Cawat itu kemudian dikembalikan, tetapi mereka memaksa Aldo untuk menggunakannya di luar celana. Aldo menurut saja, ia takut jika masih harus menerima pukulan demi pukulan.

“Nah, dengan begini kau sudah segagah Superman!”

“Tetapi, tidak ada Superman yang menyerupai babi,” wanita itu menyahut omongan temannya tadi. 

Sekolah itu berbentuk persegi dengan tiga tingkat. Di tengahnya ada lapangan basket dan di sanalah Aldo pun dikeroyok oleh suara tawa. Tidak hanya perundungnya, tetapi oleh seisi sekolah ikut memadu suara demu memaki Aldo. Ketika suasana mulai rusuh, guru hanya mengusir-usir mereka seolah-olah tikus yang ribut berebut makanan di tong sampah.

Aldo masih ketakutan dan tak berani pulang. Ia hanya menangis tetapi tidak ada air mata yang keluar karena sudah habis. Ia tak berani lagi datang ke sekolah, dan sejak saat itu Aldo hanya menerima guru yang datang ke rumahnya.

Demikianlah Aldo jadi sulit dekat dengan seorang wanita. Waktunya habis di rumah hingga lulus sekolah. Pada saat kuliah, Aldo memiliki kesempatan curi-curi perhatian seorang gadis. Namun, ia masih sama pengecutnya setelah cawatnya dibuat serupa pahlawan beberapa tahun lalu. Ia mengurungkan hasratnya dan membenamkan itu. Sisa-sisa tenaga untuk jatuh cinta ia salurkan dengan bercakap-cakap bersama akal imitasi.

Olahraga untuk mengecilkan perut buncit dalam waktu satu bulan. Aldo mengetik perintah itu dan bermunculan banyak tawaran. Dari sekian banyak tawaran itu, Aldo meminta penjelasan lengkap, dan mesin itu meminta Aldo untuk memberi informasi pendukung lainnya dan Aldo memasukkan kata Superman.

Aldo menuruti celetukan mesin itu dengan setia. Kegiatan yang paling ia suka tentu lari pagi, tetapi itu banyak menghabiskan napasnya. Aldo hanya mampu lari selama dua menit, dan sisanya ia habiskan dengan berjalan kaki. Dalam waktu satu bulan, perut Aldo tidak mengecil tetapi ia bisa bergerak dengan napas yang lebih panjang. Ia menjadi tidak mudah lelah dan memutuskan untuk mencoba naik gunung.

“Pecundang seperti kita pasti bisa dapat satu gadis,” kata temannya.

“Aku tidak yakin.”

“Tenang saja. Orang-orang ini biasanya adalah orang baik. Asal kau tampak maskulin.”

Temannya berjanji Aldo setidaknya bisa berkenalan dengan satu gadis saat naik gunung. Kuncinya hanyalah berada pada jangkauan pandangan wanita incarannya sepanjang waktu, dan bersedia secara mendadak jadi babu.

Aldo terbenam dalam pikiran mengenai perkataan temannya tadi. Maka ia membuka pembicaraan dengan akal imitasi: bagaimana menjadi pria maskulin. Lewat serangkaian rekomendasi yang muncul, Aldo sadar bahwa bau badannya sangat busuk dan ketika kesadaran itu muncul ia merasa ingin muntah. Aldo dengan menggebu-gebu mengetik kembali: apa merek parfum terbaik untuk pria?

Ia sudah siap untuk berangkat satu minggu lagi, dan sudah membeli baju yang membuatnya tampak maskulin, potongan rambut maskulin, parfum yang maskulin, dan tetek bengek lainnya yang membuat dia tampak maskulin. Temannya datang dan memberitahu Aldo wanita mana saja yang ikut.

“Nah, kau ingin duduk dengan siapa?” Temannya bertanya pada Aldo yang sedang kebingungan melihat banyak wanita cantik di sana dan dia hanya menjawab terserah. Temannya kesal dan memaksa Aldo untuk menentukan pilihan. Maka Aldo memilih Fatira. Temannya setuju dan bangku pesawat diatur sedemikian rupa oleh mereka berdua.

Fatira gadis yang manis, mulutnya manis, dan kulitnya sewarna bronis. Aldo tidak begitu kenal, tetapi ia yakin hanya dia yang mungkin mau mengajaknya bicara. Suatu ketika Fatira membawakannya makanan. Wanita itu beralasan ibunya terlalu banyak memasak dan tidak sanggup menghabiskan semuanya. Aldo dengan senang hati menerimanya, dan pada malam hari ia tidak berhenti tidur. Paginya Aldo bangun dengan senyum aneh dan sadar ia sedang jatuh cinta.

Aldo sudah tiba lebih dulu di bandara. Teleponnya berbunyi dan itu adalah temannya. Aldo diberi tiket baru karena ternyata ia salah pesan. Ia akan ada di pesawat yang berbeda dengan teman-temannya, dan Aldo seketika memaki temannya itu. Mau tidak mau Aldo naik ke pesawat yang lain tanpa bertemu dengan mereka.

Ia duduk sesuai nomor kursi dan di sebelahnya adalah seorang wanita cantik yang seketika membuat rasa kesalnya meluap berganti gugup. Aldo melihatnya sedang membaca majalah yang tersedia di sana sambil minum es kopi. Kulitnya begitu putih dan sangat kontras dengan rambutnya yang serupa jelaga hitam yang pernah dilihat Aldo saat memanggang daging bersama orang tuanya. Aldo bersikap awas, dan wanita itu melempar senyum yang membuatnya yakin bahwa bidadari juga perlu naik pesawat.

Wanita itu begitu ramah dan memulai obrolan dengan Aldo. Maka percakapan mereka terasa kering karena Aldo tidak berpengalaman berbicara dengan perempuan selain ibu, adiknya, dan mungkin Fatira meski itu terjadi tidak sampai satu menit. Wanita itu juga tampak menyerah dan ingin menghentikan basa-basi yang biasa dilakukan olehnya.

Aldo membuka ponselnya, dan memulai percakapan dengan akal imitasi: bagaimana cara agar bisa mengobrol panjang dengan wanita yang baru dikenal? Setelah itu, Aldo mengarahkan suaranya padanya. Dengan antusiasme yang sungguh-sungguh wanita itu merasa senang perjalanannya di dalam pesawat tidak akan gersang. Mereka akhirnya saling bertukar nama, nomor ponsel, dan cerita-cerita lainnya. Keseruan itu berlangsung selama satu jam, dan kurang lebih lima belas menit lagi pesawat akan tiba di tujuan.

“Aku ingin jalan-jalan ke tempat lain,” setelah lama berdiam Aldo dengan berani mengutarakan keinginannya.

“Perjalanan mendakimu?”

“Sudah tidak menarik.”

Nita bingung dengan Aldo dan ia semakin bingung karena pria itu akan ikut perjalanannya ke pantai. Wanita itu menyajikan seribu satu alasan untuk menolak ajakan Aldo dan pria itu mengerti. Aldo termenung sesaat dan ia menatap awan putih di balik jendela pesawat. Awan itu tadinya hanya gumpalan kecil, tetapi semakin lama gumpalannya semakin besar.

Aldo menikmati keheningan yang mendadak datang itu. Ia merasa memang begini yang paling nikmat. Jendela pesawat sudah sepenuhnya tertutup awan putih, guncangan demi guncangan mulai muncul. Semakin lama guncangan semakin keras seiring warna awan berubah menjadi abu-abu. Saat awan berubah menjadi hitam, orang-orang mulai berteriak keras. Pada saat guncangan semakin kencang, teriakan itu hilang. Sebelum matanya menggelap, Aldo berharap ada Superman lewat. Namun saat mengingat itu, ia jadi kesal, dan segera matanya tertutup.

Boiman Manik
Boiman Manik Lebih banyak membaca dan merenung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email